
- Di saat para perwira Israel merayakan “suara perempuan,” di saat yang sama ribuan perempuan di Gaza, Lebanon, dan Iran dibungkam selamanya oleh ledakan bom.
- Para aktivis menyoroti kontradiksi antara ucapan “pemberdayaan” dengan dampak nyata perang yang dijalankan Israel.
JERNIH – Sebuah gelombang kecaman masif melanda jagat media sosial setelah militer Israel mengunggah video perayaan Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day / IWD) pada Minggu (8/3/2026). Video yang dirilis dalam bahasa Arab, Farsi, dan Inggris tersebut dinilai sebagai bentuk “kemunafikan luar biasa” karena diunggah di tengah agresi militer yang terus merenggut nyawa perempuan dan anak-anak di berbagai penjuru Timur Tengah.
Dalam video tersebut, militer Israel menampilkan tiga perwira perempuan mereka, termasuk Ella Waweya, perwira Muslim paling terkemuka yang kini menjabat sebagai juru bicara militer bahasa Arab menggantikan Avichay Adraee.
Dalam pesannya, Waweya menyebut bahwa suara perempuan adalah “kekuatan” dan ketangguhan mereka adalah “sebuah pesan.” Ia bahkan menyatakan harapannya untuk “esok yang lebih baik” bagi para perempuan. Sementara itu, seorang perwira lain bernama Shirley Shamsian memberikan dedikasi khusus dalam bahasa Farsi kepada “saudara perempuan pemberani di Israel dan Iran”—pesan yang muncul saat serangan AS-Israel justru tengah menghancurkan infrastruktur Iran.
Tak butuh waktu lama bagi netizen dan aktivis kemanusiaan untuk membanjiri unggahan tersebut dengan data-data mengerikan dari lapangan. Para aktivis menyoroti kontradiksi antara ucapan “pemberdayaan” dengan dampak nyata perang yang dijalankan Israel.
Aktivis pro-Palestina, Matt, mengungkapkan bahwa akibat stres, malnutrisi, dan hancurnya rumah sakit, angka keguguran di Gaza melonjak hingga 300%. Sementara peneliti Assal Rad mengunggah laporan PBB yang menyatakan bahwa rata-rata dua ibu terbunuh setiap jam di Gaza akibat serangan militer.
Sedangkan laporan PBB pada November 2024 menemukan fakta bahwa perempuan dan anak-anak menyumbang hampir 70% dari total kematian yang terverifikasi di Jalur Gaza.
Netizen juga mengingatkan publik pada tragedi serangan udara AS (sekutu utama Israel) terhadap sekolah dasar putri Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran. Serangan tersebut menewaskan antara 168 hingga 180 siswi sekolah, menjadikannya salah satu serangan paling mematikan bagi anak perempuan dalam fase awal agresi gabungan ini.
Di Lebanon, situasi serupa terjadi. Puluhan perempuan dan anak perempuan dilaporkan tewas dalam sepekan terakhir setelah perang meluas ke wilayah tersebut.
Para ahli hukum internasional dan organisasi kemanusiaan menyimpulkan bahwa serangan Israel di wilayah Palestina bukan hanya tentang penghancuran militer, tetapi juga melibatkan berbagai bentuk kekerasan berbasis gender.
Dengan sengaja menargetkan fasilitas kesehatan, membunuh tenaga medis, dan memblokir pengiriman obat-obatan darurat, Israel dianggap secara sistematis membahayakan kesehatan reproduksi perempuan. Tindakan ini dipandang sebagai upaya untuk melumpuhkan martabat dan hak menentukan nasib sendiri rakyat Palestina melalui penghancuran fungsi dasar kehidupan perempuan.
Bagi banyak pihak, video perayaan IWD oleh militer Israel dianggap sebagai upaya purple-washing—menggunakan isu hak perempuan untuk menutupi catatan pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Di saat para perwira Israel merayakan “suara perempuan,” di saat yang sama ribuan suara perempuan di Gaza, Lebanon, dan Iran dibungkam selamanya oleh ledakan bom.






