Trump Akui Pasok Senjata ke Demonstran Iran Lewat Kurdi, Kelompok Oposisi Membantah

Pengakuan mengejutkan kembali datang dari Gedung Putih, memicu badai diplomatik yang memvalidasi tuduhan lama Teheran selama ini. Presiden Donald Trump secara terbuka mengakui adanya operasi terselubung Amerika Serikat untuk mempersenjatai demonstran Iran melalui perantara kelompok Kurdi.
JERNIH – Dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada Minggu malam, Presiden Donald Trump melontarkan pernyataan yang mengguncang peta geopolitik Timur Tengah. Ia mengakui bahwa Amerika Serikat telah mengirimkan senjata dalam jumlah besar untuk mendukung pengunjuk rasa di Iran beberapa pekan sebelum invasi resmi dimulai.
“Kami mengirimkan senjata kepada para pengunjuk rasa, banyak sekali,” ujar Trump. Namun, ia menambahkan dengan nada kecewa bahwa dirinya percaya kelompok Kurdi yang menjadi perantara justru menyimpan senjata-senjata tersebut untuk kepentingan mereka sendiri.
Pengakuan ini memberikan beban kebenaran pada klaim Pemerintah Iran bahwa demonstrasi besar-besaran yang meletus akibat tingginya biaya hidup pada awal tahun ini bukan sekadar aspirasi murni, melainkan disusupi oleh aktor asing untuk menciptakan kekacauan.
Saat protes Januari memuncak, media seperti Channel 12 Israel memang sempat melaporkan adanya senjata yang mengalir ke tangan demonstran dari pihak luar. Kini, konfirmasi langsung dari Trump seolah membuka tabir operasi intelijen yang selama ini dibantah Washington.
Trump juga melontarkan klaim mengerikan bahwa selama protes berlangsung, Pemerintah Iran telah “membantai” sekitar 45.000 warga sipil. Namun, angka ini memicu perdebatan sengit karena perbedaan data yang sangat kontras.
- Versi Iran: 3.117 orang tewas, termasuk ratusan polisi yang disebut dibunuh oleh “teroris” dan “sabotase”.
- Versi Aktivis (HRANA): Memverifikasi 6.872 kematian dan sedang menyelidiki 11.000 kasus tambahan.
- Versi PBB: Menyarankan angka kematian bisa melampaui 20.000 jiwa.
Hingga saat ini, belum ada lembaga independen yang mampu memverifikasi secara pasti angka 45.000 yang disebutkan oleh Trump.
Meskipun Trump mengklaim telah mengirim senjata lewat jalur Kurdi, kelompok-kelompok oposisi Kurdi Iran yang berbasis di Irak utara justru memberikan bantahan keras. Melalui kantor berita Rudaw, mereka menegaskan tidak pernah menerima bantuan militer apa pun dari AS.
“Pernyataan itu tidak berdasar. Senjata yang kami miliki adalah peninggalan 47 tahun lalu dari medan perang atau dibeli di pasar gelap,” tegas Mohammed Nazif Qaderi, pejabat senior Partai Demokrat Kurdistan Iran (KDPI).
Senada dengan itu, Hamno Naqshbandi dari Tentara Nasional Kurdistan (PAK) menyatakan, “Kami tidak menerima senjata dari AS atau negara lain, bahkan tidak satu butir peluru pun.”
Klaim Trump ini memicu ingatan akan sejarah panjang keterlibatan CIA dengan kelompok Kurdi di Irak sejak invasi 2003. Kurdi merupakan kelompok pribumi di dataran Mesopotamia yang tersebar di perbatasan Turki, Suriah, Irak, dan Iran.
Meskipun kelompok Kurdi di Iran telah lama melakukan perlawanan terhadap Teheran, mereka bersikeras bahwa metode perjuangan mereka dalam demonstrasi baru-baru ini bersifat sipil dan damai, guna menghindari eskalasi kekerasan bersenjata yang dapat merugikan warga sipil.






