Heidi Klum Jadi ‘Manusia Batu’ di Met Gala 2026

Dengan kehadirannya sebagai patung marmer, Heidi Klum sekali lagi menunjukkan komitmen totalnya terhadap tema acara, memastikan bahwa namanya akan terus dikenang dalam sejarah karpet merah Met Gala.
WWW.JERNIH.CO – Penampilan Heidi Klum di Met Gala 2026 kembali membuktikan mengapa ia dijuluki sebagai “Ratu Kostum.” Tahun ini, ia melampaui batas-batas fesyen konvensional dengan bertransformasi menjadi sebuah patung marmer hidup yang menakjubkan sekaligus surealis.
Gaun dan tampilan patung yang dikenakan Heidi Klum merupakan karya dari Mike Marino, seorang seniman efek khusus (special effects artist) ternama dari Proren FX. Mike Marino bukanlah orang baru bagi Heidi; ia adalah sosok di balik kostum-kostum Halloween ikoniknya, seperti kostum cacing raksasa dan E.T.
Untuk Met Gala 2026, Marino menciptakan prostetik wajah dan tubuh yang memberikan ilusi seolah-olah kulit Heidi adalah batu marmer yang dipahat. Ia mengenakan gaun dari bahan lateks dan spandeks yang teksturnya menyerupai plester antik, lengkap dengan detail lipatan kain yang tampak keras namun tetap memungkinkan sang supermodel untuk bergerak.
Desain ini berakar kuat pada sejarah seni klasik. Marino dan Klum mengambil inspirasi dari teknik pahatan abad ke-18 dan 19, khususnya karya-karya yang menggunakan teknik “marble veil” atau kerudung marmer yang tampak transparan meski terbuat dari batu solid.
Inspirasi utamanya berasal dari The Veiled Christ karya Giuseppe Sanmartino (1753) dan The Veiled Vestal karya Raffaele Monti (1847).
Alasan pemilihan konsep ini adalah untuk menjawab tema Met Gala 2026, “Costume Art,” dengan dress code “Fashion Is Art.” Heidi ingin menghapus batasan antara pakaian dan benda seni museum, menjadikan dirinya sendiri sebagai artefak yang berjalan di atas karpet merah.
Melalui penampilan ini, Heidi menyampaikan pesan tentang keabadian dan metamorfosis. Dengan mengubah tubuhnya menjadi “batu,” ia menyoroti bagaimana fesyen bisa menjadi bentuk seni yang permanen dan monumental, bukan sekadar tren yang cepat berlalu. Ia juga mengeksplorasi konsep kecantikan yang tidak konvensional, di mana identitas dirinya sengaja disamarkan di balik lapisan prostetik yang kaku untuk memberikan ruang bagi interpretasi seni yang lebih murni.
Met Gala (atau Metropolitan Museum of Art Costume Institute Benefit) adalah acara penggalangan dana tahunan untuk Costume Institute di New York City. Ajang ini ditujukan untuk mengumpulkan dana untuk operasional departemen kostum museum tersebut.
Acara ini dianggap sebagai “Malam Terbesar di Dunia Fesyen” atau “Piala Oscar-nya Fesyen.” Dipimpin oleh editor Vogue, Anna Wintour, setiap tamu yang hadir harus melalui seleksi ketat. Setiap tahunnya, acara ini mengusung tema tertentu yang menentukan dekorasi pameran sekaligus kode busana para selebriti yang hadir.(*)
BACA JUGA: Putri Ariani Pemenang AGT 2023 dan Duet Bersama Bono U2 : Sebuah Prediksi
