
Sejarah mencatat bahwa Pakistan memiliki rekam jejak proliferasi nuklir paling berbahaya di dunia. Abdul Qadeer Khan, arsitek bom nuklir Pakistan, pernah menjalankan jaringan pasar gelap global yang memasok teknologi sentrifugasi ke Iran, Libya, dan Korea Utara.
JERNIH – Di tengah dentum peperangan yang masih membara di Timur Tengah, sebuah narasi baru yang menggetarkan peta geopolitik global mulai muncul ke permukaan. Setelah sukses melumpuhkan tiga situs nuklir Iran pada Juni tahun lalu, perhatian Israel dan Amerika Serikat kini dikabarkan mulai bergeser ke arah timur yakni Pakistan.
Pengerahan kekuatan militer AS di Timur Tengah saat ini tercatat sebagai yang terbesar sejak Perang Irak 2003. Presiden Donald Trump pun telah melontarkan peringatan keras bahwa jika diplomasi dengan Teheran menemui jalan buntu, “hal-hal buruk akan terjadi.” Namun, bagi para pengamat pertahanan, Iran mungkin hanya babak pembuka. Target sesungguhnya yang dianggap sebagai ancaman eksistensial jangka panjang bagi Israel adalah kekuatan nuklir Pakistan.
Mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, baru-baru ini menyalakan alarm peringatan dalam konferensi para pemimpin organisasi Yahudi Amerika di Jerusalem. Ia menyoroti kemunculan poros baru yang terdiri dari Turki, Qatar, Ikhwanul Muslimin, dan Pakistan yang bersenjata nuklir. “Turki adalah Iran yang baru. Presiden Erdogan adalah lawan berbahaya yang mencoba mengepung Israel. Kita tidak boleh menutup mata lagi,” tegas Bennett, mengutip Eurasian Time.
Kekhawatiran Bennett bukan tanpa alasan. Pakistan adalah satu-satunya negara Muslim di dunia yang memiliki senjata nuklir, yang sejak awal secara terbuka dilabeli sebagai “Bom Islam.” Yang lebih mengkhawatirkan Tel Aviv adalah kesepakatan keamanan antara Islamabad dan Arab Saudi baru-baru ini, di mana Pakistan diduga memperluas “payung nuklirnya” ke Kerajaan Saudi.
Rekam Jejak Proliferasi yang Kelam
Israel memiliki alasan kuat untuk waspada. Sejarah mencatat bahwa Pakistan memiliki rekam jejak proliferasi nuklir paling berbahaya di dunia. Abdul Qadeer Khan, arsitek bom nuklir Pakistan, pernah menjalankan jaringan pasar gelap global yang memasok teknologi sentrifugasi ke Iran, Libya, dan Korea Utara.
Mantan Direktur CIA, George Tenet, bahkan pernah menyebut A.Q. Khan sebagai sosok yang “sama berbahayanya dengan Osama bin Laden.” Meski Khan mengklaim aksinya bersifat pribadi, para pakar meyakini mustahil operasi berskala internasional tersebut dilakukan tanpa dukungan elemen negara.
Ketegangan antara Israel dan Pakistan bukanlah hal baru. Pada era 1980-an, Israel dikabarkan pernah menyusun rencana rahasia bersama India untuk membombardir fasilitas nuklir Pakistan di Kahuta, meniru kesuksesan serangan Israel ke reaktor Osirak Irak pada 1981.
Dalam buku ‘Deception’, Adrian Levy mengungkapkan bahwa jet tempur F-16 dan F-15 Israel direncanakan masuk ke wilayah udara India dan melakukan pengisian bahan bakar di Jamnagar. Namun, di detik-detik terakhir, Perdana Menteri India saat itu, Indira Gandhi, membatalkan operasi tersebut. Jika serangan itu terjadi, peta kekuatan nuklir di Asia Selatan dan Timur Tengah saat ini mungkin akan sangat berbeda.
Selain isu antarnegara, ketakutan terbesar Israel adalah jatuh atau bocornya teknologi nuklir ke tangan jaringan teror. Hubungan antara ilmuwan nuklir Pakistan dengan kelompok al-Qaeda sudah lama tercium intelijen Barat.
Situasi semakin memanas menyusul pernyataan komandan IRGC Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, tahun lalu. Ia menyatakan bahwa jika Israel berani menggunakan senjata nuklir terhadap Iran, Pakistan telah berjanji untuk membalas dengan menyerang Israel menggunakan senjata nuklirnya.
“Pakistan telah memberi tahu kami bahwa jika Israel menggunakan rudal nuklir, kami juga akan menyerang mereka dengan senjata nuklir,” ujar Rezaei dalam wawancara di televisi pemerintah Iran.
Dengan ekonomi yang goyah namun memiliki gudang senjata pemusnah massal, Pakistan kini dipandang sebagai “Molotov Koktail” yang siap meledak. Munculnya gagasan “NATO Islam” yang dipayungi nuklir Pakistan menjadi ancaman nyata yang dianggap Israel setara—atau bahkan lebih berbahaya—daripada program nuklir Iran.
Dunia kini menanti, apakah tekanan diplomatik akan berhasil menjinakkan ketegangan ini, ataukah Israel akan kembali mengambil langkah pre-emptive yang drastis sebagaimana yang mereka lakukan terhadap Irak dan Iran di masa lalu.






