
Dari panggung Coachella hingga FYP TikTok, musik pop Asia Tenggara lagi mengalami masa keemasan. Bukan cuma Filipina lewat P-Pop dan Thailand dengan T-Pop, musisi Indonesia bahkan sukses mendominasi pasar jiran.
WWW.JERNIH.CO – Daftar putar (playlist) Spotify milik Jaycer Bajo, seorang pekerja call centre asal Filipina, telah berubah drastis dalam beberapa tahun terakhir. Jika dulu ia lebih banyak menghabiskan waktu mendengarkan lagu-lagu hit yang merajai tangga lagu Amerika Serikat, kini harinya dipenuhi oleh alunan musik Pinoy Pop (P-pop) yang energetik.
Perubahan selera ini tidak terjadi begitu saja, melainkan didorong oleh kemunculan grup-grup berbakat yang membawa kesegaran baru. Mulai dari boyband ALAMAT dan BGYO, hingga girl group BINI yang baru saja mengukir sejarah pada April lalu sebagai grup vokal perempuan Filipina pertama yang sukses tampil di festival musik bergengsi dunia, Coachella.
“Dalam lima tahun terakhir, rasanya kiblat musik saya berubah total dari yang dulunya didominasi oleh lagu Barat, kini berganti menjadi karya lokal,” kata Bajo saat berbagi cerita. Ia menambahkan bahwa sebelum tahun 2020, Filipina sebenarnya sudah memiliki banyak band berkualitas, namun setelah momen itulah industrinya benar-benar meledak dan menemukan momentum emas.
Adopsi Teknik
Grup-grup ikonik seperti ALAMAT, BGYO, dan BINI—yang semuanya memulai debut mereka pada tahun 2021—secara cerdas mengadopsi struktur teknik dan formula sukses dari K-pop, J-pop, serta pop Barat. Namun, alih-alih menjadi tiruan semata, mereka mengemas ulang formula tersebut dengan menyuntikkan identitas, tema mendalam, dan bahasa lokal Filipina.
Bajo menilai fenomena ini sebagai bentuk adaptasi yang sangat berhasil dan autentik. “Struktur produksinya boleh saja meminjam estetika dari industri K-pop yang sudah matang, tetapi talenta, karakter, dan jiwa yang dihembuskan ke dalam lagu-lagu tersebut murni produk lokal kami,” tambah dengan nada bangga.

Fenomena pergeseran selera musik ini rupanya tidak hanya menjadi cerita personal di Filipina semata. Di seluruh penjuru Asia Tenggara, para musisi lokal perlahan tapi pasti mulai mengikis dan menggeser dominasi musisi Korea, Jepang, dan Amerika Serikat yang selama ini nyaman bertengger di telinga para pencinta musik.
Berdasarkan data berkala dari platform analisis musik Prancis, Soundcharts, terjadi lonjakan persentase musisi lokal yang sangat masif dalam tangga lagu Top 10 Mingguan Spotify sejak tahun 2021 hingga paruh pertama 2026. Angka-angka yang terekam menjadi bukti tak terbantahkan bahwa pasar domestik kini menjadi raja di rumah sendiri.
Di Indonesia, dominasi lagu lokal di platform tersebut melonjak sangat drastis, bergerak dari angka 39 persen hingga mencapai angka mutlak 97 persen. Sementara itu, Filipina juga mencatatkan lompatan impresif dari 31 persen ke 81 persen, disusul oleh Thailand yang ikut merangkak naik dari posisi 71 persen menuju 76 persen.
Menariknya, tren positif ini tidak hanya berhenti di ranah digital, melainkan menjalar kuat ke media konvensional seperti radio. Dalam periode yang sama, pangsa pasar musisi lokal di Top 10 Mingguan Radio meningkat dari 29 persen menjadi 55 persen di Indonesia, dari nol menjadi 5 persen di Filipina, serta melonjak dari 38 persen ke 65 persen di Thailand.
Pendapatan Musik Digital
Cod Satrusayang, seorang produser film terkemuka asal Thailand yang sering bekerja sama dengan musisi lokal untuk pengisian lagu tema (soundtrack), merasakan betul angin perubahan ini. Ia melihat adanya pergeseran paradigma yang besar dalam cara musisi lokal memandang identitas karya mereka di pasar komersial.

“Dulu, T-Pop dan musik Thailand pada umumnya hanya dianggap sebagai pengekor yang mengekor gaya pop Korea dan Amerika,” ujar Satrusayang memberikan catatan retrospektif. Namun, ia melihat dalam lima tahun terakhir ini, para musisi Thailand mulai berani melepaskan bayang-bayang tersebut dan membentuk identitas mereka sendiri yang unik.
Meskipun ukuran finansial industri musik Asia Tenggara secara keseluruhan saat ini belum mampu menandingi raksasa mapan seperti Korea Selatan, Jepang, atau China, laju pertumbuhannya menunjukkan perkembangan yang sangat menjanjikan. Lonjakan ini terlihat jelas pada sektor pendapatan musik digital yang mencakup hasil dari layanan streaming berbayar, unduhan lagu, hingga kapitalisasi iklan.
Selama periode tahun 2021 hingga 2025, pasar musik di kawasan ini berhasil mencetak angka pertumbuhan yang signifikan berkat adopsi teknologi yang masif. Transformasi digital ini tidak hanya memperluas jangkauan pendengar, tetapi juga berhasil menarik perhatian serius dari para investor dan pelaku industri hiburan global.
Di Indonesia, pendapatan musik digital melesat tajam dari Rp2,91 triliun menjadi Rp4,69 triliun, mengukuhkan posisinya sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara. Tren pertumbuhan ini juga diikuti oleh Thailand yang mencatatkan kenaikan dari Rp2,34 triliun menjadi Rp3,63 triliun, serta Filipina yang pendapatannya hampir berlipat ganda dari Rp1,65 triliun hingga menyentuh Rp3,20 triliun.
Meskipun musisi Thailand favoritnya saat ini seperti YOUNGOHM, MILLI, dan Joey Phuwasit memiliki gaya yang sangat berbeda dari formula klasik K-pop, Satrusayang tetap memberikan apresiasi tinggi kepada Korea Selatan. Baginya, kesuksesan global negara ginseng tersebut telah membukakan jalan bagi industri musik Asia secara keseluruhan.
Media Sosial
Sejak musisi Psy menggebrak dunia lewat Gangnam Style pada tahun 2012 silam, K-pop telah mencapai level kesuksesan arus utama yang belum pernah dicapai oleh gelombang pop Asia era sebelumnya. Kolaborasi epik antara BTS dengan Coldplay hingga penampilan Blackpink di panggung utama Coachella menjadi bukti sahih kekuatan kultural tersebut.

Dampak ekonomi yang dihasilkan pun tidak main-main bagi pendapatan negara. Pada tahun 2023 saja, industri K-pop dilaporkan berhasil menyumbang pendapatan luar negeri yang sangat fantastis, yakni mencapai Rp15,89 triliun bagi perekonomian Korea Selatan melalui berbagai lini penjualan album, streaming, hingga tur konser global.
“Industri, studio besar, hingga musisi independen sekarang tersadar bahwa menembus pasar internasional bisa menghasilkan keuntungan yang sangat besar,” kata Satrusayang analisisnya. Kesadaran akan potensi ekonomi inilah yang pada akhirnya memicu sebuah era renaissance atau kebangkitan kreatif yang luar biasa di Thailand.
Di sisi lain, keberhasilan luar biasa ini tentu tidak bisa dilepaskan dari peran vital media sosial berbasis video pendek seperti TikTok dan Instagram. Keberadaan platform global ini memungkinkan para musisi baru untuk memangkas jalur birokrasi industri lama dan berinteraksi secara langsung dengan basis penggemar mereka.
Nate Porcalla, salah satu anggota boyband BGYO yang kini berusia 23 tahun, menceritakan bahwa mengelola media sosial kini sudah bertransformasi menjadi rutinitas wajib pekerjaan mereka. Aktivitas digital ini dinilai sama pentingnya dengan sesi latihan vokal intensif maupun koreografi rumit yang mereka jalani sehari-hari.
“Kami berinteraksi dengan para penggemar setiap hari, sejak terbangun di pagi hari hingga menjelang tidur malam,” tutur Porcalla mengenai kedekatan mereka dengan fans. Mereka aktif mengunggah konten tren menari, hal-hal lucu di balik layar, hingga menyempatkan diri membalas komentar untuk membangun ikatan emosional.
Kebangkitan budaya pop di Asia Tenggara ini pada akhirnya berjalan beriringan dengan meningkatnya daya beli dan pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan tersebut. Pertumbuhan ekonomi yang stabil ini memberikan ruang lebih bagi masyarakat untuk mengapresiasi dan membelanjakan uang mereka pada produk-produk hiburan lokal berkualitas tinggi.
Peningkatan status ekonomi negara-negara di Asia Tenggara pun turut memperkuat ekosistem industri kreatif ini. Thailand telah lama naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah ke atas sejak 2011, sementara Indonesia berhasil kembali masuk ke kategori tersebut pada 2023, dan Filipina tengah memasang target optimis untuk menyusul pada tahun 2028 mendatang.
“Semua gelombang musik pop baru ini terus beradaptasi dan berinovasi demi memikat konsumen domestik maupun global,” jelas Mary Ainslie, seorang peneliti budaya. Ia menegaskan bahwa perkembangan estetika musik ini selalu muncul secara beriringan dengan grafik pertumbuhan ekonomi dan kematangan identitas dari masing-masing bangsa.
Namun, tren kebangkitan musik lokal ini rupanya menunjukkan dinamika yang sedikit berbeda di wilayah Singapura dan Malaysia. Berdasarkan data terkini, musik Barat dan K-pop terpantau masih mempertahankan dominasi yang cukup kuat di stasiun radio lokal serta daftar putar harian masyarakat di kedua negara jiran tersebut.
Meskipun demikian, ada fenomena unik yang terjadi di pasar musik Malaysia, di mana musisi regional—terutama dari Indonesia—mulai menunjukkan taringnya. Pangsa pasar lagu-lagu Indonesia di Top 50 Mingguan Spotify Malaysia tercatat mengalami kenaikan yang konsisten dari 18 persen pada 2023 menjadi sekitar 22 persen di awal 2026.
Para pengamat budaya melihat fenomena ini sebagai bentuk penyelarasan budaya lintas batas yang terjadi secara alami. Kemiripan bahasa yang serumpun serta kedekatan kultur, ditambah dengan faktor banyaknya warga negara Indonesia yang menetap dan bekerja di Malaysia, turut menjadi jembatan emas bagi penyebaran karya musik ini.
No Na
Bagi sebagian orang, kehadiran musik pop dari tanah air yang mulai go international bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah penawar rindu. Hal inilah yang dirasakan oleh Elhana Sugaiman, seorang warga negara Indonesia yang saat ini sedang meniti karier di sebuah lembaga swadaya masyarakat di Taiwan.

Di tengah kesibukannya di perantauan, Elhana mengaku sering menghabiskan waktu mendengarkan karya-karya dari No Na. Sebagai informasi, No Na adalah sebuah girl group asal Indonesia yang berhasil menarik perhatian industri global dan kini berada di bawah naungan label rekaman ternama Amerika Serikat, 88rising.
No Na dikenal sangat lihai menyisipkan identitas budaya Nusantara yang sangat kental dan autentik ke dalam aransemen musik modern mereka. Para pendengar akan dengan mudah menemukan sisipan suara klakson bus kota yang familier, dentuman magis gamelan tradisional, hingga sinematografi latar belakang keindahan alam Indonesia dalam video musik mereka.
“Mereka benar-benar berani menonjolkan dan merayakan kekayaan budaya Indonesia dalam setiap karya musik yang mereka rilis,” ujar Elhana dengan penuh antusias. Ia merasa sangat tersentuh ketika melihat elemen-elemen budaya yang ia kenal sejak kecil kini dikemas secara modern dan diapresiasi oleh pendengar dari berbagai belahan dunia.
Mendengar musik lokal yang berprestasi di kancah internasional pada akhirnya melahirkan sebuah rasa bangga yang mendalam akan identitas diri. “Mungkin karena saya tinggal jauh dari rumah, melihat kebudayaan kita direpresentasikan dengan begitu indah di layar kaca dunia memberikan perasaan haru sekaligus kebanggaan yang luar biasa,” pungkasnya.(*)
BACA JUGA: Bang Si-hyuk si Arsitek K-Pop dan Skandal IPO






