
Kendati meningkat namun ada pola baru yang dihadapi oleh konsumen. Black Friday 2025 tetap lah jadi ajang potensial bagi produsen dan konsumen.
JERNIH – Black Friday 2025 kembali menegaskan posisinya sebagai puncak musim belanja akhir tahun. Meskipun kondisi ekonomi global masih diwarnai inflasi dan kenaikan biaya hidup, perayaan diskon yang meluas ini berhasil memecahkan rekor penjualan online baru, didorong oleh adaptasi ritel dan strategi belanja konsumen yang semakin cerdas.
Reaksi konsumen global terhadap Black Friday 2025 menunjukkan adanya dua tren utama: partisipasi yang tinggi dan kehati-hatian dalam pengeluaran.
Di Amerika Serikat, terjadi peningkatan partisipasi yang signifikan, di mana 88% konsumen berencana berbelanja selama Cyber Week (periode Thanksgiving hingga Cyber Monday), naik dari 84% pada tahun 2024.
Secara global, sekitar 75% pembelanja membuat pembelian selama periode ini, dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Italia menunjukkan niat beli tertinggi, dan tren ini juga terus menguat di Asia. Namun, di balik niat belanja yang tinggi, konsumen bersikap lebih hati-hati. Sebanyak 76% pembelanja Black Friday 2025 di AS berencana membelanjakan jumlah yang sama atau kurang dari tahun sebelumnya.
Alasan utama sikap hati-hati ini konsisten, meliputi meningkatnya biaya hidup (70%), kenaikan harga bahan makanan (57%), dan inflasi (54%). Oleh karena itu, konsumen menjadikan diskon khusus (80% daya tarik utama) sebagai motivasi utama untuk membeli barang yang sudah lama mereka inginkan.
Secara platform, dominasi digital semakin kuat. Belanja online dipilih oleh sekitar 71% konsumen, dan teknologi seluler (mobile) menjadi platform utama, menyumbang lebih dari 55% dari semua pembelian online global.
Dalam hal data, Black Friday 2025 diproyeksikan mencatat lonjakan penjualan online yang signifikan. Penjualan online global diperkirakan mencapai $78 hingga $80 Miliar, naik 5% – 8% dari $74.4 Miliar pada tahun 2024.
Khusus penjualan online AS diperkirakan mencapai $11.7 Miliar, meningkat 8.3% dari $10.8 Miliar tahun sebelumnya. Total pengeluaran Cyber Week diperkirakan mencapai $41 Miliar, menunjukkan konsistensi yang tinggi dibandingkan $41.1 Miliar pada 2024. Porsi belanja mobile diproyeksikan melebihi 55% dari total online (naik dari 54.5%), dan penggunaan Buy Now, Pay Later (BNPL) di AS diproyeksikan naik 11% menjadi $20.2 Miliar, dari $18.2 Miliar tahun 2024.
Meskipun konsumen bersikap hati-hati, kebutuhan untuk upgrade teknologi dan pembelian hadiah tetap mendorong lonjakan permintaan untuk kategori tertentu. Kategori Elektronik Konsumen dan Aksesori secara konsisten menempati peringkat teratas dalam volume penjualan, dengan produk seperti smartphone, TV, dan earbuds nirkabel selalu menjadi incaran diskon besar.
Pakaian dan Apparel menempati posisi kedua karena permintaan musiman dan diskon merek ternama. Diikuti oleh Komputer dan Gaming yang permintaannya didorong oleh kebutuhan PC gaming dan konsol game terbaru.
Selain itu, Peralatan Rumah Tangga (baik yang besar maupun kecil) juga menunjukkan lonjakan signifikan, di mana permintaan untuk Peralatan Rumah Tangga Utama (MDA) melonjak 17.3% (data 2024), menandakan konsumen memanfaatkan diskon besar untuk kebutuhan rumah. Terakhir, kategori Kesehatan dan Kecantikan (Health & Beauty) terus meningkat permintaannya, didorong oleh tren self-care.
Produk yang paling banyak diburu (Rank Produk Pilihan) mencakup; TV Pintar ukuran besar, Wireless Earbuds premium, Konsol Game, Laptop atau Tablet Ringan, Perangkat Rumah Pintar seperti robot vacuum cleaner, Sneakers Edisi Terbatas, Peralatan Dapur Kecil seperti Air Fryer, dan Peralatan Mandi dan Perawatan Kulit Set Eksklusif.
Black Friday 2025 merupakan kelanjutan dari tren yang telah lama terbentuk. Berbeda dengan Black Friday Pra-2019 yang fokus pada belanja In-Store dan Hari Diskon Tunggal, Black Friday di masa pandemi (2020/2021) ditandai dengan Puncak Digital Mutlak akibat pembatasan gerak, dan didorong oleh kebutuhan Work From Home.
Black Friday 2025 mengambil elemen dari keduanya, menjadikannya Musim Belanja Hemat yang didominasi oleh saluran online dan mobile-first, di mana periode promo telah diperluas sejak Oktober. Walaupun pertumbuhan penjualan digital terus stabil, pengeluaran konsumen di tahun 2025 cenderung hati-hati karena tekanan inflasi, berbeda dengan lonjakan belanja di masa pandemi. Konsumen saat ini lebih menuntut value terbaik, memastikan pengeluaran miliaran Dolar adalah hasil dari belanja yang terencana, bukan impulsif semata.(*)
BACA JUGA: September: Penjualan Ritel Rusia Ambruk, Tingkat Pengangguran Meningkat





