Lo Kheng Hong Borong Saham Gajah Tunggal dan Intiland

Lo Kheng Hong menambah porsi kepemilikannya di saham GJTL dan DILD. Mengapa sosok investor legendaris yang mengawali karir sebagai pegawai bank ini berani menggelontorkan dana besar pada kedua emiten tersebut?
WWW.JERNIH.CO – Lo Kheng Hong sosok yang kerap dijuluki “Warren Buffett Indonesia” kembali mencuri perhatian publik melalui aksi akumulasi saham yang konsisten pada dua emiten jagoannya: PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) dan PT Intiland Development Tbk (DILD). Langkah ini membuktikan bahwa LKH—begitu ia akrab disapa—tetap setia pada prinsip value investing yang telah membesarkan namanya.
Lo Kheng Hong adalah sosok investor ritel paling ikonik di Indonesia. Lahir pada 20 Februari 1959, ia berasal dari keluarga sederhana yang tinggal di rumah petak sempit di Jakarta. Perjalanan hidupnya adalah definisi nyata dari financial freedom melalui kesabaran.
LKH menempuh pendidikan malam jurusan Sastra Inggris di Universitas Nasional sambil bekerja sebagai pegawai tata usaha di Overseas Express Bank (OEB). Ia menghabiskan 11 tahun di posisi administrasi sebelum pindah ke Bank Ekonomi dan mencapai posisi kepala cabang.
Setelah 17 tahun berkarir di dunia perbankan, pada tahun 1996 LKH memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus penuh menjadi investor saham. Ia dikenal dengan gaya hidup yang sangat sederhana, menghabiskan waktunya membaca laporan keuangan di taman rumahnya—sebuah ritual yang ia sebut sebagai “RTI” (Reading, Thinking, and Investing).
Aksi borong saham yang dilakukan LKH baru-baru ini didasari oleh keyakinannya terhadap valuasi perusahaan yang masih sangat murah dibandingkan nilai intrinsiknya. Di PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) hingga April 2026, Lo Kheng Hong tercatat terus menambah kepemilikannya di produsen ban terbesar di Asia Tenggara ini. Per 8 April 2026, porsi kepemilikannya telah mencapai 219,88 juta lembar saham atau setara dengan 6,31%.
LKH melihat GJTL sebagai perusahaan dengan fundamental kuat namun dihargai rendah oleh pasar. Dengan harga saham di kisaran Rp1.110, valuasi perusahaan dianggap jauh di bawah nilai aset dan kapasitas produksinya.
Penambahan terbaru sebanyak 410.000 lembar saham diperkirakan bernilai sekitar Rp455,10 juta, menambah total nilai portofolionya di GJTL yang kini mencapai ratusan miliar rupiah.
Sementara di PT Intiland Development Tbk (DILD), LKH juga memperkuat posisinya di sektor properti melalui DILD. Kepemilikannya kini menyentuh 710,05 juta lembar atau sekitar 6,85%.
Ia sering menganalogikan Intiland sebagai “Mercy seharga Bajaj”. Pada suatu titik, ia mencatat bahwa nilai proyek Intiland mencapai Rp20 triliun, sementara kapitalisasi pasarnya hanya Rp1,5 triliun. Selisih nilai aset (landbank) yang masif dibandingkan harga pasar inilah yang menjadi daya tarik utama.(*)
BACA JUGA: Akhir Petualangan Benny Tjokrosaputro di Bursa Saham




