
Mendikdasmen melihat ada ancaman laten dari AI jika tidak diimbangi dengan metode konvensional, yaitu merosotnya daya juang dan kemandirian siswa. Menulis tangan dianggap mampu memaksa otak bekerja lebih lambat namun lebih dalam—kontradiksi yang dibutuhkan di tengah dunia yang serba instan.
JERNIH – Di tengah gempuran layar sentuh dan kecerdasan artifisial (AI) yang mampu mengerjakan tugas sekolah dalam hitungan detik, sebuah gerakan “melawan arus” lahir dari meja birokrasi pendidikan Indonesia. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, secara resmi mengumumkan kebijakan yang terdengar klasik namun fundamental: mewajibkan kembali siswa menulis tangan di sekolah.
Kebijakan ini bukan sekadar upaya menghidupkan romantisme masa lalu, melainkan sebuah strategi pedagogis yang didukung oleh riset saraf (neuroscience) global. Di tengah bayang-bayang kemalasan berpikir akibat budaya copy-paste, pena dan kertas kini diposisikan sebagai “kait” bagi memori anak bangsa.
Usai menandatangani SKB Pemanfaatan Teknologi Digital di Jakarta, Kamis (12/3/2026), Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kurikulum baru akan memadukan kecanggihan masa depan dengan kekuatan tradisi. Strateginya unik: siswa dipersilakan menyerap informasi melalui Interactive Flat Panel (IFP) atau video edukasi, namun internalisasi ilmunya wajib dilakukan secara manual.
“Murid bisa nonton film atau video pembelajaran, tapi mereka nanti membuat resume itu dengan tulisan tangan. Kami juga dorong penugasannya lebih banyak membaca buku, bukan sekadar mengerjakan soal,” tegas Abdul Mu’ti.
Mendikdasmen melihat ada ancaman laten dari AI jika tidak diimbangi dengan metode konvensional, yaitu merosotnya daya juang dan kemandirian siswa. Menulis tangan dianggap mampu memaksa otak bekerja lebih lambat namun lebih dalam—kontradiksi yang dibutuhkan di tengah dunia yang serba instan.
Sains di Balik Goresan Pena: Otak Lebih Aktif
Mengapa menulis tangan begitu krusial? Studi mendalam dari Profesor Audrey van der Meer di Norwegian University of Science and Technology (NTNU) memberikan jawaban ilmiahnya. Melalui pemantauan Electroencephalography (EEG) pada otak anak-anak dan dewasa muda, riset menunjukkan bahwa otak jauh lebih aktif saat menulis dengan tangan daripada saat mengetik di keyboard.
Van der Meer menjelaskan bahwa saat ujung pena menekan kertas, otak manusia mengaktifkan bagian sensorimotor secara luas. Ada ribuan impuls listrik yang tercipta dari pengalaman sensorik tersebut—mulai dari merasakan tekstur kertas, melihat bentuk huruf yang unik, hingga mendengar suara gesekan pena.
“Penggunaan pena dan kertas memberi otak lebih banyak ‘kait’ untuk menggantungkan ingatan Anda. Pengalaman sensorik ini menciptakan kontak antara berbagai bagian otak dan membuka otak untuk belajar,” papar Van der Meer.
Sebaliknya, mengetik di keyboard cenderung monoton. Jari hanya melakukan gerakan yang sama untuk setiap huruf, sehingga otak tidak mendapatkan tantangan motorik halus yang dibutuhkan untuk berkembang secara maksimal.
Menyelamatkan Generasi yang Terperangkap Layar
Kekhawatiran Van der Meer selaras dengan kebijakan Abdul Mu’ti. Di Norwegia dan Finlandia, sekolah-sekolah yang beralih sepenuhnya ke digital justru mulai merasakan dampaknya: hilangnya kemampuan motorik halus dan berkurangnya kedalaman pemahaman materi.
Survei menunjukkan anak usia 9–16 tahun menghabiskan hampir empat jam sehari secara online. Jika sekolah pun beralih sepenuhnya ke digital, Van der Meer memperingatkan risiko hilangnya kemampuan kognitif satu generasi atau lebih.
“Meskipun mengetik di keyboard membuat anak merasa mampu menulis teks panjang dengan cepat, belajar menulis tangan adalah fase ‘melelahkan’ yang sangat penting bagi perkembangan saraf,” tambah Van der Meer. Menurutnya, otak yang tidak ditantang dengan gerakan tangan yang rumit tidak akan mencapai potensi penuhnya.
Langkah Indonesia melalui Kemendikdasmen tahun 2026 ini mencoba mengambil jalan tengah yang bijak. Di satu sisi, mata pelajaran Koding dan AI mulai diperkenalkan sebagai pilihan di kelas 5 SD untuk membekali kemampuan teknis masa depan. Di sisi lain, menulis tangan dijadikan benteng terakhir untuk menjaga kedaulatan nalar kritis siswa.
Abdul Mu’ti menjamin bahwa integrasi ini adalah bentuk “kehidupan otentik” dalam pendidikan. Anak-anak tetap mahir teknologi, namun mereka tetap memiliki kendali penuh atas keterampilan motorik halus dan nalar mereka sendiri.
Dengan mewajibkan pena menyentuh kertas, sekolah-sekolah di Indonesia tidak hanya sedang mengajarkan cara menulis huruf, tetapi sedang membangun fondasi agar otak anak-anak tetap tajam di tengah gelombang digitalisasi yang tak terbendung.



