
- AS telah memobilisasi sekitar 2.500 marinir dan personel angkatan laut, termasuk unit pasukan khusus.
- Para analis militer memperingatkan bahwa invasi darat skala penuh ke Iran adalah hal yang hampir mustahil.
JERNIH – Memasuki minggu ketiga perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, eskalasi militer di Timur Tengah mencapai titik paling krusial. Washington dilaporkan mulai menggerakkan ribuan personel elit menuju perbatasan Iran, memicu spekulasi global mengenai kemungkinan adanya operasi darat atau “boots on the ground“.
Hingga Senin, 16 Maret 2026, militer AS telah memobilisasi sekitar 2.500 Marinir dan personel angkatan laut, termasuk unit pasukan khusus. Laporan terbaru menyebutkan tambahan 5.000 personel dari Divisi ke-82—yang ahli dalam penguasaan infrastruktur kritis dan evakuasi darurat—akan tiba dalam beberapa hari ke depan.
Kekuatan pemukul ini didukung oleh USS Tripoli, kapal serbu amfibi terbaru dan tercanggih milik AS yang dirancang khusus untuk serangan pesisir dan operasi khusus. Saat ditanya oleh jurnalis di pesawat Air Force One mengenai tujuan pengiriman pasukan ini, Presiden Donald Trump menolak menjawab dan justru menyebut pertanyaan tersebut “mengganggu”.
William Lawrence, mantan diplomat AS dan pakar hubungan AS-Arab, mengungkapkan skenario yang jauh lebih spesifik daripada sekadar “perang”. Menurutnya, tujuan utama pengerahan pasukan khusus ini adalah untuk merangsek masuk ke wilayah Iran guna menyita stok uranium yang diperkaya.
“Tujuannya bukan hanya menghancurkan program nuklir, tetapi mengambil alih uraniumnya,” ujar Lawrence. Selain nuklir, Lawrence memprediksi Trump akan mencoba menguasai sumber daya minyak Iran, meniru pola yang pernah dilakukan AS di Suriah dan Venezuela.
Invasi Darat: Realistis atau Bunuh Diri?
Meskipun retorika Washington terus memanas, para analis militer memperingatkan bahwa invasi darat skala penuh ke Iran adalah hal yang hampir mustahil. Ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan.
Misalnya situasi geografi yang kompleks. Iran jauh lebih luas dan bergunung-gunung dibandingkan Irak. Invasi total akan membutuhkan ratusan ribu tentara dan persiapan berbulan-bulan yang saat ini belum terlihat.
Sementara pakar senior Ali Alfoneh menjelaskan bahwa militer Iran (IRGC dan Basij) menggunakan struktur desentralisasi. “Sistem ini dirancang agar komando provinsi tetap bertempur meskipun kepemimpinan pusat di Teheran telah dihancurkan,” jelasnya.
Serangan darat akan mengakibatkan jumlah korban jiwa di pihak AS yang sangat besar, sesuatu yang sangat dihindari Trump menjelang pemilu internal dan tekanan ekonomi domestik.
Di sisi lain, krisis energi global kian mencekam akibat penutupan Selat Hormuz. Trump mencoba melakukan “diplomasi tweet” dengan menantang negara-negara seperti China, Prancis, dan Inggris untuk mengawal kapal tanker mereka sendiri.
Namun, Lawrence menyebut ide ini sebagai “fantasi”. China, yang secara aktif mendukung Iran dengan senjata dan intelijen, dipastikan tidak akan bekerja sama dengan AS. Sementara itu, Iran memiliki ribuan kapal cepat, drone efektif, dan rudal jarak pendek yang siap melancarkan perang gerilya laut. “Mengontrol Selat Hormuz lebih mudah diucapkan daripada dilakukan karena garis pantai Iran tepat berada di sana,” tambahnya.
Analis melihat adanya perbedaan kepentingan antara Washington dan Tel Aviv. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diyakini menginginkan perang ini berlanjut hingga seluruh institusi militer dan fasilitas minyak Iran musnah total, yang berisiko menciptakan krisis pengungsi global sebesar krisis Suriah.
Namun, Trump diprediksi akan mengakhiri perang dengan cepat dan mendeklarasikan kemenangan begitu ia mendapat tekanan ekonomi yang cukup berat atau angka jajak pendapat yang buruk. “Trump akan mengakhiri perang ketika ia merasakannya di dalam tulangnya, tidak peduli apa realitas di lapangan,” jelas Lawrence.
Daftar Kekuatan Militer Iran yang Disiapkan Menghadapi Invasi:
- Artesh (Tentara Reguler): 350.000 personel aktif.
- IRGC (Garda Revolusi): 190.000 personel elit.
- Basij (Paramiliter): 90.000 aktif, dengan cadangan hingga 600.000 orang.
| Kategori Target | Lokasi Utama | Tujuan Operasi |
| Nuklir | Natanz, Fordo, Arak | Penyitaan material uranium & sabotase reaktor. |
| Ekonomi | Pulau Kharg, Bandar Abbas | Memutus aliran dana rezim dari ekspor minyak. |
| Militer/Maritim | Selat Hormuz, Pulau Qeshm | Pembukaan jalur tanker & penghancuran rudal pesisir. |
| Politik | Teheran (Pusat Komando) | Serangan dekapitasi terhadap kepemimpinan IRGC. |






