Crispy

Kepala Babi Dilempar ke Makam Muslim Pasca-Tragedi Bondi, Ahmed Sang Pahlawan Justru Jadi Korban Fitnah

Tantangan terbesar pemerintah kini bukan hanya memburu pelaku pelemparan kepala babi, tapi juga membendung tsunami hoaks yang mengancam persatuan warga Australia di tengah duka.

JERNIH – Gelombang Islamofobia dan misinformasi melanda Australia menyusul tragedi penembakan massal di Bondi Beach. Di tengah duka nasional, sebuah aksi kebencian yang menjijikkan pecah di pinggiran Sydney, sejumlah kepala babi dilemparkan ke dalam kompleks pemakaman Muslim Narellan di Camden, Senin (15/12/2025).

Aksi yang diduga sebagai bentuk balas dendam buta ini memicu kemarahan publik, terutama karena menyasar makam orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan peristiwa berdarah tersebut. Ahmad Hraichie, seorang pengurus jenazah Muslim, mengunggah temuan mengerikan itu di Instagram. Ia mengecam keras pelaku yang dianggapnya hanya memperkeruh suasana.

“Siapa pun yang melakukan ini: Anda tidak membuktikan apa pun kecuali kebencian. Anda bukan solusi, Anda adalah bagian dari masalah,” tegas Hraichie. “Orang-orang di makam ini sudah wafat jauh sebelum kejadian kemarin. Makam adalah tempat martabat dan rasa hormat bagi semua iman.”

Kepolisian Australia mengonfirmasi telah mengevakuasi barang bukti tersebut dan meluncurkan penyelidikan intensif untuk memburu pelaku.

Tragedi Bondi: Antara Teror ISIS dan Kepahlawanan Suriah

Ketegangan di Australia meningkat setelah Sajid Akram (50) dan putranya, Naveed Akram (24), melepaskan tembakan di perkumpulan warga Yahudi di Bondi Beach. Serangan yang dikaitkan dengan kelompok ekstremis ISIS itu menewaskan 15 orang, termasuk seorang anak perempuan berusia 10 tahun dan seorang lansia berusia 87 tahun penyintas Holocaust.

Namun, di balik horor tersebut, muncul sosok pahlawan: Ahmed Al-Ahmed, seorang pria Muslim asal Idlib, Suriah. Ahmed nekat menerjang salah satu pelaku untuk menghentikan pembantaian meski akhirnya ia sendiri menderita luka tembak. Pemerintah Australia secara resmi memuji Ahmed sebagai pahlawan nasional.

Ironisnya, alih-alih mendapatkan apresiasi, Ahmed Al-Ahmed justru menjadi korban misinformasi liar di media sosial. Yang paling gila adalah tuduhan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu yang sempat menyebut Ahmed sebagai orang “Yahudi”.

Sementera di media sosial beredar fitnah dan mengklaimnya sebagai Kristen Maronit atau kelompok Alawit, padahal Ahmed adalah pimpinan komunitas Sunni. Chatbot kecerdasan buatan milik Elon Musk, Grok (X), bahkan mengidentifikasi Ahmed sebagai “Edward Crabtree”—seorang pria kulit putih Australia.

Peneliti mencatat bahwa insiden Islamofobia di Australia telah melonjak dua kali lipat dalam dua tahun terakhir, mencakup serangan fisik, pelecehan verbal, hingga ancaman berat.

Menanggapi aksi teror yang dilakukan Sajid dan Naveed, para pemimpin Muslim di Sydney mengambil langkah drastis. Mereka secara kolektif menolak untuk menyalatkan atau melakukan ritual pemakaman bagi para pelaku penembakan. “Kami berdiri bersama para korban. Apa yang dilakukan pelaku adalah pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan,” tulis Federasi Dewan Islam Australia (AFIC).

Saat ini, Sydney berada dalam titik nadir kerukunan antarumat beragama. Tantangan terbesar pemerintah kini bukan hanya memburu pelaku pelemparan kepala babi, tapi juga membendung tsunami hoaks yang mengancam persatuan warga Australia di tengah duka.

Back to top button