CrispyDesportare

Liverpool di Bawah Iraola Masih Rapuh, Nyaris Digilas Newcastle

Hilangnya tuah Mohamed Salah, rapuhnya transisi bertahan, hingga belum cairnya taktik Andoni Iraola menjadi sinyal bahwa The Reds masih tertatih di fase transisi.

WWW.JERNIH.CO  Pertandingan pembuka Liga Inggris di St. James’ Park antara Newcastle United dan Liverpool menyajikan drama sengit yang berakhir imbang 2-2. Di bawah komando pelatih anyar Andoni Iraola, The Reds terlihat belum menemukan top form serta filosofi permainan yang benar-benar padu.

Liverpool langsung terkejut di menit ke-5 ketika lini belakang mereka lengah mengantisipasi serangan balik kilat. William Osula memanfaatkan kelengahan Ryan Gravenberch sebelum mengirim umpan matang kepada Anthony Elanga, yang dengan dingin menaklukkan Alisson Becker.

Liverpool baru mampu merespons di babak kedua, tepatnya pada menit ke-54, saat tembakan jarak jauh Cody Gakpo dari luar kotak penalti melesak mulus ke gawang Newcastle. Namun, kegembiraan tersebut hanya bertahan dua menit.

Pada menit ke-56, pemain pengganti Joe Willock melakukan aksi individu menawan dengan melewati Jeremie Frimpong dan melepaskan tendangan melengkung akurat ke sudut bawah gawang untuk kembali membawa Newcastle unggul.

Drama puncak baru terjadi pada detik-detik akhir laga di menit 90+8. Debutan Liverpool, Víctor Muñoz, dijatuhkan oleh Lewis Hall di area terlarang, yang berbuah hadiah penalti. Dominik Szoboszlai yang maju sebagai eksekutor sukses mengarahkan bola ke sudut atas gawang sekaligus menghindarkan timnya dari kekalahan.

Keputusan penalti di injury time tersebut langsung menuai protes keras dari kubu Newcastle. Pelatih Newcastle, Matthias Jaissle, menilai vonis pelanggaran Lewis Hall terhadap Muñoz sangat “lunak” dan merugikan performa solid anak asuhnya sepanjang laga. Keberuntungan serta penalti kontroversial ini pun menjadi penyelamat tunggal Liverpool dari kekalahan di laga perdana.

Laga ini juga menguak sejumlah kelemahan mencolok dalam skuad racikan Iraola jika dibandingkan dengan era terdahulu. Di lini belakang dan transisi bertahan, terdapat celah besar di mana koordinasi bek baru Jérémy Jacquet bersama Virgil van Dijk kerap mati langkah—sangat kontras dengan era sebelumnya yang sangat mengandalkan kedisiplinan koordinasi offside serta benteng kokoh Ibrahima Konaté.

Kreativitas sektor sayap juga mengendur akibat hilangnya daya gedor utama pasca perginya Mohamed Salah, membuat tim terpaksa mengandalkan pemain muda Rio Ngumoha yang belum teruji di level tertinggi.

Selain itu, intensitas high-pressing Liverpool belum terbangun padu sehingga menyisakan banyak ruang kosong bagi lawan, berbeda dengan kekompakan gegenpressing era lama yang selalu sukses melumpuhkan opsi umpan lawan sejak dari depan. Secara keseluruhan, Liverpool masih berada dalam fase transisi berat dan membutuhkan waktu adaptasi taktik agar bisa kembali tampil dominan.(*)

BACA JUGA: FSG Jual Saham Liverpool ke Konsorsium Jeff Bezos

Back to top button