Crispy

‘Sekarat Karena Haus’: Nestapa Warga Al-Mawasi di Tengah Krisis Air Bersih Gaza

Di tengah gempuran konflik yang tak kunjung usai, warga Palestina di kamp pengungsian al-Mawasi, Gaza, kini menghadapi musuh baru yang tak kalah mematikan yakni dahaga. Krisis air bersih telah mencapai titik nadir, memaksa ribuan keluarga berjuang hidup di bawah ancaman dehidrasi dan penyakit.

JERNIH – Setiap pagi, Nawaf al-Akhras harus menempuh perjalanan sejauh 1,5 kilometer dari tendanya hanya untuk mengantre air. Bukan perjalanan singkat, Nawaf dan putra sulungnya seringkali harus menghabiskan waktu hingga lima jam di bawah terik matahari demi mengisi beberapa jeriken air.

Nawaf, ayah dari tujuh anak yang mengungsi dari Rafah dua tahun lalu, menyebut rutinitas ini sebagai siksaan harian. “Seluruh hari saya habis hanya untuk mengantre air. Ini adalah penderitaan harian, hanya agar kami bisa minum,” tuturnya mengutip laporan Al Jazeera.

Kondisi di al-Mawasi semakin memburuk setelah Eta, perusahaan penyedia air minum yang melayani pengungsi dari Rafah hingga Beit Hanoun, berhenti beroperasi karena kekurangan dana. Sebelumnya, truk-truk air datang hampir setiap hari ke dekat tenda pengungsi, namun kini bantuan tersebut telah terhenti selama berminggu-minggu.

“Kami sudah mati karena kelaparan, dan sekarang mereka menguji kematian dengan rasa haus pada kami,” ujar Nawaf lirih. Dengan jatah air yang sangat terbatas, ia terpaksa merasionalisasi air minum untuk keluarganya.

Kekhawatiran Nawaf kian memuncak seiring datangnya musim panas. Hidup di dalam tenda plastik saat suhu melonjak terasa seperti “dipanggang di atas penggorengan”. Tanpa air bersih yang cukup, situasi ini diprediksi akan menjadi bencana kemanusiaan yang katastropik.

Salah al-Koush, pengungsi lain di al-Mawasi, mengaku terpaksa membeli “air utilitas” dengan kadar garam tinggi untuk keperluan memasak dan minum, meski ia tahu air tersebut tidak aman. “Anak-anak di kamp mulai jatuh sakit setiap hari karena kontaminasi air,” ungkapnya.

Al-Mawasi, yang dulunya adalah kawasan pertanian dengan populasi rendah, kini menjadi salah satu tempat terpadat di dunia setelah ditetapkan sebagai “zona aman”. Lonjakan populasi yang drastis tidak dibarengi dengan infrastruktur yang memadai.

Data dari Otoritas Air Palestina menunjukkan dampak mengerikan dari konflik ini yakni 65% sumur air di beberapa wilayah telah hancur. Ketersediaan air per kapita anjlok hingga 97%. Sementara total pasokan air di Gaza kini hanya tersisa 10% hingga 20% dibandingkan level sebelum perang.

Para ahli hak asasi manusia PBB dan organisasi seperti Euro-Med Human Rights Monitor memperingatkan bahwa krisis ini bukan sekadar dampak sampingan perang, melainkan sesuatu yang bersifat sistematis.

Dalam sebuah pernyataan, para pakar menyebut adanya penggunaan “rasa haus sebagai senjata”. Pembatasan masuknya bahan bakar untuk mengoperasikan fasilitas air serta hambatan dalam perbaikan infrastruktur membuat akses terhadap air bersih menjadi alat kendali atas kehidupan sipil. “Memutus air dan makanan adalah bom yang diam namun mematikan,” tegas pakar PBB.

Back to top button