The Strokes Guncang Coachella 2026 dengan Manifesto Anti-CIA

Lupakan estetika retro dan hura-hura padang pasir sejenak. Di panggung utama Coachella 2026, The Strokes memilih untuk meledakkan “bom politik” daripada sekadar memainkan hit lama.
WWW.JERNIH.CO – Penampilan The Strokes di Coachella 2026 akan dikenang bukan hanya karena musiknya yang tajam, tetapi sebagai salah satu momen paling politis dalam sejarah festival tersebut.
Di bawah langit gurun Indio pada akhir pekan kedua (18 April 2026), Julian Casablancas dan kawan-kawan mengubah panggung utama menjadi mimbar kritik keras terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan intervensi gelap CIA di berbagai belahan dunia.
The Strokes menutup set mereka dengan cara yang sangat tidak terduga. Saat lagu penutup mulai dimainkan, layar raksasa di belakang band tidak lagi menampilkan visual abstrak atau estetika retro khas mereka. Sebaliknya, penonton disuguhi montase video provokatif yang menyoroti sejarah kelam kebijakan luar negeri AS.
Narasi visual tersebut secara spesifik menyerang peran CIA dalam berbagai upaya penggulingan pemerintahan sah di Amerika Latin dan Timur Tengah. Gambar tokoh-tokoh sejarah seperti Omar Torrijos (Panama), Jacobo Árbenz (Guatemala), dan Jaime Roldós Aguilera (Ekuador) muncul dengan keterangan yang menuding keterlibatan intelijen AS dalam kematian atau kejatuhan mereka.
Suasana semakin tegang saat video tersebut menampilkan cuplikan serangan udara di Gaza dan Iran, disertai tulisan yang mengecam kehancuran institusi pendidikan di sana, termasuk pesan tajam: “Last university standing in Gaza.”

Kritik ini terasa semakin personal saat band menampilkan foto Martin Luther King Jr. dengan teks yang menyatakan bahwa pemerintah AS telah dinyatakan bersalah dalam persidangan sipil atas pembunuhannya.
Julian Casablancas, yang dikenal dengan gaya panggungnya yang cuek namun tajam, berulang kali meneriakkan lirik “What side are you standing on?” seolah menantang ribuan penonton untuk merefleksikan posisi moral mereka di tengah konflik global.
Meskipun band tidak merilis siaran pers resmi segera setelah konser, Julian Casablancas memberikan beberapa pernyataan satir dan serius selama set berlangsung. Pada akhir pekan pertama, ia sempat menyindir isu wajib militer (draft) di bawah pemerintahan AS saat ini, “Kalian bersemangat soal ‘draft’ (wajib militer)? Oh tunggu, bukan draft NFL. Dalam enam bulan, saya rasa semua orang yang memenuhi syarat harus mendaftar. Saya harap bisa memimpin unit Coachella—unit paling seksi di militer kita yang membanggakan.”
Pada akhir pekan kedua, sebelum memulai lagu penutup yang kontroversial, ia sempat berujar singkat yang merangkum kemuakan terhadap sistem, “Lagu ini untuk mereka yang merasa bahwa demokrasi hanyalah sebuah merek dagang yang digunakan untuk menutupi bisnis senjata. Pertanyakan segalanya.”
The Strokes membawakan total 14 lagu yang mencakup diskografi lama hingga materi baru dari album Reality Awaits (2026). Puncak dari segala ketegangan politik malam itu terjadi pada lagu terakhir, “Oblivius”, yang dimainkan secara live untuk pertama kalinya sejak tahun 2016.
Penampilan ini memicu perdebatan panas di media sosial. Sebagian penggemar memuji keberanian The Strokes menggunakan platform sebesar Coachella untuk menyuarakan isu-isu yang sering diabaikan oleh budaya pop arus utama.
Namun, pihak lain mengkritik band karena dianggap membawa “teori konspirasi” dan politik berat ke dalam festival yang seharusnya menjadi ajang hiburan.(*)
BACA JUGA: Dari Belieber Jadi Rekan Duet, Reuni Emosional Justin Bieber dan Billie Eilish di Coachella 2026






