CrispyVeritas

Monopoli 17 Logam Misterius China, Kartu Truf Paling Mematikan Melawan Donald Trump

Kini, China menguasai sekitar dua pertiga penambangan rare earth global. Secara geologis, Tiongkok juga merupakan rumah bagi cadangan alam terbesar di dunia.

JERNIH – Cengkeraman Tiongkok yang kuat atas unsur Rare Earth (Logam Tanah Jarang) — mulai dari penambangan hingga menjadi magnet berteknologi tinggi — adalah hasil dari kampanye strategis selama puluhan tahun. Hari ini, cengkeraman ini menjelma menjadi kartu truf yang sangat mematikan dalam pertarungan politik dan ekonomi dengan Washington.

17 elemen logam misterius ini adalah urat nadi ekonomi masa depan: baterai kendaraan listrik, turbin angin raksasa, smartphone, mesin MRI, dan hampir semua sistem senjata canggih—mulai dari jet F-35, panduan rudal, hingga penargetan laser dan lapisan stealth.

Meskipun Barat tengah berupaya keras membangun rantai pasok alternatif, para analis sepakat bahwa butuh 7 hingga 15 tahun dan puluhan miliar dolar sebelum Amerika Serikat (AS) dan sekutunya bisa melepaskan diri dari cekikan Tiongkok. Hingga saat itu, material paling krusial di dunia tetap berada di bawah kendali satu negara.

Sementara itu, di Ganzhou, markas besar baru yang megah sedang dibangun untuk China Rare Earth Group, salah satu dari dua perusahaan BUMN raksasa di industri ini, hasil dari konsolidasi bertahun-tahun yang diarahkan langsung oleh Beijing.

Pada awal Oktober, Beijing meluncurkan kendali ekspor besar-besaran terhadap rare earth. Keputusan ini mengirim gelombang panik ke seluruh pabrik global dan secara instan membekukan miliaran dolar lini produksi berteknologi tinggi.

Langkah ini mendarat seperti serangan presisi di Washington, tepat ketika perang dagang era kedua Donald Trump baru saja memanas. Dalam hitungan minggu, langkah Tiongkok ini memaksa Gedung Putih untuk kembali duduk di meja negosiasi.

Pada KTT berisiko tinggi di Korea Selatan bulan lalu, Presiden Trump dan Xi Jinping menandatangani gencatan senjata yang rapuh selama satu tahun. Perjanjian tersebut menjamin kelanjutan pasokan rare earth dan menangguhkan tarif paling keras AS.

Di Beijing, kesepakatan itu sudah dirayakan sebagai kemenangan telak: Tiongkok tidak menyerahkan apa pun secara permanen, mempertahankan cengkeramannya, dan membeli waktu satu tahun lagi untuk memperlebar keunggulan yang sudah tak tertandingi.

Rare earth kemungkinan akan tetap menjadi pusat negosiasi ekonomi Sino-AS di masa depan, terlepas dari kesepakatan sementara sejauh ini,” ujar Heron Lim, dosen ekonomi di ESSEC Business School, kepada AFP. “Tiongkok telah menunjukkan kesediaannya untuk menggunakan lebih banyak tuas perdagangan demi menjaga Amerika Serikat tetap di meja negosiasi.”

Ironisnya, selama Perang Dingin, Amerika Serikat adalah pemimpin dalam pengembangan kemampuan ekstraksi dan pemrosesan rare earth. Tambang Mountain Pass di California pernah memasok sebagian besar kebutuhan global.

Namun, seiring meredanya ketegangan dengan Moskow dan meningkatnya kesadaran akan dampak lingkungan yang besar dari industri rare earth, AS secara bertahap memindahkan kapasitas produksinya ke luar negeri pada tahun 1980-an dan 1990-an.

Kini, Tiongkok menguasai sekitar dua pertiga penambangan rare earth global. Secara geologis, Tiongkok juga merupakan rumah bagi cadangan alam terbesar di dunia.

Yang lebih krusial, Tiongkok memiliki monopoli hampir total dalam pemisahan dan pemurnian, menguasai sekitar 90% dari seluruh pemrosesan global. Keunggulan ini diperkuat dengan penguasaan paten dan kontrol ekspor ketat untuk mencegah know-how pemrosesan keluar dari negara itu.

Meskipun Washington dan sekutunya kini berlomba untuk mengembangkan rantai pasok alternatif, dan AS mengarahkan dana besar untuk proyek mine-to-magnet pada 2027, para ahli memperingatkan bahwa proses ini akan memakan waktu bertahun-tahun.

Tragedi ini bukanlah hal baru. Pada tahun 2010, sengketa teritorial maritim dengan Tokyo membuat Beijing menangguhkan pengiriman mineral ini ke Jepang—insiden pertama yang menyoroti implikasi geopolitik dari kontrol Tiongkok. Lima belas tahun kemudian, Tiongkok tetaplah produsen utama rare earth, dan kini, menggunakannya untuk mendikte langkah superpower global.

Back to top button