
- Kisah Omar dan Rahaf adalah pengingat bahwa di balik angka-angka statistik, ada nyawa dan impian yang sedang sekarat.
- Selain bom dan peluru, anak-anak Gaza kini berhadapan dengan musuh yang lebih senyap yakni kelaparan.
JERNIH – Omar Halawa mencoba bangkit dari kursinya dengan gerakan spontan, layaknya remaja berusia 13 tahun pada umumnya. Namun, sedetik kemudian tubuhnya limbung dan jatuh terjerembap ke tanah. Ia lupa pada satu kenyataan pahit, kaki kanannya sudah tidak ada lagi.
“Dia terjatuh dari kursi,” ujar ibunya, Yasmin Halawa, dengan mata berkaca-kaca. “Sangat menyedihkan bagi kami melihatnya seperti itu.”
Omar adalah satu dari puluhan ribu anak di Gaza yang masa kecilnya terenggut paksa. Kaki kanannya diamputasi tiga bulan lalu setelah serangan artileri Israel menghantam kerumunan anak-anak yang sedang mengantre air bersih di kamp Jabalia, Gaza Utara. Di saat para pemimpin dunia berdebat tentang gencatan senjata, Omar harus kehilangan sahabat dan sepupunya dalam serangan yang sama.
Keluarga Omar menguburkan kaki yang diamputasi itu di dekat tenda pengungsian mereka. Setiap hari, Omar mengunjungi “makam” kecil itu. Dengan nada yang sanggup menyayat hati siapa pun, ia berbisik: “Kakiku sudah pergi ke surga lebih dulu dariku.”

Statistik menunjukkan bahwa Gaza kini telah bertransformasi menjadi neraka dunia bagi generasi masa depan Palestina. Setelah lebih dari dua tahun agresi, angka-angka yang muncul sangatlah mengerikan:
- 71.000 lebih warga tewas, lebih dari 20.000 di antaranya adalah anak-anak.
- Krisis yatim piatu terbesar dalam sejarah modern dengan setidaknya 39.000 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka.
- Dari 42.000 anak yang terluka, setengahnya menderita luka yang mengubah hidup (amputasi, lumpuh, atau buta).
“Bukannya menikmati masa kecil, anak-anak Palestina justru tinggal di tempat terburuk di dunia. Bahkan setelah kesepakatan gencatan senjata, anak-anak masih terus terbunuh,” ujar juru bicara UNICEF, Kazem Abu Khalaf.
Kelaparan yang Menjadi Senjata
Selain bom dan peluru, anak-anak Gaza kini berhadapan dengan musuh yang lebih senyap yakni kelaparan. Blokade total terhadap bantuan pangan telah menciptakan krisis gizi buruk yang akut.
Kisah Rahaf Al Najjar (13) memberikan gambaran nyata. Rahaf ditembak oleh quadcopter Israel di kedua kakinya saat sedang mencari makanan untuk kelima saudaranya. Kini, ia berjuang untuk sembuh di sebuah tenda dingin dengan nutrisi yang sangat minim.
“Dia sembuh dengan sangat lambat. Saya hanya mampu memberinya empat butir telur dalam seminggu,” kata ibunya, Buthayna. “Kadang saya memberinya buah secara sembunyi-sembunyi agar saudara-saudaranya yang lain tidak melihat.”
Menurut data IPC, sekitar 1,6 juta orang atau 77% penduduk Gaza, termasuk 800.000 anak-anak, menghadapi ketahanan pangan yang sangat kritis hingga tahun 2026 ini.
Ancaman Generasi yang Hilang
Sektor pendidikan di Gaza juga telah hancur total. Selama dua tahun terakhir, kegiatan belajar-mengajar terhenti total. Sebanyak 90% gedung sekolah hancur atau berubah menjadi tempat pengungsian yang kumuh.
“Kami telah kehilangan lebih dari 20.000 siswa,” ungkap Jawad Shiekh-Khalil, Direktur Pendidikan di Gaza Barat. Kini, pendidikan hanya berlangsung di tenda-tenda darurat tanpa buku, pensil, bahkan kapur tulis. Para ahli kesehatan mental memperingatkan bahwa hilangnya pendidikan selama dua tahun tidak hanya menghambat kecerdasan, tetapi juga merusak perkembangan emosional dan sosial anak secara permanen.
Psikiater anak, Bahzad Al Akhras, menjelaskan bahwa trauma yang dialami anak-anak Gaza jauh lebih dalam dari sekadar luka fisik. Gejala seperti mengompol, mimpi buruk kronis, isolasi diri, hingga perilaku agresif menjadi pemandangan umum di tenda-tenda pengungsian.
Omar, misalnya, kini mengalami kerontokan rambut yang parah akibat stres. Ia sering terbangun di tengah malam sambil menjerit karena merasakan “nyeri hantu” (phantom pain) dari kakinya yang sudah hilang.
Namun, di tengah segala kegelapan itu, secercah harapan kecil masih tersisa. Omar masih memiliki mimpi sederhana yang terus ia jaga. “Hal pertama yang ingin saya lakukan setelah mendapatkan kaki palsu adalah bermain bola dan berenang di laut. Saya sangat suka berenang,” tambahnya.






