CrispyVeritas

Trump Siap Bersihkan Kabinet dari Penentang Perjanjian Damai Iran Termasuk Memecat Pete Hegseth

  • Rencana pembersihan ini sekaligus membongkar adanya faksi-faksi yang saling sikut di dalam internal pemerintahan Trump mengenai strategi menghadapi Iran.
  • Ada dua nama besar yang kini berada di ujung tanduk adalah Menteri Perang (War Secretary) Pete Hegseth dan Direktur CIA John Ratcliffe.

JERNIH — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan tengah bersiap melakukan pembersihan besar-besaran (sweeping purge) terhadap sejumlah pejabat tinggi di dalam pemerintahannya. Langkah radikal ini menyasar para pembantu dekatnya yang kedapatan menentang Nota Kesepahaman (MoU) damai antara AS dan Iran.

Berdasarkan sumber internal AS yang dikutip oleh media Israel Hayom, dua nama besar yang kini berada di ujung tanduk adalah Menteri Perang (War Secretary) Pete Hegseth dan Direktur CIA John Ratcliffe.

“Perdebatan internal sudah selesai. Siapa pun yang mencoba menjegal atau menolak kesepakatan ini harus bersiap menghadapi konsekuensi personal,” tegas seorang sumber senior AS, memberi sinyal keras bahwa Trump tidak akan mentoleransi pembangkangan di dalam Gedung Putih.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dilaporkan aman dari badai pemecatan ini karena dinilai pintar menjaga sikap dengan menghindari kritik publik terhadap perjanjian tersebut dan menjaga posisi kuatnya di dalam lingkaran inti Trump.

Rencana pembersihan ini sekaligus membongkar adanya faksi-faksi yang saling sikut di dalam internal pemerintahan Trump mengenai strategi menghadapi Iran. Ada Kubu Pro-Negosiasi (diplomasi) dipimpin Wakil Presiden JD Vance, bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Mereka berargumen bahwa rezim Iran tidak akan runtuh dalam waktu dekat. Opsi diplomasi ini juga didorong oleh tekanan kuat dari negara-negara Teluk, termasuk Qatar.

Sementara kubu Pro-Agresi (tekanan maksimal) dipimpin oleh Pete Hegseth dan Marco Rubio (sebelum melunak), disokong oleh pejabat Pentagon dan Departemen Luar Negeri. Mereka bersikeras bahwa sanksi ekonomi harus diperketat sampai Iran bertekuk lutut (capitulation).

Pada akhirnya, Trump mengambil keputusan final secara sepihak (decisive move), mengabaikan semua oposisi internal, dan tetap melangkah maju dengan penandatanganan MoU bersama Iran. Sanksi ekonomi AS terhadap Iran dipastikan akan segera dilonggarkan sebagian begitu Selat Hormuz resmi dibuka kembali untuk jalur maritim internasional.

JD Vance Tuding Netanyahu Sengaja Sabotase Perjanjian

Perpecahan internal ini juga merembet pada kebijakan AS terhadap Israel. Dalam pengarahan tertutup, Wapres JD Vance sebenarnya berulang kali membela “hak Israel untuk mempertahankan diri.” Namun, ia juga berkali-kali mendesak Israel untuk menahan diri dari serangan ke Lebanon dan Iran.

Bahkan, Vance dilaporkan secara terbuka menuduh PM Israel Benjamin Netanyahu sengaja merusak proses diplomasi dan menyabotase perjanjian damai yang tengah dibangun Trump. Netanyahu dinilai sengaja terus melanggar gencatan senjata di Lebanon hingga memicu aksi balasan dari Iran, termasuk penutupan Selat Hormuz yang membuat Trump kelabakan untuk membukanya kembali.

Titik puncak kemarahan Donald Trump meledak tepat satu jam sebelum dokumen perjanjian damai AS-Iran ditandatangani. Secara sepihak, militer Israel melancarkan serangan udara bom ke pinggiran selatan Beirut.

Dalam wawancaranya, Trump tidak bisa menyembunyikan kemarahan besarnya dan langsung mengonfrontasi Netanyahu via telepon. “Ini sangat buruk—saya hampir tidak mempercayainya. Serangan itu terjadi hanya satu jam sebelum kita dijadwalkan menandatangani perjanjian damai!” ujar Trump dengan nada tinggi.

Meskipun Israel berdalih bahwa serangan itu adalah balasan atas drone Hizbullah, Trump menilai serangan itu tidak mendesak karena drone tersebut tidak menimbulkan korban jiwa atau kerusakan berarti.

“Kenapa Bibi (Netanyahu) harus melancarkan serangan bajingan itu? Saya sangat marah (pissed off). Saya langsung menegurnya. Dia sama sekali tidak punya penilaian yang benar (no judgment). Saya sampaikan itu langsung kepadanya,” tambah Trump kasar.

Kepada koresponden Fox News, Trey Yingst, Trump mengaku langsung mencecar PM Israel itu dengan kalimat sarkas: “Apa-apaan yang sedang kamu lakukan? (What the F are you doing?)” dan memerintahkan Israel untuk menghentikan segala bentuk agresi militer selama proses diplomasi berlangsung.

Sementara itu, media-media di Israel melaporkan terjadinya gelombang frustrasi dan kepanikan moral di Tel Aviv setelah pengumuman MoU AS-Iran tersebut. Para pejabat Israel mengakui bahwa hubungan diplomatik dengan Washington kini berada dalam krisis paling parah. Mereka menuduh AS telah bertekuk lutut dan menyerah pada tuntutan Iran.

Sumber diplomatik Israel mengatakan kepada i24NEWS bahwa poin yang paling mempermalukan Israel adalah dimasukkannya wilayah Lebanon ke dalam klausul perjanjian damai tersebut. Hal inilah yang memicu ketegangan super tinggi (very high tension) antara Benjamin Netanyahu dan Donald Trump saat ini.

Back to top button