Crispy

Tragedi di Al-Aqsa: Untuk Pertama Kalinya Sejak 1967, Gema Takbir Idul Fitri Dibungkam Paksa

JERNIH – Dunia Islam berduka. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, umat Muslim di Palestina dilarang melaksanakan salat Idul Fitri di Masjid Al-Aqsa. Sejak pendudukan Yerusalem Timur pada 1967, otoritas Israel belum pernah melakukan penutupan total se-ekstrem ini, yang kini dilakukan dengan dalih situasi perang melawan Iran.

Jumat pagi yang seharusnya penuh suka cita berubah menjadi ketegangan saat pasukan keamanan Israel memblokade seluruh akses menuju kompleks suci tersebut, membubarkan jemaah secara paksa, dan menangkap sejumlah orang yang mencoba mendekat.

Menghadapi penutupan ini, Syekh Ikrima Sabri, khatib Masjid Al-Aqsa, mengeluarkan fatwa darurat agar warga tetap melaksanakan salat Id di jalan-jalan dan alun-alun menuju ke arah masjid.

“Kami mengeluarkan fatwa bahwa siapa pun yang mendirikan salat di jalanan dan lapangan menuju Al-Aqsa akan menerima pahala yang sama dengan mereka yang salat di dalam masjid,” ujar Syekh Sabri mengutip The New Arab.

Ia menegaskan bahwa ini adalah momen kelam dalam sejarah modern Palestina. “Sejak pendudukan Yerusalem, takbir Id tidak pernah berhenti berkumandang dari Al-Aqsa—sampai Idul Fitri kali ini,” tambahnya dengan nada getir.

Saksi mata melaporkan sejak fajar, pasukan Israel telah menutup pos-pos pemeriksaan di sekitar Yerusalem, dan melarang warga lansia sekalipun untuk masuk. Di Bab al-Sahira, tentara dilaporkan melemparkan bom suara (sound bombs) ke arah jemaah yang mencoba mencari titik terdekat untuk bersujud.

Meskipun diguyur hujan dan udara dingin, puluhan warga di Bab al-Asbat tetap mengumandangkan takbir Id sebelum akhirnya dikejar dan dibubarkan oleh aparat. Dalam operasi tersebut, Imam Masjid di Beit Hanina, Syekh Fadi al-Jabrini, turut ditangkap setelah rumahnya digerebek pada dini hari.

Ziyad Ibhais, peneliti urusan Yerusalem, mengungkapkan fakta yang mengejutkan. Penutupan Al-Aqsa selama 21 hari berturut-turut sejak 28 Februari 2026 ini merupakan penutupan terlama sejak pembebasan Yerusalem dari tentara Salib lebih dari delapan abad silam.

“Langkah-langkah yang diberlakukan selama Ramadan tahun ini belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk pelarangan salat Jumat terakhir dan iktikaf di sepuluh hari terakhir,” peringat Ibhais.

Pemerintah Yerusalem Palestina menyebut tindakan ini sebagai “eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya” dan pelanggaran terang-terangan terhadap status quo hukum serta sejarah kota suci tersebut. Mereka memperingatkan bahwa penggunaan perang Iran sebagai alasan untuk menutup Al-Aqsa adalah upaya terencana untuk mengisolasi masjid dari umat Islam dan mengubah demografi Yerusalem secara permanen.

Hingga saat ini, kompleks Al-Aqsa masih dijaga ketat, meninggalkan ribuan umat Muslim yang hanya bisa menatap kubah emas dari kejauhan sambil memanjatkan doa di atas aspal jalanan yang dingin.

Back to top button