Mengapa Artemis II Tak Mendarat di Bulan?

Misi Artemis II memang hanya terbang melintasi sisi jauh Bulan dengan titik terdekat sekitar 7.400 km (4.000 mil) dari permukaan Bulan. Mengapa tak mendarat sekalian?
WWW.JERNIH.CO – Misi Artemis II sering kali mengundang pertanyaan dari publik: jika NASA sudah pernah mendaratkan manusia di Bulan lewat program Apollo puluhan tahun lalu, mengapa misi berawak pertama di abad ke-21 ini hanya sekadar terbang melintas (flyby) tanpa mendarat?
Meskipun sekilas tampak seperti langkah mundur, keputusan ini sebenarnya didasarkan pada strategi teknis, keamanan, dan perbedaan fundamental dalam arsitektur misi antara era 1960-an dan era modern.
Pada era Apollo, NASA menggunakan pendekatan “sekali jalan” di mana seluruh komponen—modul perintah dan modul pendarat—diluncurkan bersamaan dalam satu roket Saturn V. Namun, program Artemis dirancang untuk keberlanjutan jangka panjang, bukan sekadar kunjungan singkat.
Artemis II menggunakan pesawat luar angkasa Orion yang dirancang untuk membawa kru ke orbit Bulan, namun Orion sendiri tidak memiliki kaki pendarat atau bahan bakar yang cukup untuk turun ke permukaan Bulan dan naik kembali.
Untuk pendaratan di masa depan (Artemis III), NASA akan menggunakan sistem terpisah yaitu Human Landing System (HLS) yang dikembangkan oleh SpaceX (Starship). Pada misi Artemis II, sistem pendarat ini memang belum dijadwalkan untuk berintegrasi karena masih dalam tahap pengujian.
NASA menerapkan filosofi “uji sebelum terbang” yang jauh lebih ketat dibandingkan era Perang Dingin. Artemis II adalah misi berawak pertama bagi roket Space Launch System (SLS) dan kapsul Orion.
BACA JUGA: Rute Perjalanan Artemis 1 Ke Bulan
Mengingat sudah lebih dari 50 tahun manusia tidak meninggalkan orbit rendah Bumi, NASA perlu memastikan bahwa sistem pendukung kehidupan (Life Support System) di dalam Orion berfungsi sempurna dalam kondisi radiasi luar angkasa yang ekstrem.
Melakukan pendaratan di Bulan menambah risiko ribuan kali lipat. Dengan hanya melakukan manuver melintasi sisi jauh Bulan dan kembali ke Bumi (lintasan free-return), NASA dapat memvalidasi performa kru dan wahana tanpa harus menanggung risiko kegagalan teknis saat proses deselerasi menuju permukaan Bulan yang sangat kompleks.
Di era Apollo, NASA menerima hampir 4% dari total anggaran federal AS. Saat ini, NASA beroperasi dengan kurang dari 0,5%. Keterbatasan anggaran ini memaksa NASA untuk membangun infrastruktur secara bertahap.
Alih-alih membangun satu kendaraan raksasa untuk segala urusan, NASA memilih membangun Gateway (stasiun luar angkasa di orbit Bulan) dan sistem pendarat yang bisa dipakai ulang. Artemis II berfungsi sebagai jembatan untuk memastikan “jalan raya” antara Bumi dan orbit Bulan aman sebelum mereka mengirim aset mahal dan nyawa manusia ke permukaan Bulan.
Misi Artemis II bertujuan untuk menguji bagaimana manusia berinteraksi dengan teknologi baru di lingkungan deep space. Selama misi 10 hari ini, kru akan melakukan pengujian kedekatan (proximity operations) setelah lepas dari tahap atas roket untuk mensimulasikan manuver docking yang nantinya akan sangat krusial saat harus berpindah ke wahana pendarat di misi selanjutnya.(*)
BACA JUGA: Turutnya Astronot Kanada di Artemis II Picu Ketidaksukaan Rakyat Amerika






