Sumpah Darah Mojtaba Khamenei: Iran Kantongi Daftar Target, Trump Siapkan 1.000 Rudal Siap Tembak

JERNIH — Sumbu perang di Timur Tengah berada di titik paling eksplosif hari ini, Sabtu (11/7/2026). Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, resmi memecah kesunyian dengan merilis pesan tertulis pertamanya pasca-pemakaman sang ayah, Ali Khamenei. Dalam pesan tersebut, ia bersumpah akan menuntut balas ke jantung Amerika Serikat dan Israel atas pembunuhan ayahnya pada serangan akhir Februari lalu.
Pernyataan keras dari Teheran ini keluar hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman militer paling brutal: meratakan seluruh wilayah Iran jika ada upaya pembunuhan terhadap dirinya.
Mojtaba Khamenei, yang naik takhta menggantikan ayahnya namun belum pernah muncul lagi di publik sejak sebelum perang pecah, menegaskan bahwa misi balas dendam Iran tidak akan bisa dihentikan oleh siapa pun.
“Balas dendam adalah kehendak bangsa kami dan hal itu pasti akan dilaksanakan. Masalah ini tidak bergantung pada eksistensi pribadi saya maupun pejabat lainnya. Apakah kami ada atau tidak, pembalasan itu akan tetap terjadi,” tulis Mojtaba Khamenei dalam pesan resminya.
Laporan internal menyebutkan bahwa pihak militer Iran kini telah menyusun daftar hitam berisi nama-nama individu dari AS dan Israel yang menjadi target pembunuhan berikutnya sebagai aksi balas dendam.
Merespons ancaman pembunuhan tersebut, Donald Trump langsung mengamuk di platform Truth Social. Ia menyatakan bahwa militer AS sudah dalam posisi lock and loaded untuk memusnahkan Iran secara total (completely decimate and destroy).
“1.000 Rudal telah Terkunci dan Siap Tembak diarahkan ke Republik Islam Iran, dengan ribuan rudal lainnya akan segera menyusul, jika Pemerintah Iran bertindak atas ancamannya untuk membunuh Presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat, dalam hal ini, SAYA!,” tulis Trump dengan huruf kapital.
Trump menambahkan bahwa perintah tempur telah resmi diberikan kepada Pentagon. Militer AS dinyatakan siap, mau, dan mampu melaksanakan operasi pemusnahan massal tersebut dalam jangka waktu satu tahun penuh, yang dapat diperpanjang kapan saja.
Ketegangan ekstrem hari Sabtu (11/7/2026) ini adalah buntut dari kegagalan kesepakatan gencatan senjata sementara akibat aksi saling serang di perairan Teluk pekan ini. Iran dituduh menembak tiga kapal komersial yang diklaim melanggar rute resmi di Selat Hormuz. Pentagon meluncurkan serangan udara masif yang menghantam 90 target di seluruh Iran, menewaskan 17 orang dan melukai 115 lainnya per laporan Kementerian Kesehatan Teheran hari Sabtu ini.
Media Axios dan Politico membocorkan bahwa Washington memberikan ultimatum terakhir hingga hari Sabtu ini agar Iran menghentikan tembakan dan membuka Selat Hormuz tanpa syarat.
Di meja perundingan, posisi Iran tetap keras. Menlu Abbas Araghchi yang saat ini berada di Oman menegaskan pihaknya tidak akan tunduk pada hukum laut internasional yang melarang penarikan tarif di selat internasional. Iran bersikeras memegang kendali penuh atas navigasi kapal di Hormuz.
Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengamini sikap tersebut lewat kantor berita ISNA: “Semua orang harus tahu bahwa konfrontasi ini tidak akan pernah berakhir dengan menyerahnya Iran. Kami sepenuhnya siap mempertahankan diri.”






