
- Kantor berita Tasnim melaporkan adanya “gelombang antusiasme” besar dari rakyat Iran untuk mendaftar menjadi relawan perang.
- Otoritas keamanan Iran secara resmi menurunkan usia minimum rekrutmen menjadi 12 tahun melalui kampanye bertajuk “For Iran”.
JERNIH – Eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak paling krusial. Menanggapi ancaman invasi darat dari pemerintahan Donald Trump, Teheran mengklaim telah memobilisasi lebih dari satu juta personel untuk mempertahankan kedaulatan mereka. Tak hanya tentara profesional, garda keamanan kini mulai melibatkan remaja di bawah umur untuk menjaga pos-pos pemeriksaan di jantung ibu kota.
Situasi ini dipicu oleh deadline lima hari yang diberikan Trump agar Iran membuka kembali Selat Hormuz, atau AS akan meluncurkan operasi darat yang diduga menyasar pusat industri minyak di Pulau Kharg.
Kantor berita Tasnim melaporkan adanya “gelombang antusiasme” besar dari rakyat Iran untuk mendaftar menjadi relawan perang. Seorang sumber militer tingkat tinggi menyebutkan bahwa selain satu juta tentara yang sudah siaga, terjadi lonjakan pendaftar muda yang ingin bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
“AS ingin membuka Selat Hormuz dengan taktik bunuh diri? Silakan saja,” ujar sumber tersebut. “Kami siap untuk skenario itu, dan memastikan Selat tetap tertutup.”
Komandan Pasukan Darat Iran, Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi, memberikan peringatan keras bahwa perang darat akan menjadi “neraka” yang jauh lebih mahal bagi musuh. Ia menegaskan bahwa setiap pergerakan 50.000 pasukan AS di perbatasan saat ini terus dipantau melalui radar 24 jam.
Yang paling mengejutkan dari laporan lapangan adalah kehadiran “tentara anak”. Otoritas keamanan Iran secara resmi menurunkan usia minimum rekrutmen menjadi 12 tahun melalui kampanye bertajuk “For Iran”.
Rahim Nadali, pejabat Garda Revolusi, mengonfirmasi di televisi pemerintah bahwa anak-anak usia 12-13 tahun kini dilibatkan dalam pengumpulan data keamanan, patroli operasional, hingga pengaturan konvoi mobil di malam hari.
“Di pos-pos pemeriksaan Basij yang Anda lihat di penjuru kota, banyak sekali sukarelawan remaja yang ingin ikut serta melawan ‘Si Penindas Global’ (Amerika Serikat),” ungkap Nadali.
Penduduk Teheran menggambarkan suasana kota yang kini dipenuhi blokade jalan. Kaveh, salah satu warga, menceritakan kepada AFP bagaimana mencekamnya suasana saat remaja berpakaian preman memegang senapan mesin ringan Uzi dan Kalashnikov.
“Hanya dalam jarak 100 meter, mobil Anda bisa dihentikan berkali-kali oleh remaja yang tidak terlatih. Mereka berteriak memberi perintah dan sering melepaskan tembakan peringatan ke udara jika ada rudal yang jatuh di dekat sana,” tutur Kaveh.
Saat malam tiba, suasana semakin riuh dengan iring-iringan mobil yang dipasangi pengeras suara, mengibarkan bendera, dan meneriakkan slogan-slogan pro-Republik Islam di jalanan protokol.
Teheran secara tegas membantah klaim Trump bahwa saat ini sedang berlangsung negosiasi antara kedua negara. Iran menuduh Washington sengaja menyebarkan isu perundingan hanya untuk “membeli waktu” guna mempersiapkan invasi darat ke wilayah selatan Iran.
Analisis militer menunjukkan bahwa jika invasi benar terjadi, Pulau Kharg akan menjadi target utama karena statusnya sebagai titik pusat ekspor minyak Iran. Hilangnya Kharg akan melumpuhkan total ekonomi Teheran dalam sekejap.
Peta Kekuasaan dan Situasi Terkini Teheran
- Mobilisasi Iran: 1.000.000+ tentara & relawan.
- Pasukan AS di Kawasan: ± 50.000 personel (dengan tambahan 1.000 pasukan baru dalam perjalanan).
- Usia Rekrutmen Baru: Mulai dari 12 tahun (Milisi Basij).
- Target Strategis: Selat Hormuz (Logistik) & Pulau Kharg (Energi).






