
Secara teknis, terdapat ketimpangan kekuatan yang masif jika konflik ini pecah menjadi perang terbuka. Pakistan memiliki lebih dari 600.000 tentara aktif, sementara Taliban hanya memiliki sekitar 172.000 personel.
JERNIH – Langit malam di perbatasan Pakistan dan Afghanistan pecah oleh dentuman serangan udara dan artileri darat pada Jumat (27/2/2026). Militer Pakistan melancarkan serangan besar-besaran ke sejumlah kota utama dan pangkalan militer Taliban di Afghanistan, sebuah langkah yang menandai puncak dari ketegangan yang telah membara selama berbulan-bulan.
Serangan ini menyasar pos militer, markas besar, dan depot amunisi di berbagai sektor sepanjang perbatasan. Langkah ini diklaim Islamabad sebagai balasan atas serangan sebelumnya yang diluncurkan pihak Afghanistan terhadap pasukan perbatasan mereka. Namun, jauh di balik baku tembak ini, tersimpan api permusuhan yang jauh lebih kompleks.
Saat Taliban kembali berkuasa di Kabul pada tahun 2021, Pakistan adalah salah satu negara yang paling antusias menyambutnya. Perdana Menteri saat itu, Imran Khan, bahkan menyebut warga Afghanistan telah “memutus belenggu perbudakan”.
Namun, madu hubungan itu cepat berubah menjadi empedu. Islamabad segera menyadari bahwa rezim Taliban di Kabul tidak sekooperatif yang mereka bayangkan. Pakistan menuduh Taliban memberikan perlindungan bagi kelompok militan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) atau “Taliban Pakistan”, serta kelompok pemberontak sekuler dari Balochistan yang ingin memisahkan diri dari Pakistan.
Meskipun Kabul berulang kali membantah wilayahnya digunakan sebagai basis teror, data menunjukkan aktivitas militan terus meningkat setiap tahun sejak 2022. Puncaknya, pada Oktober 2025, bentrokan mematikan menewaskan lebih dari 70 orang dari kedua belah pihak sebelum gencatan senjata yang rapuh diberlakukan.
TTP, Duri dalam Daging Kedua Negara
Siapa sebenarnya TTP? Didirikan pada 2007, kelompok ini adalah aliansi militan di barat laut Pakistan yang berbagi ideologi dengan Taliban Afghanistan. Mereka bertanggung jawab atas penembakan pemenang Nobel Malala Yousafzai pada 2012 dan ribuan serangan ke basis militer hingga pasar di Pakistan.
Hubungan antara Taliban Afghanistan dan TTP sangat intim. Analis senior Amin Saikal dari Nanyang Technological University menjelaskan bahwa Taliban Afghanistan merasa berhutang budi karena TTP membantu mereka melawan pasukan AS di masa lalu.
“Sangat kecil kemungkinan Taliban Afghanistan akan melepas dukungan mereka terhadap TTP. Mengapa? Karena jika TTP ditinggalkan, mereka dikhawatirkan akan bergabung dengan ISK (ISIS-Khorasan), musuh bebuyutan Taliban di Afghanistan,” jelas Dr. Saikal.
Pertarungan “Daud vs Jalut”: Perbandingan Kekuatan
Secara teknis, terdapat ketimpangan kekuatan yang masif jika konflik ini pecah menjadi perang terbuka. Pakistan memiliki lebih dari 600.000 tentara aktif, sementara Taliban hanya memiliki sekitar 172.000 personel.
Dari sisi persenjataan, Pakistan dilengkapi dengan 6.000 kendaraan lapis baja, 400 pesawat tempur canggih, dan status sebagai negara nuklir. Di sisi lain, kekuatan udara Taliban sangat minim, hanya memiliki segelintir helikopter dan pesawat tua tanpa jet tempur efektif.
Namun, Afghanistan memiliki sejarah panjang sebagai “kuburan bagi kerajaan besar” melalui taktik perang gerilya yang melelahkan.
Ketegangan ini semakin diperkeruh oleh manuver diplomatik. India, rival abadi Pakistan, mulai menjalin hubungan erat dengan Taliban untuk memastikan Afghanistan tidak menjadi pusat terorisme yang mengancam keamanan mereka. Dukungan New Delhi ke Kabul dipandang Pakistan sebagai ancaman langsung terhadap pengaruh mereka di kawasan tersebut.
Reaksi dunia mencerminkan kekhawatiran akan stabilitas di Asia Selatan. China sebagai mitra dekat Pakistan sekaligus tetangga Afghanistan, menyatakan “sangat prihatin” dan mendesak kedua pihak menahan diri.
Sementara mendesak penghentian serangan lintas batas segera dan beralih ke jalur diplomatik. Iran juga menawarkan diri sebagai mediator untuk memfasilitasi dialog. Sedangkan Turki dan Qatar diprediksi akan kembali turun tangan untuk memulihkan gencatan senjata.
Selama Taliban Afghanistan masih memberikan tempat tinggal bagi TTP, konflik ini diprediksi akan terus memanas. Pakistan kini tampak lebih bertekad untuk membawa Taliban “ke jalur yang benar” melalui tekanan militer. Di sisi lain, Kabul tampaknya siap membalas dengan serangan-serangan gerilya di pos-pos perbatasan.
Tanpa kompromi nyata soal status TTP, perbatasan sepanjang pegunungan yang terjal itu tampaknya akan terus menjadi ladang api yang siap membakar keamanan regional.






