
Tak sekadar pulih, peta persaingan kini berubah total, Malaysia sukses menggeser Thailand dalam volume kunjungan, sementara Vietnam melonjak tajam lewat kemudahan e-Visa. Bagaimana dengan Indonesia?
WWW.JERNIH.CO – Sektor pariwisata di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) secara definitif telah memasuki fase pasca-pemulihan yang ditandai oleh resiliensi ekonomi dan rekonfigurasi pasar yang signifikan. Berdasarkan publikasi riset teranyar ASEAN Tourism Outlook yang diterbitkan oleh Sekretariat ASEAN bekerja sama dengan UN Tourism, volume akumulatif kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di seluruh kawasan telah berhasil merecovery sebesar 92% hingga 96% dibandingkan dengan tingkat akumulasi pra-pandemi.
Secara makroekonomi, kontribusi langsung maupun tidak langsung sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) aggregate kawasan tercatat mencapai 9,7%, atau setara dengan nilai nominal sekitar 379 miliar dolar, sekaligus memulihkan dan menyerap kembali lebih dari 42 juta tenaga kerja di berbagai subsektor industri terkait.
Dinamika akselerasi pemulihan ini tidak hanya didorong oleh kebangkitan permintaan perjalanan, melainkan dipicu oleh transformasi struktural pada empat pilar utama pariwisata regional. Pergeseran peta persaingan destinasi antarnegara anggota, reformasi agresif pada kebijakan imigrasi dan visa, modernisasi infrastruktur konektivitas transportasi lintas batas, serta pendaratan inovasi digitalisasi pembayaran antarnegara kini bertindak sebagai katalisator utama yang merevolusi ekosistem pariwisata Asia Tenggara secara menyeluruh.
Rekonfigurasi Hierarki Destinasi
Peta dinamika pariwisata di Asia Tenggara mengalami rekonfigurasi hierarki kepemimpinan destinasi yang cukup mendasar. Malaysia berhasil mengambil alih posisi puncak dalam volume total kunjungan wisman di kawasan, sementara Vietnam mencatatkan laju pertumbuhan terpesat (top performer in growth rate).
Di sisi lain, Singapura secara konsisten mengukuhkan posisinya sebagai hub pariwisata bernilai tinggi (high-value tourism) yang berfokus pada efisiensi penerimaan devisa per wisatawan.

Secara analitis, kinerja empiris Malaysia yang mencatatkan volume kunjungan mencapai kurang lebih 28,2 juta wisman telah berhasil menggeser dominasi historis Thailand. Keunggulan kuantitatif Malaysia didorong oleh integrasi konektivitas darat dan udara yang sangat padat dengan Singapura, lonjakan perjalanan intra-ASEAN yang kini menyumbang hingga 38% dari total mobilitas wisman di kawasan, serta implementasi kebijakan fasilitas bebas visa bagi pasar besar China dan India.
Sebaliknya, Thailand mencatatkan sekitar 24,1 juta kunjungan, mengalami sedikit koreksi volume akibat pemulihan pasar China yang lebih lambat dari proyeksi, namun tetap mempertahankan keunggulan dalam total pendapatan pariwisata berkat maturitas ekosistem hiburan dan kekuatan merek destinasi (destination brand equity).
Sementara itu, Vietnam muncul sebagai destinasi dengan laju eksponensial tertinggi (+21,5% YoY) dengan mencatatkan 15,4 juta kunjungan. Deregulasi visa melalui penerapan e-Visa berdurasi 90 hari serta perpanjangan masa tinggal tanpa visa bagi negara-negara Eropa menjadi determinan utama yang memicu arus masuk wisatawan jarak jauh dan kawasan Asia Timur.
Di Indonesia, pertumbuhan tercatat stabil di angka +10,38% YoY dengan capaian 10,04 juta kunjungan. Meskipun Bali masih menjadi magnet utama yang menyerap lebih dari 45% total wisman, strategi pemerintah dalam mengeksploitasi Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) seperti Labuan Bajo, Mandalika, dan Borobudur mulai menunjukkan hasil positif dalam meratakan redistribusi spasial wisatawan.
Indeks Daya Saing Pariwisata
Evaluasi holistik terhadap daya saing dan efisiensi pariwisata kawasan ASEAN diukur melalui dua metodologi dan kerangka indeks utama, yaitu Travel and Tourism Development Index (TTDI) yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF) dan Destination Brand Strength Score (Outbox Index).
Kerangka TTDI WEF mengukur tingkat daya saing melalui lima dimensi multidimensi yang mencakup lingkungan pendukung (enabling environment), kebijakan pariwisata (T&T policy), kualitas infrastruktur, penggerak permintaan (demand drivers), dan keberlanjutan (sustainability).
Dalam pemeringkatan ini, Singapura konsisten menempati posisi puncak regional sekaligus berada di jajaran top 10 secara global, yang disokong oleh keunggulan mutlak pada infrastruktur transportasi udara, kepastian hukum, keselamatan, dan standar kebersihan.
Di sisi lain, Indonesia dan Malaysia mencatatkan kenaikan peringkat yang signifikan, terutama dipicu oleh skor tinggi pada pilar daya saing harga (price competitiveness), kekayaan sumber daya alam dan budaya (natural and cultural resources), serta tingkat kesiapan digitalisasi (digital readiness).
Dari perspektif ekuitas merek dan konversi nilai ekonomi, Destination Brand Strength Score (Outbox Index) memberikan gambaran mengenai efisiensi negara anggota dalam mengonversi persepsi merek menjadi penerimaan ekonomi harian (yield).

Singapura memimpin dengan skor 156,1 berkat tingkat efisiensi tertinggi dalam mengonversi citra merek menjadi pembelanjaan wisatawan per hari yang sangat tinggi melalui segmen Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE), konser hiburan internasional, serta wisata medis.
Thailand berada di posisi berikutnya dengan skor 151,3, mencerminkan kesadaran merek (brand awareness) global yang masif namun memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap fluktuasi segmen pasar massal (mass market).
Sementara itu, Malaysia (skor 136,2) dan Indonesia (skor 132,6) memiliki fondasi daya tarik berbasis kekayaan alam dan budaya yang kokoh, tetapi masih menghadapi tantangan dalam memaksimalkan rata-rata lama tinggal (length of stay) dan rata-rata pengeluaran wisatawan (average spend per arrival).
Integrasi Ekosistem Pendukung
Tingkat pertumbuhan pariwisata Asia Tenggara tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh konvergensi dan integrasi tiga elemen pendukung utama yang memperlancar arus mobilitas manusia dan barang di kawasan.
Elemen pertama adalah fasilitasi regulasi imigrasi dan visa. Kebijakan deregulasi visa secara serentak yang diterapkan oleh Malaysia, Thailand, dan Vietnam melalui perluasan skema bebas visa dan e-Visa bagi pasar China, India, dan kawasan Eropa telah menurunkan hambatan masuk (barrier to entry).
Selain itu, inovasi regulasi seperti Golden Visa dan Digital Nomad Visa yang diadopsi oleh Indonesia dan Thailand berhasil menarik segmen wisatawan berpenghasilan tinggi, eksekutif global, dan pekerja jarak jauh (remote workers) untuk tinggal dalam jangka waktu yang lebih lama (extended stay).
Elemen kedua melibatkan modernisasi infrastruktur transportasi dan konektivitas lintas batas. Pengembangan skala besar pada hub penerbangan utama—seperti pembangunan Terminal 5 Changi di Singapura, Bandara Internasional Long Thanh di Vietnam, serta ekspansi kapasitas Terminal Suvarnabhumi di Thailand dan I Gusti Ngurah Rai di Indonesia—secara substansial meningkatkan daya tampung penumpang internasional.
Di sektor transportasi darat, operasionalisasi Kereta Cepat Whoosh (Jakarta-Bandung) di Indonesia serta jalur kereta api lintas negara Laos-Tiongkok memberikan dimensi baru dalam konektivitas antarwilayah yang mempercepat mobilitas turis domestik maupun regional.
Peran maskapai berbiaya murah (Low-Cost Carrier/LCC) seperti AirAsia, Scoot, dan VietJet juga terus memperluas pembukaan rute penerbangan langsung (direct flights) yang menghubungkan kota-kota sekunder di kawasan ASEAN.
Elemen ketiga adalah komitmen digitalisasi sistem pembayaran lintas negara (Cross-Border QR Payment). Interkoneksi pembayaran digital berbasis kode QR—seperti integrasi QRIS Indonesia dengan DuitNow Malaysia, NETS Singapura, dan PromptPay Thailand—memungkinkan wisatawan melakukan transaksi secara real-time langsung dari rekening domestik mereka tanpa perlu melalui konversi mata uang tunai.

Inovasi ini secara langsung meningkatkan efisiensi pembelanjaan wisatawan, menekan biaya transaksi, dan memperluas dampak ekonomi pariwisata hingga ke sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tingkat lokal.
Prospek Strategis
Secara komprehensif, industri pariwisata Asia Tenggara sedang mengalami transisi paradigmik dari model pertumbuhan yang berfokus pada volume kuantitatif (volume-driven growth) menuju paradigma pembangunan berbasis nilai tambah dan keberlanjutan (value-driven and sustainable development). Masa depan daya saing kawasan akan sangat ditentukan oleh kemampuan negara-negara anggota dalam mengelola berbagai dinamika tantangan eksternal dan internal.
Tantangan utama yang dihadapi kawasan meliputi fluktuasi laju pemulihan pasar wisatawan Tiongkok yang belum sepenuhnya stabil, keterbatasan kapasitas penerbangan jarak jauh, serta ancaman overtourism di titik-titik destinasi krusial yang berpotensi merusak daya dukung lingkungan.
Oleh karena itu, adopsi prinsip pariwisata hijau (green tourism), pengelolaan rantai pasok lokal yang inklusif, serta investasi berkelanjutan pada infrastruktur berkarbon rendah menjadi prasyarat mutlak agar industri pariwisata Asia Tenggara mampu mempertahankan pertumbuhan yang tangguh, inklusif, dan berdaya saing global dalam jangka panjang.(*)
BACA JUGA: Tiga Tahun InJourney: Mentransformasi Pariwisata Indonesia, Membenahi Wajah Bangsa di Bandara






