
Di hadapan pengurus pusat dan daerah, Erick memberi penilaian positif terhadap perkembangan muaythai di bawah kepemimpinan LaNyalla Mahmud Mattalitti. Ia melihat cabang ini mulai menemukan bentuknya—antara pembinaan atlet dan peluang ekonomi. “Saya yakin di bawah kepemimpinan Pak LaNyalla, muaythai bisa berkembang lebih luas, dari pembinaan hingga industri, serta memberi kontribusi bagi ekonomi dan penciptaan lapangan kerja,” kata Menpora Erick.
JERNIH– Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pengurus Besar Muaythai Indonesia di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (10/4), dengan satu pesan utama: muaythai tak cukup hanya mengejar medali, tetapi juga harus masuk ke arus besar industri olahraga.
Di hadapan pengurus pusat dan daerah, Erick memberi penilaian positif terhadap perkembangan muaythai di bawah kepemimpinan LaNyalla Mahmud Mattalitti. Ia melihat cabang ini mulai menemukan bentuknya—antara pembinaan atlet dan peluang ekonomi. “Saya yakin di bawah kepemimpinan Pak LaNyalla, muaythai bisa berkembang lebih luas, dari pembinaan hingga industri, serta memberi kontribusi bagi ekonomi dan penciptaan lapangan kerja,” kata Menpora Erick.
Menurut Erick, Indonesia memiliki peluang meniru negara lain yang berhasil menjadikan muaythai sebagai magnet sport tourism. Kuncinya, kata dia, ada pada keseimbangan antara pembinaan akar rumput dan penguatan ekosistem industri. Rakernas, dalam konteks itu, menjadi forum penting untuk mengevaluasi sekaligus menyusun arah ke depan.
Dukungan serupa datang dari Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia, Marciano Norman. Ia menilai capaian prestasi muaythai tak lahir dari kerja individu, melainkan konsolidasi organisasi. “Prestasi yang diraih menjadi bukti kerja kolektif yang solid. Rakernas ini penting untuk memastikan program berjalan lebih baik, tentu sesuai AD/ART organisasi,” katanya.
Sementara itu, Ketua Komite Olimpiade Indonesia, Raja Sapta Oktohari, menyoroti pentingnya menjaga soliditas di tengah dinamika internal. Ia mendorong agar frekuensi pertandingan ditingkatkan untuk memperkuat ekosistem kompetisi.
“Saya percaya kepemimpinan Bang LaNyalla mampu menjaga soliditas organisasi. Yang penting kita fokus meraih kemenangan untuk Indonesia di tingkat internasional,” kata dia.
Rakernas ini sekaligus menjadi titik konsolidasi untuk program kerja 2026–2027: memperkuat pembinaan atlet, memperluas kompetisi, dan mendorong muaythai sebagai cabang yang bernilai ekonomi.
Namun di balik optimisme itu, dinamika internal organisasi juga mengemuka. LaNyalla secara terbuka menyinggung adanya mosi tidak percaya dari sejumlah pengurus provinsi. Ia menyebut tuduhan tersebut tidak berdasar dan telah dijawab melalui program kerja yang berjalan.
“Kami sudah menunjukkan bukti bahwa organisasi tetap berjalan. Tuduhan tersebut tidak terbukti dan justru merugikan organisasi,” katanya.
PB MI, kata dia, kemudian mengambil langkah tegas dengan membekukan kepengurusan daerah yang dinilai melayangkan tuduhan tanpa dasar. Langkah itu, menurutnya, diambil untuk menjaga marwah organisasi sekaligus memastikan pembinaan tidak terganggu.
Di sisi prestasi, LaNyalla memaparkan hasil terakhir di SEA Games Thailand. Indonesia membawa pulang satu perak dan empat perunggu dari enam nomor. “Capaian ini menunjukkan pembinaan tetap berjalan. Bahkan peluang emas sebenarnya ada, namun ada faktor non-teknis yang tidak bisa kita kendalikan,” kata dia.
Ke depan, PB MI menargetkan agenda besar sepanjang 2026: partisipasi dalam Pekan Olahraga Beladiri di Sulawesi Utara, penyelenggaraan kejuaraan nasional, hingga persiapan menuju SEA Games Malaysia 2027.
LaNyalla juga meminta dukungan lintas lembaga—pemerintah, DPR, hingga DPD—agar pembinaan atlet berjalan konsisten. “Kami membutuhkan dukungan semua pihak agar muaythai terus berkembang dan menghasilkan prestasi membanggakan bagi Indonesia,” kata dia.
Di Rakernas itu, satu hal tampak jelas: muaythai Indonesia sedang berada di persimpangan—antara menjaga stabilitas internal, mengejar prestasi, dan membangun dirinya sebagai industri. [ ]






