
“Aku memiliki kebebasan untuk mengambil risiko, mengatakan tidak. Kebebasan untuk menjadi siapa yang benar-benar kuinginkan, bukan tunduk pada ini atau itu hanya demi bertahan hidup” – Robert Redford (1936-2025).
JERNIH – Dunia perfilman tertunduk dalam duka ketika kabar berpulangnya Robert Redford terdengar. Namun di balik sorotan kamera dan deretan film box office yang ia bintangi, Redford meninggalkan pelajaran berharga: bahwa kejayaan sejati tidak hanya diukir di layar, melainkan juga dalam cara seseorang menjalani hidup sehari-hari — dengan mencintai keluarga, menjaga alam, dan tetap jujur pada dirinya sendiri.

Ia tumbuh bukan hanya dengan pesona penampilan — rambut pirang bergelombang, tatapan teduh, senyum hangat — tetapi juga dengan hasrat besar pada seni, kebebasan, dan cerita-cerita manusiawi. Ia tidak puas hanya menjadi “the handsome leading man” di film populer; ia melangkah lebih jauh. Redford memilih peran yang sarat makna, dengan beban moral dan sosial, bahkan tak gentar tampil dalam film yang menggugat kekuasaan, kejujuran, dan sisi gelap masyarakat.
Di usia matang, Redford tidak berhenti di depan kamera. Ia menjelma sutradara, produser, sekaligus pendiri institusi penting: Sundance Film Festival dan Sundance Institute. Lewatnya, ia memberi ruang bagi para pembuat film independen untuk bersuara, melawan arus komersial yang sering mengabaikan kisah kecil, suara yang datang “dari pinggiran.”
Jejak di Layar Perak
Warisan film Redford adalah mosaik antara karya populer dan karya penuh makna. Dalam Butch Cassidy and the Sundance Kid (1969), ia mempopulerkan citra “outlaw romantis” — lembut, karismatik, dan penuh humor. Film ini sukses besar, dan dari namanyalah “Sundance” kemudian lahir.

The Sting (1973), kolaborasinya yang ikonik bersama Paul Newman, menghadirkan plot cerdas dan memenangi Best Picture, sekaligus meraup keuntungan besar.
All the President’s Men (1976) menampilkan Redford sebagai jurnalis Bob Woodward dalam drama politik investigatif seputar skandal Watergate. Film ini bukan hanya sukses secara kritis, tapi juga komersial, meneguhkan Redford sebagai aktor dengan integritas dan daya tarik luas.
Ia tidak pernah takut menantang dirinya sendiri. Dari jurnalis, pria biasa yang terseret konspirasi (Three Days of the Condor), hingga karakter tua penuh refleksi (All Is Lost, The Old Man & the Gun). Redford menolak mengulang diri, selalu mencari peran yang baru dan berani.

Manusia di Balik Legenda
Namun Redford bukan semata milik panggung dan kamera. Ia vokal dalam isu lingkungan, keadilan, dan hak cipta kreatif. Baginya, seni adalah medium refleksi, kritik, sekaligus harapan.
Di balik ketenaran, ia dikenal rendah hati. Rekan-rekannya menyebut Redford bekerja keras, menjaga integritas, dan enggan terjebak dalam formalitas kosong. Ia menghormati pekerjaannya, sekaligus mereka yang bekerja bersamanya.
Jauh dari hiruk pikuk Hollywood, Redford adalah sosok yang memilih hidup dalam kesederhanaan. Ia menakar hidup dengan cinta, keheningan, dan penghormatan pada keluarga serta alam.
Lahir pada 18 Agustus 1936 di Santa Monica, California, Redford dibesarkan dalam keluarga sederhana. Kehilangan ibunya di usia muda menorehkan luka yang membentuk sensitivitasnya terhadap kehidupan. Ia pernah terseret dalam masa-masa liar, namun seni dan perjalanan ke Eropa membawanya kembali menemukan arah.

Tahun 1958, ia menikah dengan Lola Van Wagenen, dikaruniai empat anak. Namun kebahagiaan mereka direnggut saat putra pertamanya, Scott Anthony, meninggal di usia 5 bulan. Tragedi ini meninggalkan luka abadi, namun juga memperdalam kesadarannya akan rapuhnya hidup.
Setelah berpisah, Redford menikah lagi pada 2009 dengan Sibylle Szaggars, seorang seniman lingkungan asal Jerman. Bersamanya, Redford hidup lebih tenang di pegunungan Utah — tempat di mana hutan, gunung, dan keheningan menjadi rumah spiritual. Ia percaya alam punya bahasa sendiri, dan ia menjadikannya guru: tentang kesabaran, keseimbangan, dan keberanian untuk hidup apa adanya.

Warisan yang Tak Pernah Padam
Jika film adalah warisan publik Redford, maka cinta, kesetiaan, dan kepeduliannya pada lingkungan adalah warisan pribadi yang lebih dalam. Anak-anak, cucu, dan komunitas di sekitarnya menyaksikan bagaimana ia hidup bukan untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk orang lain.
Robert Redford adalah bukti bahwa seorang legenda tetaplah manusia — dengan luka, cinta, kehilangan, dan kebahagiaan sederhana yang membentuk jiwanya.
Dan di sanalah ia abadi: dalam setiap film yang ia mainkan, dalam setiap senyap hutan yang ia cintai, dalam setiap kisah hidup yang ia sentuh.(*)
BACA JUGA: Robert Redford dan Dustin Hoffman
