
Langkah besar ini memicu perdebatan hangat di kalangan pengamat militer. Pemerintah berargumen bahwa kapal induk ini vital untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP), seperti bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana (HADR) di wilayah kepulauan Indonesia yang rawan bencana.
JERNIH – Sejarah baru pertahanan maritim Indonesia tengah ditulis. Setelah China, India, dan Jepang, Indonesia kini berada di ambang pintu untuk menjadi negara Asia keempat yang mengoperasikan kapal induk. Langkah ambisius ini menyusul rencana akuisisi kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi milik Italia.
Kabar ini dikonfirmasi Kepala Biro Humas dan Informasi Setjen Kemhan RI, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, pada Jumat (13/2/2026). Ia menyatakan bahwa kapal tersebut merupakan “hibah” dari pemerintah Italia. Meski berstatus hibah, pemerintah Indonesia tetap mengalokasikan anggaran khusus untuk proses retrofitting (peremajaan) agar teknologi kapal tersebut sesuai dengan kebutuhan operasional TNI Angkatan Laut (TNI AL).
KSAL Laksamana Muhammad Ali memberikan target yang cukup berani. Kapal induk pertama buatan Italia ini diharapkan sudah bersandar di perairan Indonesia sebelum 5 Oktober 2026, tepat pada peringatan HUT TNI ke-81. “Proses Garibaldi masih berjalan. Kami berharap kapal ini tiba sebelum hari ulang tahun TNI,” ujar Laksamana Ali.
Jika terealisasi, ITS Giuseppe Garibaldi—kapal seberat 10.300 ton yang mulai masuk masa cadangan di Italia sejak Oktober 2024—akan menjadi bintang utama dalam parade militer dan sail past terbesar di Asia Tenggara tahun depan.
Walaupun termasuk kapal angkut tua yang dibangun pada era 1980-an, Garibaldi memiliki fleksibilitas tinggi. Untuk platform udara, Garibaldi mampu mengoperasikan helikopter dan pesawat fixed-wing dengan kemampuan lepas landas pendek dan mendarat vertikal (STOVL).
Sementara untuk alat utama sistem persenjataan (Alutsista) pendukung, tersiar kabar bahwa kesepakatan ini mencakup transfer beberapa jet tempur AV-8B Harrier II dari Italia. Kapal ini diproyeksikan sebagai platform pengangkut helikopter, serta berpotensi menjadi pangkalan bergerak bagi drone tempur canggih seperti Bayraktar TB3.
Langkah besar ini memicu perdebatan hangat di kalangan pengamat militer. Pemerintah berargumen bahwa kapal induk ini vital untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP), seperti bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana (HADR) di wilayah kepulauan Indonesia yang rawan bencana.
Namun, beberapa ahli memberikan catatan kritis. Kritikus menilai kapal induk dirancang untuk perang, bukan bantuan bencana. Kapal LPD (Landing Platform Dock) milik Indonesia saat ini dinilai lebih efektif karena mampu masuk ke perairan dangkal.
Pada 11 Februari 2026, TNI AU sukses melakukan uji coba mendaratkan jet tempur F-16 dan pesawat Super Tucano di jalan tol Trans-Sumatera, Lampung. Wamenhan Marsdya TNI (Purn.) Donny Ermawan Taufanto menyebut jalan tol sebagai “landasan darurat” yang tersebar di 38 provinsi.
Pengamat militer Collin Koh menulis di X mengungkapkan rencana ini. “Memiliki jalan tol dan jalan raya yang tak terhitung jumlahnya yang dialokasikan sebagai landasan pacu militer darurat di seluruh kepulauan lebih masuk akal secara strategis dan operasional daripada kapal induk,” katanya.
Akuisisi ini dipandang sebagai tonggak sejarah modernisasi kekuatan inti minimum (Minimum Essential Force) Indonesia. Dengan anggaran pinjaman luar negeri hingga USD 450 juta yang disetujui pada September 2025, Indonesia menunjukkan keseriusannya untuk tidak hanya menjadi penonton di tengah perlombaan kekuatan maritim Indo-Pasifik.
Jika Giuseppe Garibaldi resmi mengibarkan bendera Merah Putih, Indonesia tidak hanya sekadar bergabung dengan “Klub Elit Pemilik Kapal Induk”, tetapi juga mengirimkan pesan tegas mengenai kedaulatan maritimnya di kawasan.






