Teheran Berduka Setelah Meninggalnya Ali Larijani, Serangan Balas Dendam Rudal Balistik Hantam Tel Aviv

JERNIH – Eskalasi perang di Timur Tengah mencapai titik didih baru pada Rabu (18/3/2026) setelah meninggalnya tokoh keamanan senior Ali Larijani dan Kepala Basij, Gholamreza Soleimani.
Di tengah isak tangis ribuan pelayat yang melepas kepergian tokoh-tokoh kunci Iran, gelombang rudal balistik dilaporkan menghantam jantung komersial Israel sebagai aksi balasan atas rentetan pembunuhan petinggi Teheran.
Lautan manusia memenuhi jalanan Teheran untuk menghadiri pemakaman Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Agung, Ali Larijani, dan Kepala Basij, Gholamreza Soleimani. Keduanya merupakan tokoh paling berpengaruh yang gugur sejak serangan gabungan AS-Israel dimulai pada 28 Februari lalu—serangan yang juga menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Kepala Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, mengeluarkan peringatan keras dalam pidatonya. “Tanggapan Iran atas pembunuhan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional akan bersifat menentukan dan sangat menyesalkan. Darahnya dan darah para martir lainnya akan segera dibalas,” tegasnya.
Tak lama setelah pernyataan itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengonfirmasi telah meluncurkan rentetan rudal balistik ke pusat Israel. Di sisi lain, Israel mengklaim telah menewaskan Menteri Keamanan Iran, Esmaeil Khatib, menjadikannya tokoh besar ketiga yang tewas dalam pekan ini.
Di Israel, sirene peringatan udara melolong sepanjang malam. Layanan medis melaporkan dua orang tewas akibat ledakan rudal di dekat Tel Aviv. Polisi menyatakan sebuah bangunan tempat tinggal di Ramat Gan hancur dihantam proyektil yang diduga membawa amunisi tandan (cluster munition).
“Munisi tersebut meruntuhkan atap tepat di atas pasangan lansia yang berada di dalam kamar mereka,” ujar juru bicara polisi, Dean Elsdunne. Hingga kini, total korban jiwa di pihak Israel akibat serangan jarak jauh ini telah mencapai 14 orang sejak perang dimulai.
Dampak konflik ini terus meluas ke wilayah Teluk. Arab Saudi melaporkan pertahanan udaranya berhasil menjatuhkan drone yang mendekati kawasan diplomatik di Riyadh dan mencegat rudal balistik di dekat Pangkalan Udara Pangeran Sultan.
Sementara itu, warga Dubai dikejutkan oleh ledakan keras saat sistem pertahanan udara UEA merespons ancaman rudal. Iran berdalih serangan mereka hanya menargetkan aset militer AS yang dituduh bersembunyi di kawasan perkotaan, namun kenyataannya infrastruktur sipil mulai hancur dan sedikitnya 15 warga sipil di kawasan Teluk telah tewas.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyalahkan Washington atas pecahnya perang ini. Ia memperingatkan bahwa dunia belum melihat dampak yang sesungguhnya. “Gelombang dampak global belum dimulai. Ini akan memengaruhi semua orang, tanpa memandang kekayaan, agama, atau ras,” ujarnya dingin.
Menanggapi situasi yang kian tak terkendali, Arab Saudi dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan darurat para menteri luar negeri negara Arab dan Islam di Riyadh, Rabu malam. Pertemuan yang melibatkan anggota GCC, Liga Arab, hingga Menlu Turki Hakan Fidan ini merupakan upaya diplomatik terakhir untuk mencari jalan keluar sebelum perang benar-benar menghancurkan seluruh kawasan.






