Crispy

Jabodetabek Terasa ‘Mendidih’, Ciputat Tembus 36 Derajat, BMKG Ungkap Biang Keroknya

JERNIH – Warga Jabodetabek akhir-akhir ini mengeluhkan cuaca panas menyengat yang terasa lebih ekstrem dari biasanya. Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) periode 26–27 April 2026, suhu udara di wilayah penyangga seperti Ciputat, Banten, tercatat menyentuh angka 36,0 derajat Celsius.

Kondisi “gerah” ini ternyata tidak hanya menyelimuti ibu kota, tetapi juga terjadi secara merata di berbagai pulau besar di Indonesia dengan kisaran suhu 35 hingga 36 derajat Celsius.

Dari hasil pemantauan 20 stasiun pengamatan cuaca di seluruh Indonesia, Medan (Sumatera Utara) memegang rekor suhu tertinggi yang mencapai 36,3 derajat Celsius. Berikut adalah daftar wilayah dengan suhu paling menyengat di akhir April 2026:

WilayahSuhu Maksimum
Medan (Sumatera Utara)36,3°C
Ciputat (Banten)36,0°C
Sanggau (Kalimantan Tengah)36,0°C
Bengkulu35,8°C
Lampung35,5°C
Palu (Sulawesi Tengah)35,4°C

Bahkan, suhu “terendah” yang terpantau di Adi Soemarmo, Karanganyar (Jawa Tengah), masih berada di angka 34,6 derajat Celsius, yang tetap masuk kategori sangat hangat untuk kulit.

BMKG menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan fenomena umum pada masa peralihan menuju musim kemarau (pancaroba). Peningkatan intensitas radiasi matahari yang berlangsung lebih lama saat posisi matahari mulai bergerak, menjadi penyebab utama suhu terasa lebih membakar.

Selain itu, faktor dinamika iklim global juga memegang peranan penting. Intensitas awan yang berkurang membuat sinar matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa penghalang. Meski saat ini status Indian Ocean Dipole (IOD) dan El Niño–Southern Oscillation (ENSO) masih terpantau netral, BMKG memberikan peringatan dini. Diprediksi, ENSO akan memasuki fase El Niño pada periode Mei hingga Juli 2026, yang berpotensi memicu suhu lebih hangat dan berkurangnya curah hujan.

Hingga akhir April 2026, sekitar 10,4 persen wilayah Indonesia atau sebanyak 73 Zona Musim (ZOM) telah resmi memasuki kondisi kering. Wilayah-wilayah ini tersebar mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, hingga Maluku.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga hidrasi tubuh dan menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan. Pasalnya, cuaca panas ekstrem tidak hanya memicu dehidrasi, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan kulit jika paparan berlangsung terus-menerus.

Back to top button