Pedro Sanchez, PM Spanyol Tegas Tolak Ajakan AS

Keputusan Sanchez yang tegas bikin Trump berang. Bahkan lalu mengancam embargo. Bagi Sanchez ini adalah sikap yang mencerminkan kehendak rakyatnya. Apalagi bakal digelar pemilu di Spanyol.
WWW.JERNIH.CO – Ketegangan diplomatik antara Madrid dan Washington mencapai titik didih. Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, secara tegas menyatakan bahwa Spanyol tidak akan terlibat dalam operasi militer terhadap Iran yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Israel.
Keputusan ini menempatkan Spanyol sebagai salah satu suara paling kritis di Eropa, yang memilih jalan diplomasi di tengah eskalasi militer yang kian memanas di Timur Tengah.
Di balik sikap Spanyol dan tanggapan keras PM Sánchez terhadap tekanan Amerika Serikat ada alasan tegas.
Setidaknya ada tiga pilar utama yang melandasi kebijakan ini. Pertama, kepatuhan pada hukum internasional. Spanyol menegaskan bahwa serangan militer sepihak terhadap Iran merupakan pelanggaran terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menteri Luar Negeri Spanyol, José Manuel Albares, menyatakan bahwa Madrid tidak akan memberikan dukungan militer atau mengizinkan penggunaan wilayahnya untuk operasi yang tidak memiliki mandat internasional yang jelas. Bagi Spanyol, setiap tindakan militer harus melalui upaya kolektif dan selaras dengan prinsip-berinsip hukum internasional.
Kedua, Spanyol trauma pada konflik masa lalu. PM Sánchez berulang kali merujuk pada kesalahan masa lalu, khususnya intervensi militer di Irak dan Afghanistan yang berujung pada kekacauan jangka panjang.
Madrid memandang serangan terhadap Iran sebagai “bencana” yang hanya akan menciptakan “lubang hitam” keamanan baru di Timur Tengah. Spanyol mengkhawatirkan adanya eskalasi yang tak terkendali—yang oleh Sánchez disebut sebagai permainan “Roulette Rusia” dengan taruhan nyawa jutaan orang.
Ketiga, yang paling jelas, titik konflik utama adalah penolakan Spanyol untuk mengizinkan militer AS menggunakan pangkalan gabungan di Rota dan Morón de la Frontera. Spanyol menegaskan bahwa meskipun pangkalan tersebut dikelola bersama, penggunaan fasilitas untuk menyerang kedaulatan negara lain harus mendapatkan persetujuan Madrid.
BACA JUGA: Saat Barat Menindak Pendatang, Spanyol Justru Rangkul 500.000 Imigran Gelap Jadi Warga Legal
Akibat penolakan ini, AS terpaksa memindahkan belasan pesawat militer dan tanker pengisian bahan bakar keluar dari wilayah Spanyol.
Tanggapan Spanyol terhadap ancaman Amerika Serikat, terutama setelah Presiden Donald Trump mengancam akan melakukan embargo perdagangan penuh, sangatlah lugas dan menantang.
“Posisi pemerintah Spanyol bisa ditegaskan dalam empat kata: Tidak untuk perang (No a la guerra),” tegas Sanchez.
Sánchez menegaskan bahwa Spanyol tidak akan bisa “dibeli” atau ditekan melalui ancaman ekonomi. Dalam pidato nasionalnya, ia menyatakan bahwa Spanyol tidak akan menjadi kaki tangan dalam tindakan yang dianggap “buruk bagi dunia” hanya karena takut akan balasan atau pembalasan ekonomi dari negara sekutunya.
PM Sánchez juga memberikan tanggapan menohok terkait standar ganda dalam kebijakan luar negeri. Ia membandingkan konsistensi Spanyol dalam mengutuk agresi di berbagai belahan dunia—mulai dari Ukraina, Jalur Gaza, hingga sekarang Iran.
Baginya, martabat moral sebuah bangsa lebih tinggi daripada keuntungan perdagangan sementara. Ia bahkan secara implisit menyentil retorika Washington dengan menyatakan bahwa “satu tindakan ilegal tidak bisa dibalas dengan tindakan ilegal lainnya.”
Ketegangan ini membawa hubungan bilateral kedua negara ke titik terendah dalam beberapa dekade. Amerika Serikat, melalui Gedung Putih, sempat mengklaim bahwa Spanyol telah melunak dan setuju bekerja sama, namun klaim ini langsung dibantah mentah-mentah oleh Madrid dalam hitungan jam.
Meskipun diancam dengan embargo perdagangan yang dapat mengganggu ekspor produk farmasi, minyak zaitun, dan energi, Spanyol tetap berdiri pada posisinya. Langkah ini pun mendapat dukungan dari beberapa pemimpin Eropa lainnya dan pujian dari Teheran, yang menganggap Spanyol sebagai “suara hati nurani” di dunia Barat yang masih berani menjunjung tinggi etika di atas kepentingan militerisme.
Dengan pemilihan umum Spanyol yang semakin dekat, kebijakan Sánchez ini juga mencerminkan sentimen domestik warga Spanyol yang secara historis memang sangat kontra terhadap keterlibatan militer dalam konflik-konflik besar di Timur Tengah.(*)
BACA JUGA: Parlemen Spanyol Resmi Menyetujui Embargo Senjata Israel






