Prahara di Tubuh FIFA, 3 Konfederasi Besar Desak Gianni Infantino Lengser

Di tengah ancaman pemboikotan hingga wacana pembentukan turnamen tandingan, masa depan kepemimpinan Infantino kini berada di ujung tanduk. Apakah ini akhir dari era sang penguasa sepak bola dunia?
WWW.JERNIH.CO – Tiga konfederasi sepak bola terbesar—UEFA (Eropa), Concacaf (Amerika Utara, Tengah, dan Karibia), serta AFC (Asia)—secara terbuka melayangkan surat kritik tajam yang menuduh FIFA dan Presidennya, Gianni Infantino, telah merusak kepercayaan publik dan organisasi melalui serangkaian tindakan manipulatif.
Keretakan besar ini dipicu oleh rencana kontroversial pembentukan Fifa Forward Enterprise (FFE), di mana FIFA berniat mendirikan perusahaan baru untuk mengelola hak komersial dan tiket seluruh kompetisi FIFA—termasuk Piala Dunia—dengan menjual 21% sahamnya kepada perusahaan investasi swasta.
Meski proyek tersebut akhirnya dibatalkan akibat gelombang penolakan keras yang dipelopori UEFA hingga diiringi ancaman pemboikotan turnamen, tensi ketegangan di internal organisasi justru kian memuncak.
Dalam surat terbuka yang ditandatangani oleh para presiden dan sekretaris jenderal dari ketiga konfederasi tersebut, ditegaskan bahwa isu FFE bukan sekadar masalah teknis, melainkan menyangkut integritas olahraga dan para pemimpinnya.
Surat tersebut menegaskan bahwa ketika kepercayaan dirusak melalui manipulasi dan seorang individu menempatkan dirinya di atas kolektif yang memberinya wewenang, maka kewajiban tersebut telah diabaikan, karena kepemimpinan dalam sepak bola bukanlah sebuah kepemilikan melainkan pengabdian.
Meski nama Infantino tidak disebutkan secara eksplisit, sejumlah sumber mengonfirmasi bahwa pesan ini merupakan sinyal kuat agar pria asal Swiss tersebut segera mengundurkan diri secara terhormat daripada memaksakan diri maju kembali dalam pemilihan Maret mendatang.
BACA JUGA: Bos FIFA Gianni Infantino Minta Maaf dan Batalkan Rencana Obral Saham Piala Dunia
Selain itu, konfederasi mengecam tindakan Infantino yang menggelar rapat terbatas di Rabat, Maroko, minggu lalu dengan hanya mengumpulkan jajaran staf senior internal FIFA tanpa melibatkan Anggota Dewan FIFA atau asosiasi negara. Mereka menilai langkah FIFA yang sekadar meminta maaf atas FFE tidaklah cukup, sebab upaya menjual aset strategis seperti Piala Dunia dianggap sebagai kegagalan fatal dalam mengambil keputusan serta pelanggaran kepercayaan yang mendasar.
Sebagai bentuk keseriusan, UEFA mengeluarkan peringatan hukum agar FIFA tidak menghapus atau memusnahkan dokumen apa pun yang berkaitan dengan rencana FFE, sembari menuntut agar evaluasi tidak dilakukan secara internal melainkan oleh pihak ketiga yang independen.
Di balik layar, eskalasi konflik ini berpotensi memicu perang saudara terbesar sepanjang sejarah sepak bola, di mana ketiga konfederasi dilaporkan mulai mendiskusikan opsi untuk menggelar turnamen antar-wilayah mereka sendiri agar para pemain tetap memiliki kompetisi resmi jika ancaman boikot terhadap turnamen FIFA—termasuk Piala Dunia Wanita U-20—benar-benar direalisasikan.
Wilayah Asia (AFC) kini menjadi medan tempur politik yang krusial, di mana keputusan Presiden AFC Sheikh Salman untuk menandatangani surat terbuka tersebut menandakan adanya dorongan perubahan yang kuat, meskipun beberapa negara seperti Qatar, UAE, dan Filipina dikabarkan masih mendukung Infantino bersama konfederasi Amerika Selatan (CONMEBOL), Afrika (CAF), dan Meksiko.
Sementara itu, tanggapan resmi FIFA sejauh ini hanya berupa pernyataan yang mengecam keras dugaan upaya terencana untuk merusak stabilitas organisasi, namun dengan tekanan yang terus bertubi-tubi dari Eropa, Asia, dan Amerika, masa depan kepemimpinan Gianni Infantino kini berada di ujung tanduk.(*)
BACA JUGA: Skandal Perselingkuhan Bos FIFA Gianni Infantino Terungkap, Mosi tak Percaya Menguat






