CrispyVeritas

Para Jutawan Amerika Serikat Mulai Tinggalkan Negara

Selamat tinggal Amerika! Bukan karena politik atau pajak, para jutawan AS ramai-ramai pindah negara demi mencari layanan kesehatan yang masuk akal.

WWW.JERNIH.CO –  Selama ini kita menganggap pajak tinggi adalah alasan utama para miliarder pindah negara alias eksodus. Namun, tren terbaru menunjukkan adanya pergeseran motivasi yang mengejutkan.

Bukan lagi sekadar menghindari tagihan pajak, para jutawan Amerika Serikat kini melirik paspor negara lain demi satu hal yang sangat krusial: layanan kesehatan yang terjangkau.

Biaya rumah sakit swasta yang selangit di AS telah menjadi faktor pendorong utama dalam fenomena “migrasi jutawan” ini, mengarahkan mereka ke negara-negara dengan premi asuransi lebih rendah dan akses yang lebih mudah ke perawatan spesialis.

Menurut data dari Henley Private Wealth Migration Report 2025, diperkirakan ada 142.000 jutawan yang berpindah lintas negara tahun ini—angka tertinggi yang pernah tercatat.

Tren ini diprediksi akan terus melonjak hingga 165.000 orang pada tahun 2026. Menariknya, meskipun AS masih menerima kedatangan orang kaya baru, warga negara Amerika justru menjadi kelompok pemohon migrasi investasi terbesar di dunia. Christian H. Kaelin, pimpinan Henley & Partners, menyebut bahwa mobilitas global kini menjadi strategi manajemen risiko bagi keluarga kaya guna memastikan gaya hidup mereka tetap berkelanjutan di masa tua.

Amerika Serikat memegang predikat sebagai pasar layanan kesehatan swasta termahal di dunia. Berdasarkan SIP Health Cost Index 2025, rata-rata biaya asuransi kesehatan swasta internasional (IPMI) di AS mencapai Rp287 juta per orang setiap tahunnya. Bandingkan dengan negara-negara di kategori menengah seperti Afrika Selatan atau Monako yang berkisar di angka Rp113 juta hingga Rp121 juta.

Bahkan, CEO SIP Medical Family Office, Kevin Bürchler, menekankan bahwa perbedaan selisih biaya ini sangatlah signifikan. Memilih tinggal di negara yang tepat bisa memangkas pengeluaran asuransi dari yang asalnya lebih dari Rp480 juta menjadi hanya sekitar Rp160 juta per tahun. Di dalam negeri AS sendiri, negara bagian seperti New York dan California mulai ditinggalkan penduduk kayanya karena biaya hidup yang mencekik, sementara negara bagian dengan ekosistem kesehatan yang kuat seperti Massachusetts dan Hawaii menjadi primadona baru bagi lansia kaya.

Migrasi orang-orang super kaya ini bukan sekadar angka di atas kertas; mereka membawa dampak ekonomi yang masif bagi negara tujuan. Setiap satu orang kaya yang membawa masuk dana sebesar Rp160 miliar setara dengan negara tersebut menghasilkan pendapatan ekspor dalam jumlah yang sama.

Kedatangan mereka memicu efek ganda yakni meningkatkan bursa saham lokal, membuka lapangan kerja baru melalui bisnis yang mereka bangun, hingga meningkatkan konsumsi di sektor ritel mewah dan kuliner.

Namun, tren ini juga memberikan sinyal peringatan bagi sistem kesehatan secara umum. Jika mereka yang memiliki uang saja mulai “menyerah” dengan biaya medis di AS, ini menandakan adanya tekanan besar pada sistem kesehatan yang akan berdampak pada semua lapisan masyarakat.

Bagi Anda yang sedang merancang rencana masa tua, memperhatikan pola migrasi para jutawan ini bisa menjadi referensi berharga. Lokasi yang mereka pilih biasanya merupakan wilayah yang paling siap menghadapi lonjakan biaya medis dan populasi lansia di masa depan.

Ke mana para jutawan itu berpindah?

Eropa menjadi magnet utama bagi jutawan Amerika, dengan Portugal, Yunani, dan Spanyol sebagai destinasi teratas berkat program residensi berbasis investasi atau Golden Visa. Di Portugal, skema pajak khusus dan iklim yang hangat menawarkan pelarian sempurna dari mahalnya biaya hidup di California atau Florida, sementara Yunani dan Spanyol menawarkan asuransi kesehatan swasta yang 50% hingga 70% lebih murah daripada di AS.

Selain itu, Swiss tetap menjadi pilihan eksklusif bagi mereka yang memprioritaskan privasi tingkat tinggi serta layanan medis spesialis terbaik di dunia, meskipun harus dibayar dengan biaya hidup yang tetap premium.

Beralih ke wilayah Asia dan Timur Tengah, Singapura dan Uni Emirat Arab (khususnya Dubai) muncul sebagai pusat pertumbuhan kekayaan baru yang sangat menjanjikan. Singapura memikat para jutawan dengan stabilitas politik dan sistem pajak rendah, didukung oleh fasilitas medis kelas dunia yang sangat efisien.

Di sisi lain, Dubai telah bertransformasi menjadi “surga” bagi ekspatriat kaya karena kebijakan pajak pendapatan nol persen dan pembangunan infrastruktur medis yang sangat modern, memberikan rasa aman secara finansial maupun personal bagi para investor global.

Bagi jutawan yang mencari konsep “kemewahan terjangkau,” negara-negara di Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam kini semakin populer. Thailand, khususnya, telah menembus jajaran elit destinasi migrasi karena kualitas rumah sakit swastanya yang melayani wisata medis berstandar internasional namun dengan harga lokal yang jauh lebih ekonomis.

Kombinasi antara kualitas hidup yang eksotis, biaya operasional harian yang rendah, dan akses kesehatan premium menjadikan wilayah ini pilihan strategis bagi keluarga kaya yang ingin mengoptimalkan pengeluaran medis mereka tanpa menurunkan standar kenyamanan.(*)

BACA JUGA: Demokrasi Amerika Serikat di Ujung Senja

Back to top button