CrispyVeritas

Kedok Bisnis di Balik Kudeta: Trump Konfirmasi Ambisi AS Kuasai Kekayaan Minyak Venezuela

Langkah Trump ini dipandang sebagai upaya aneksasi terselubung. Setelah melumpuhkan kedaulatan Venezuela melalui serangan udara dan penculikan pemimpin negaranya, AS kini bersiap “menancapkan kuku” ekonominya melalui perusahaan-perusahaan multinasionalnya.

JERNIH – Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat kini semakin memperjelas motif sebenarnya di balik intervensi Washington. Tak lama setelah operasi militer tersebut, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan yang mengonfirmasi kecurigaan banyak pihak: target utama AS bukanlah sekadar “demokrasi”, melainkan kendali penuh atas cadangan minyak terbesar di dunia milik Venezuela.

Dalam konferensi pers di Florida, Sabtu (3/1/2026), Trump secara terbuka menyatakan bahwa ia akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak raksasa AS untuk masuk dan menguasai industri migas Venezuela. Langkah ini dipandang oleh banyak pengamat internasional sebagai bentuk “Kolonialisme Energi” modern.

Langkah Trump ini dipandang sebagai upaya aneksasi terselubung. Setelah melumpuhkan kedaulatan Venezuela melalui serangan udara dan penculikan pemimpin negaranya, AS kini bersiap “menancapkan kuku” ekonominya melalui perusahaan-perusahaan multinasionalnya.

“Kita akan mengerahkan perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, membelanjakan miliaran dolar, dan memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah,” tegas Trump.

Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa AS akan mengambil alih kendali atas 17% cadangan minyak dunia yang berada di wilayah Venezuela, mengubah negara tersebut menjadi “ladang uang” baru bagi korporasi-korporasi Washington dengan dalih perbaikan infrastruktur.

Monopoli dan Embargo: Menjajah Tanpa Pesaing

Strategi penjajahan ekonomi ini semakin terlihat dari kebijakan Trump yang tetap memberlakukan embargo total terhadap minyak Venezuela bagi pihak lain, sementara hanya perusahaan AS yang diberikan akses khusus.

Dengan cara ini, AS menciptakan monopoli mutlak di atas kekayaan alam Venezuela:

  1. Memutus Akses Dunia: Embargo memastikan tidak ada negara lain (seperti China atau Rusia) yang bisa menyentuh minyak Venezuela.
  2. Eksploitasi Sepihak: Hanya perusahaan raksasa AS seperti Chevron yang diizinkan beroperasi, memastikan seluruh keuntungan dan kendali sumber daya mengalir kembali ke Washington.
  3. Pencurian Kedaulatan: Trump secara eksplisit menyatakan AS sebenarnya “baik-baik saja” tanpa minyak Venezuela, yang membuktikan bahwa operasi ini bukan karena kebutuhan energi, melainkan ambisi geopolitik untuk menguasai kekayaan negara lain.

Industri minyak Venezuela selama ini sengaja dilumpuhkan oleh sanksi-sanksi ekonomi AS sejak 2017 hingga 2019, menciptakan kondisi krisis yang kemudian dijadikan alasan bagi militer AS untuk melakukan intervensi. Kini, setelah rezim yang menentang Washington tumbang, kekayaan alam negara tersebut siap diklaim sebagai “jarahan perang”.

Meski Trump mengklaim tujuannya adalah memberantas “terorisme narkoba”, penguasaan cadangan minyak mentah raksasa di bawah moncong senjata militer memperkuat narasi bahwa kedaulatan Venezuela telah dikorbankan demi syahwat ekonomi negara adidaya. Penangkapan Maduro bukan sekadar masalah hukum, melainkan pembuka jalan bagi aneksasi sumber daya alam secara sistematis oleh Amerika Serikat di tahun 2026.

Back to top button