CrispyVeritas

Torpedo AS Menyerang Kapal Perang Iran di ‘Halaman Belakang’ India Meruntuhkan Wibawa Narendra Modi

Sikap “bisu” pemerintah India pasca-kejadian menjadi sorotan utama. Butuh waktu lebih dari 24 jam bagi Angkatan Laut India untuk mengeluarkan pernyataan formal, itu pun tanpa kecaman sedikit pun terhadap AS.

JERNIH – Hanya dalam kurun waktu lima bulan, citra India sebagai “Garda Samudera Hindia” yang tangguh mendadak luruh. Tragedi tenggelamnya kapal perang Iran, IRIS Dena, oleh kapal selam nuklir Amerika Serikat (AS) di perairan internasional dekat Sri Lanka, telah membuka tabir rapuhnya pengaruh New Delhi di wilayah yang mereka klaim sebagai kekuasaan mutlak mereka.

Insiden ini bukan sekadar kecelakaan militer, melainkan tamparan diplomatik yang memalukan bagi Perdana Menteri Narendra Modi. Pasalnya, kapal IRIS Dena adalah ‘tamu resmi’ militer India yang baru saja menyelesaikan latihan gabungan “Milan” atas undangan New Delhi.

Pada Rabu (4/3/2026), kapal perang Iran tersebut dihantam torpedo AS hanya sejauh 44 mil laut (81 km) dari selatan Sri Lanka saat sedang dalam perjalanan pulang ke Iran. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dengan dingin menyebutnya sebagai “Kematian yang Sunyi” (Quiet Death).

Tragedi ini menewaskan lebih dari 80 pelaut Iran—pria-pria yang hanya beberapa hari sebelumnya berparade bersama perwira India dan berswafoto dengan Presiden India, Droupadi Murmu. Kini, para pelaut tersebut berada di dasar samudera, meninggalkan luka mendalam bagi Teheran.

“AS telah melakukan kekejaman di laut, 2.000 mil jauhnya dari pantai kami. Ingat kata-kata saya: AS akan sangat menyesali preseden yang mereka buat ini,” tegas Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

Sikap “bisu” pemerintah India pasca-kejadian menjadi sorotan utama. Butuh waktu lebih dari 24 jam bagi Angkatan Laut India untuk mengeluarkan pernyataan formal, itu pun tanpa kecaman sedikit pun terhadap AS.

Para analis militer menyebut India terjebak dalam situasi Catch-22. Jika India mengetahui akan ada serangan, New Delhi dianggap berkhianat terhadap tamunya (Iran) dan secara strategis berpihak pada poros AS-Israel.

Sementara jika India tidak tahu atau kecolongan, ini membuktikan bahwa teknologi deteksi India gagal total mendeteksi kapal selam nuklir asing di “halaman belakang” mereka sendiri, menghancurkan statusnya sebagai penyedia keamanan (net security provider).

Laksamana (Purn) Arun Prakash, mantan kepala staf angkatan laut India, menyatakan jika India tidak tahu, maka hal itu mencerminkan keretakan serius dalam kemitraan strategis AS-India.

India yang dulu dikenal sebagai pemimpin gerakan non-blok, kini terlihat semakin condong ke arah Washington dan Tel Aviv. Hanya dua hari sebelum serangan besar AS-Israel ke Iran, Modi berada di Israel, berpelukan dengan PM Benjamin Netanyahu yang menyebutnya sebagai “saudara”.

Modi juga bersikap dingin terhadap Iran dan belum mengucapkan sepatah kata pun belasungkawa atas terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran, Khamenei. Saat kunjungan memorial ke kedutaan Iran, India hanya mengirimkan birokrat (Sekretaris Luar Negeri), alih-alih menteri, yang merupakan penghinaan halus dalam protokol diplomatik.

Kritik tajam datang dari dalam negeri. Mallikarjun Kharge, presiden partai oposisi Congress, menyebut pemerintahan Modi telah secara sembrono mengabaikan kepentingan nasional dan menghancurkan kebijakan luar negeri yang dibangun selama puluhan tahun.

Sejarawan militer Srinath Raghavan menilai India secara objektif telah memposisikan diri di sisi “agresor”. Dengan hanya mengkritik serangan balasan Iran namun bungkam atas tindakan AS, India dinilai telah menurunkan derajat hubungannya dengan Iran secara drastis.

Back to top button