Kisah Doktor Gaza yang Menukar Pena dengan Adonan Roti Demi Bertahan Hidup

Kisah Slaih adalah cermin dari tragisnya “pembunuhan massal pendidikan” di Gaza. Sebelum perang, Palestina dikenal memiliki salah satu tingkat literasi tertinggi di dunia, dengan angka buta aksara hanya 2,1% pada tahun 2023.
JERNIH — Sebelum perang meluluhlantakkan Jalur Gaza, Bader Slaih adalah simbol dari ketekunan akademik. Berbekal gelar Master dan Doktoral (PhD) yang diraihnya di Mesir, ia pulang ke tanah airnya dengan satu mimpi besar yakni mencerdaskan generasi muda Palestina di universitas-universitas Gaza.
Namun kini, realitas berkata lain. Alih-alih memegang buku di depan kelas, tangan sang doktor kini berlumuran tepung di depan tungku api. Demi menyambung hidup keluarga dan warga di pengungsian, ia terpaksa bertransformasi menjadi seorang pembuat roti.
Terusir berkali-kali dari rumahnya di Bureij, Gaza Tengah, Bader Slaih menyaksikan bagaimana mimpi-mimpinya terkubur bersama reruntuhan kota. “Perang ini sangat berat bagi semua orang. Kami disiksa dan dihina oleh keadaan,” ungkapnya mengutip laporan Al Jazeera.
Berangkat dari rasa lapar yang mencekam, Slaih membangun sebuah tungku bata sederhana. “Karena kebutuhan yang sangat mendesak, kami membangun tungku bata untuk membuat roti bagi anak-anak kami. Kami harus memanggang roti untuk memberi makan keluarga kami dan orang lain,” tuturnya.
Runtuhnya Mercusuar Ilmu di Gaza
Kisah Slaih adalah cermin dari tragisnya “pembunuhan massal pendidikan” di Gaza. Sebelum perang, Palestina dikenal memiliki salah satu tingkat literasi tertinggi di dunia, dengan angka buta aksara hanya 2,1% pada tahun 2023.
Namun, laporan terbaru UNICEF mengungkapkan kenyataan yang mengerikan yakni 97% sekolah di Gaza rusak atau hancur total, sebanyak 91,8% fasilitas pendidikan memerlukan rekonstruksi penuh agar bisa berfungsi kembali serta 12 universitas di Gaza telah hancur sebagian atau seluruhnya, membuat aktivitas akademik lumpuh total.
Perang tidak hanya merampas kariernya, tapi juga memisahkan keluarganya. Istri dan anak laki-lakinya terpaksa meninggalkan Gaza untuk urusan medis, sementara Slaih tetap bertahan di tengah kecamuk perang. “Sangat sulit bagi saya. Kebutuhan medis putra saya lebih penting, jadi saya tetap tinggal di sini bersama anggota keluarga lainnya,” kata Slaih dengan nada tegar.
Meski kini ia dikenal sebagai pembuat roti, identitas sejatinya sebagai seorang pendidik tidak pernah padam. Slaih menegaskan bahwa meski seluruh gedung sekolah telah rata dengan tanah, semangat untuk mengajar telah mendarah daging dalam dirinya.
“Sabar dan tekad adalah bagian dari DNA kami. Saya akan tetap mengabdi sebagai guru, bahkan jika itu harus dilakukan di dalam tenda. Adalah misi saya untuk mendidik siswa Palestina, meskipun saya harus membangun kelas itu sendiri, bata demi bata,” tegas sang doktor dengan penuh keyakinan.
Bagi Bader Slaih, tungku roti hanyalah sarana untuk bertahan di masa kini, namun pendidikan adalah kunci untuk membangun kembali masa depan Gaza yang telah hancur.






