
Hubungan China-Venezuela adalah simbiosis mutualisme yang sempurna—setidaknya di atas kertas. China butuh energi untuk industri mereka, sementara Venezuela butuh uang tunai untuk bertahan dari sanksi AS.
JERNIH – Hanya beberapa jam sebelum pasukan Amerika Serikat melancarkan operasi militer untuk menciduk Nicolas Maduro pada 3 Januari 2026, sang Presiden Venezuela masih sempat menjamu utusan khusus China, Qiu Xiaoqi. Pertemuan itu bukan sekadar formalitas diplomatik, melainkan simbol betapa dalamnya kuku Beijing tertanam di Caracas.
Kini, dengan jatuhnya rezim Maduro ke tangan AS, Beijing menghadapi kenyataan pahit: investasi raksasa senilai lebih dari USD 100 miliar (sekitar Rp1.500 triliun) yang dikucurkan selama dua dekade terakhir terancam menguap. Pertanyaan besarnya kini bukan lagi soal diplomasi, melainkan apakah China mampu mendapatkan kembali uangnya?
Hubungan China-Venezuela adalah simbiosis mutualisme yang sempurna—setidaknya di atas kertas. China butuh energi untuk industri mereka, sementara Venezuela butuh uang tunai untuk bertahan dari sanksi AS.
Beijing tidak hanya memberikan pinjaman; mereka membeli pengaruh di “halaman belakang” Amerika Serikat sebagai balasan atas kehadiran militer AS di sekitar Taiwan dan Laut China Selatan. Data dari Industrial Futures menunjukkan betapa dominannya China: dari 900.000 barel minyak yang diekspor Venezuela setiap hari, sebanyak 800.000 barel atau hampir 90% dikirim langsung ke China.
Namun, dominasi ini kini berada dalam ancaman likuidasi. Pakar keuangan memperkirakan Caracas masih berutang sekitar USD 10 hingga 15 miliar kepada Beijing.
Sektor-Sektor Kritis yang Terancam “Dibersihkan”
Kejatuhan Maduro diprediksi akan diikuti oleh tinjauan ulang besar-besaran terhadap seluruh kontrak kerja sama dengan China. Sektor-sektor yang terancam meliputi:
- Minyak dan Gas: Perusahaan raksasa seperti Chevron milik AS diprediksi akan masuk dan mengambil alih kendali. Joint venture seperti PetroSinovensa milik China terancam dibatalkan dengan alasan “inkonstitusional”.
- Pertambangan: Venezuela memiliki cadangan emas terbesar di Amerika Latin, serta mineral kritis seperti tanah jarang (rare earths). AS dipastikan akan mencoba memutus ketergantungan mereka pada China dengan mengamankan sumber daya ini untuk mereka sendiri.
- Telekomunikasi: Raksasa teknologi Huawei dan ZTE yang telah membangun infrastruktur 4G dan sistem kartu identitas nasional Venezuela berada dalam posisi sangat rentan. Pemerintahan baru yang pro-AS kemungkinan besar akan memerintahkan pembongkaran peralatan China dengan alasan keamanan nasional.
Secara geopolitik, kekalahan China di Venezuela bisa jadi hanyalah awal dari “pembersihan” pengaruh Beijing di Amerika Latin. Pemerintahan Trump, melalui Menteri Luar Negeri Marco Rubio, secara terbuka menyuarakan kebangkitan Doktrin Monroe—sebuah prinsip berusia dua abad yang menyatakan bahwa AS memiliki hak eksklusif atas pengaruh di Belahan Bumi Barat.
“China telah membangun pengaruh selama dua dekade di sini, dan sekarang mereka berisiko kehilangan semuanya dalam sekejap,” ujar para analis. Jika Trump melanjutkan ancaman intervensi ke Panama, Kolombia, hingga Meksiko, maka seluruh proyek Belt and Road Initiative (BRI) milik China di wilayah tersebut bisa runtuh seperti kartu domino.
Beijing kini hanya bisa memantau dari jauh. Tanpa kekuatan militer di lokasi, mereka harus bergantung pada lobi-lobi finansial yang lemah untuk menyelamatkan aset-aset mereka. Di papan catur global ini, untuk sementara, Washington telah melakukan langkah skakmat terhadap investasi termahal China di Amerika Latin.






