Crispy

The Mummy (2026), Saat Teror Kuno Masuk ke Ruang Tamu

Lupakan aksi heroik dan ledakan besar. The Mummy versi 2026 hadir sebagai mimpi buruk domestik yang mengubah kasih sayang menjadi ketakutan murni.

WWW.JERNIH.CO –  Layar bioskop “diteror” horor  Lee Cronin’s The Mummy yang resmi dirilis pada April 2026. Alih-alih mengikuti formula petualangan epik ala Indiana Jones atau aksi megah Hollywood, film ini membawa waralaba “Mummy” kembali ke akar horor murni yang mencekam.

Diproduksi oleh tangan dingin James Wan (Atomic Monster) dan Jason Blum (Blumhouse), film ini memberikan perspektif yang sangat berbeda dari apa yang biasa kita saksikan di layar lebar selama dua dekade terakhir.

Berbeda dengan kisah klasik tentang arkeolog yang tidak sengaja membangkitkan pendeta kuno, versi 2026 ini mengambil pendekatan yang lebih intim dan domestik.

Ceritanya berfokus pada sebuah keluarga yang hancur setelah putri mereka hilang secara misterius di gurun pasir selama delapan tahun. Secara mengejutkan, sang anak kembali ke rumah, namun dalam kondisi yang mengerikan: ia telah “ter-mumi-kan” namun tetap hidup.

Konflik utama berpusat pada upaya orang tua untuk menerima kembali anak mereka, sementara mereka perlahan menyadari bahwa ada kekuatan jahat yang ikut pulang bersamanya.

Reuni yang seharusnya penuh haru justru berubah menjadi mimpi buruk supernatural yang penuh dengan elemen body horror khas sutradara Lee Cronin (yang sebelumnya sukses dengan Evil Dead Rise).

Jika kita membandingkan dengan trilogi ikonik Brendan Fraser (1999-2008), perbedaannya sangat kontras. Film era Fraser adalah tontonan keluarga dengan elemen aksi-komedi yang kental. Sementara itu, versi Tom Cruise tahun 2017 mencoba membangun “Dark Universe” yang ambisius namun terasa terlalu dipaksakan sebagai film aksi blockbuster.

Lee Cronin’s The Mummy justru membuang semua kemegahan itu. Tidak ada kejar-kejaran mobil atau pertempuran tentara kuno yang masif.

Film ini lebih mirip dengan horor psikologis dan supernatural yang lambat namun intens (slow-burn horror), serupa dengan gaya The Invisible Man (2020). Ia lebih memilih untuk menakuti penonton melalui atmosfer dan kengerian fisik daripada ledakan CGI.

Film ini dibintangi oleh deretan aktor yang kuat di genre drama dan horor. Sebut saja Jack Reynor dan Laia Costa. Sebagai orang tua yang putus asa, keduanya memberikan performa yang sangat emosional. Akting mereka berhasil menggambarkan duka mendalam dan ketakutan yang luar biasa secara bersamaan.

Lantas Natalie Grace sebagai sang putri yang kembali, akting fisiknya sangat memukau sekaligus mengganggu. Ia berhasil memerankan sosok yang “bukan lagi manusia” dengan sangat meyakinkan.

Kehadiran May Calamawy memberikan dimensi tambahan pada sisi misteri dan mitologi dalam cerita.

Kualitas akting di film ini dipuji karena terasa jauh lebih manusiawi dan membumi dibandingkan akting gaya “heroik” di film-film The Mummy sebelumnya.

Secara finansial, Blumhouse tetap menggunakan strategi andalannya: anggaran rendah, risiko rendah, hasil tinggi. Film ini hanya menghabiskan sekitar Rp 374 miliar, angka yang sangat kecil dan efisien jika dibandingkan dengan The Mummy (2017) yang menelan biaya fantastis sebesar Rp 2,12 triliun.

Hingga akhir April 2026, film ini telah meraup sekitar Rp 833 miliar  di seluruh dunia. Meski angkanya terlihat kecil dibandingkan film blockbuster arus utama, secara persentase keuntungan, film ini sudah dianggap sukses besar secara finansial karena berhasil melampaui titik balik modal (break-even point) hanya dalam waktu singkat.

Pertanyaan besarnya adalah: mengapa kita butuh film The Mummy lagi? Jawabannya terletak pada re-inventasi genre. Penonton mulai jenuh dengan film monster yang hanya mengandalkan aksi CGI mahal tanpa jiwa.

Kesuksesan The Mummy 2026 membuktikan bahwa nama besar sebuah waralaba bisa dihidupkan kembali jika diberikan pendekatan yang segar dan berani.

Dengan menggandeng Lee Cronin, Universal Pictures berhasil membuktikan bahwa mumi tidak selalu harus tentang Mesir kuno dan kutukan makam; mumi bisa menjadi metafora tentang kehilangan, trauma, dan kengerian yang masuk ke dalam ruang tamu rumah kita.

Film ini menjadi jembatan yang sempurna sebelum kembalinya Brendan Fraser dalam The Mummy 4 yang direncanakan rilis pada 2027 mendatang.(*)

BACA JUGA: Mesir Buka Makam Karya Imhotep Sang Imam Besar Dewa Ra

Back to top button