Membaca Ulang Pertemuan Penyair Nusantara XIII: Antara Hangatnya Sambutan dan Bayang-Bayang Ketimpangan

Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) kembali digelar, kali ini memasuki yang ke-13. PPN XIII menjadi ruang temu dan perayaan karya para penyair dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan melintasi batas-batas negara serumpun. Agenda tahunan ini bukan hanya berfungsi sebagai panggung ekspresi sastra, tetapi juga sebagai ajang silaturahmi kebudayaan, tukar gagasan, serta penguatan jejaring antar-pelaku literasi. Dalam konteks ini, PPN menempati posisi yang istimewa. Bukan hanya sekadar acara, tapi menjadi bagian dari dinamika pertumbuhan kesusastraan di kawasan Nusantara.
Dari sisi penyelenggaraan, PPN XIII patut mendapatkan apresiasi tersendiri. Keramahan panitia dalam menyambut kedatangan para tamu menjadi kesan awal yang membekas. Layanan transportasi dari titik kedatangan menuju lokasi acara berjalan cukup lancar, diiringi dengan perjamuan yang layak dan penginapan yang memadai. Hal ini menjadi bukti bahwa penyelenggara memiliki niat kuat untuk menjadikan acara ini nyaman dan berkesan, minimal dari sisi logistik. Dalam kegiatan semacam ini, pelayanan dasar yang baik sangat menentukan suasana batin peserta, dan panitia PPN XIII cukup berhasil menjaga aspek tersebut.
Namun di balik keberhasilan pada aspek penyambutan dan logistik, ada sejumlah catatan kritis yang perlu diajukan demi kemajuan acara serupa di masa mendatang. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah tata kelola pertunjukan atau sesi pembacaan puisi yang berlangsung selama acara. Dalam praktiknya, tidak semua peserta mendapatkan kesempatan untuk tampil di panggung-panggung acara yang berlangsung empat hari dari tanggal 11 sampai 14 September 2025 tersebut. Ada semacam seleksi yang dilakukan, namun tanpa penjelasan atau kriteria yang jelas kepada publik atau peserta.
Hal ini menimbulkan kesan eksklusivitas dalam ruang yang seharusnya inklusif.
Seorang penyair yang telah jauh-jauh datang atau menyiapkan waktu khusus menghadiri acara, membiayai perjalanannya sendiri, dan membawa karya dengan penuh semangat, tentu berhak mendapatkan ruang tampil yang setara dengan peserta lainnya. Ketika hanya sebagian peserta yang diberi panggung, sementara yang lain sekadar menjadi penonton, maka semangat perayaan kolektif sastra itu menjadi timpang. Apalagi jika seleksi itu dilakukan atas dasar pertimbangan relasi pribadi atau kedekatan subjektif, bukan pada kualitas karya atau kontribusi nyata.
Di sisi lain, hal yang juga sering luput dari perhatian adalah tidak adanya bentuk penghargaan yang bersifat ekonomi bagi para penulis atau penyair yang berpartisipasi. Dalam konteks ini, para penyair kerap diposisikan sebagai pelengkap acara: mereka tampil, membaca puisi, menjadi bagian dari dokumentasi, namun tidak memperoleh kompensasi yang setimpal. Padahal, dalam era yang semakin menekankan pentingnya ekonomi kreatif, semestinya karya sastra juga mendapatkan tempat yang layak dalam mekanisme penghargaan tersebut.
Penghargaan tidak harus dalam bentuk besar dan mewah. Namun setidaknya ada pengakuan konkret bahwa waktu, energi, dan karya yang dibawa oleh para penyair memiliki nilai. Misalnya, dalam bentuk honorarium penulisan puisi atau sertifikat apresiasi.
Ketika hal-hal di atas, yaitu apreiasi terhadap sastrawan diterapkan, maka dunia sastra akan lebih sehat, meriah, bermanfaat, dan berkeadilan. Penyair tidak hanya menjadi pengisi acara, melainkan benar-benar diposisikan sebagai pilar utama dari peristiwa itu sendiri.
Pertemuan Penyair Nusantara, dalam segala bentuknya, tetap menjadi salah satu tonggak penting dalam peta kesusastraan regional. Ia mempertemukan suara-suara dari akar rumput hingga metropolitan, dari bahasa daerah hingga bahasa Melayu lintas negara. Namun demi menjaga semangat kolektif yang menjadi jiwanya, PPN perlu terus melakukan perbaikan fundamental dari waktu ke waktu.
Kesetaraan dalam panggung, transparansi dalam seleksi karya, serta penghargaan nyata terhadap karya adalah elemen-elemen yang harus menjadi perhatian serius. Sebab sastra bukan hanya soal kata-kata indah, melainkan juga tentang bagaimana keadilan dan keberpihakan pada pelaku kreatif bisa dijalankan dalam praktik. Mengutip sekelumit komentar salah satu peserta PPN XIII yaitu;
Puisi terbaik selalu dari waktu ke waktu
berupa sekelumit kalimat yang menggugat
membentur kesadaran alam pikir
bahwa penyair sudah harus berhenti
menjadi jelangkung yang datang
tidak diongkosi
pulang tak dikasih honor
(Doddi Ahmad Fauji)
PPN XIII telah memberi banyak kesan positif, namun juga menyisakan pekerjaan rumah yang tak kecil pada pertemuan-pertemuan berikutnya untuk lebih berbenah.
Jakarta, 15 September 2025
***

Khairani Piliang. Penulis aktif dalam dunia sastra Indonesia, khususnya di bidang cerpen dan puisi. Merupakan penulis buku kumpulan cerpen Suatu Pagi di Dermaga, serta telah berkontribusi dalam lebih dari 50 buku antologi bersama, baik cerpen maupun puisi. Karya-karyanya tersebar di berbagai media cetak dan daring nasional, menunjukkan konsistensi dan kekuatan gaung suara dalam lanskap kesusastraan kontemporer.
Selain menulis, juga terlibat dalam berbagai kegiatan literasi dan juga juri di sejumlah lomba penulisan. Ia juga pernah menorehkan prestasi sebagai pemenang dalam lomba penulisan kreatif buku, semakin menegaskan reputasinya sebagai penulis yang produktif dan berpengaruh.
Melalui karya dan aktivitasnya, Ia terus berkontribusi dalam membangun ekosistem sastra yang inklusif dan berdaya, menjadikan setiap perjumpaan sastra sebagai ruang bertumbuh bersama.
No. HP/WA 085311566742
FB: Khairani Piliang, IG: khairanipiliang76, Email: khairanipiliang76@gmail.com
Terima Kasih,
Wassalam: Kharani Piliang.






