
Ke-192 ribu bibit itu dihibahkan Yayasan Jagat Tunas Bumi (Jatubu) kepada Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan Kelompok Tani Hutan (KTH). Pesannya sederhana: hutan bisa dijaga tanpa memutus sumber penghidupan warga. Bahkan, keduanya justru dapat berjalan bersama.
JERNIH– Ada yang tersisa setelah panggung Tunas Bumi Fest (Jatubu Fest) 2026 di Alun-Alun Wonosobo dibongkar. Bukan sekadar ingatan tentang balon udara, musik, atau puluhan ribu warga yang memadati pusat kota selama tiga hari. Ada 192 ribu bibit kopi yang kini akan tumbuh di tangan masyarakat sekitar hutan Wonosobo.
Bibit-bibit itu dihibahkan Yayasan Jagat Tunas Bumi (Jatubu) kepada Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan Kelompok Tani Hutan (KTH). Pesannya sederhana: hutan bisa dijaga tanpa memutus sumber penghidupan warga. Bahkan, keduanya justru dapat berjalan bersama.
Jatubu Fest yang berlangsung 8-10 Agustus 2026 merupakan bagian dari peringatan HUT ke-3 Gerakan Mantap Pilih Prabowo (GMPP), Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-201, sekaligus menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pendiri Yayasan Jatubu sekaligus Kepala Koordinator Nasional (Kakornas) GMPP, Mantep Abdul Ghoni, mengatakan hibah bibit kopi merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui penguatan sektor hulu industri kopi lokal. Masyarakat yang hidup di sekitar kawasan hutan, menurut Mantep, memiliki potensi besar mengembangkan komoditas bernilai ekonomi tanpa harus mengorbankan kelestarian lingkungan. Gagasan itulah yang kemudian dirangkum dalam pesan utama festival: “Menjaga Negara.”
Dari Balon Udara hingga Kopi
Pesan lingkungan itu mendapat panggung tersendiri dalam Festival Balon Udara Tradisional, Minggu (9/8/2026). Menteri Lingkungan Hidup M. Jumhur Hidayat hadir dan membuka langsung festival yang menyedot perhatian ribuan warga tersebut.
Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat, Prof. Dr. Yudi Chrisnandi, Rektor UPN Veteran Jakarta Prof. Dr. Antar Venus, pengamat militer Rizal Dharma Putra, host Madilog Indra J Piliang, Hersubeno Arief, Komisaris BUMN Andrianto, serta Ketua Umum KNPI, Taufik Lubis.
Di hadapan puluhan ribu warga, Mantep menekankan pentingnya gotong royong untuk membangun masyarakat yang mandiri. Ia juga menyinggung sejumlah program pemerintah yang dinilainya mulai memberi pengaruh terhadap perekonomian masyarakat Wonosobo, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
Festival balon udara sendiri tidak semata ditempatkan sebagai tontonan. Tradisi khas Wonosobo itu menjadi bagian dari upaya menjadikan budaya lokal sebagai kekuatan yang bertemu dengan agenda lingkungan dan ekonomi kerakyatan.
Rangkaian Jatubu Fest sebenarnya telah dimulai sehari sebelumnya. Sabtu (8/8/2026), digelar Workshop Kemandirian Ekonomi dengan menghadirkan Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo Mota. Malam harinya, festival berlanjut dengan acara yang menghadirkan Rocky Gerung dan Kiai Kanjeng. Minggu pagi, Alun-Alun Wonosobo kembali dipadati warga untuk menyaksikan Festival Balon Udara Tradisional.
Bupati: Ikut Menggerakkan Ekonomi
Puncak Jatubu Fest berlangsung Senin malam (10/8/2026). Puluhan ribu warga kembali memenuhi Alun-Alun Wonosobo dalam Malam Puncak HUT ke-3 GMPP sekaligus penutupan festival.
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat yang menutup rangkaian acara mengapresiasi penyelenggaraan Jatubu Fest. Menurut dia, kegiatan yang menghadirkan masyarakat dalam jumlah besar itu ikut menciptakan perputaran ekonomi di daerahnya. “Jatubu Fest 2026 yang diselenggarakan oleh Yayasan Jagat Tunas Bumi bersama GMPP dalam rangka hari ulang tahun yang ketiga, GMPP telah banyak menghadirkan kegiatan yang tentunya sangat bermakna, sangat bermanfaat karena ini akan tumbuh perekonomian di Kabupaten Wonosobo,” kata Afif.
Malam terakhir kemudian ditutup dengan pertunjukan tari dari Saleho Karya Budaya. Panggung akhirnya memang harus dibongkar, balon-balon udara kembali disimpan, dan kerumunan puluhan ribu orang pulang ke rumah masing-masing. Tetapi penyelenggara berharap satu hal tidak ikut selesai bersama festival: ikhtiar menjaga hutan sambil memperkuat ekonomi orang-orang yang hidup di sekitarnya.
Di situlah 192 ribu bibit kopi mendapatkan maknanya. Jika kelak tumbuh dan menghasilkan, bibit-bibit itu bukan hanya menjadi tanaman konservasi, melainkan sumber penghidupan. Menjaga hutan, dengan demikian, tak harus membuat masyarakat kehilangan harapan untuk hidup lebih sejahtera.[]






