
Presiden Miguel Díaz-Canel telah mengaktifkan Dewan Pertahanan Nasional. Di saat rakyat Kuba bersiap menghadapi skenario terburuk, dunia bertanya-tanya: mampukah keberanian sebuah bangsa kecil meruntuhkan ego negara adidaya?
WWW.JERNIH.CO – Setelah rangkaian operasi militer Amerika Serikat di Venezuela dan meningkatnya eskalasi di Timur Tengah, Washington kini mengarahkan telunjuknya ke Havana. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyebut Kuba sebagai “negara gagal” dan memberikan sinyal kuat bahwa aksi militer mungkin dilakukan setelah konflik dengan Iran mereda.
Pemerintah Kuba di bawah Presiden Miguel Díaz-Canel bereaksi dengan nada yang sangat keras dan menantang. Havana melabeli retorika dan kebijakan sanksi energi AS sebagai bentuk “terorisme negara”. Reaksi pemerintah tidak hanya berhenti pada kecaman diplomatik; mereka segera mengaktifkan protokol pertahanan nasional dan memperkuat aliansi dengan Rusia serta China guna memastikan kelangsungan pasokan energi dan logistik.
Pada pidato memperingati perwira militer Kuba di Havana, ia menegaskan, “Tidak ada penyerahan atau kapitulasi. Kuba tidak perlu membuat konsesi politik apa pun, dan hal itu tidak akan pernah ada di meja perundingan… Jika kita diserang, kita akan bertempur dengan keganasan yang sama yang diwariskan kepada kita oleh generasi pejuang Kuba yang pemberani.”

Di tingkat akar rumput, reaksi rakyat Kuba tercermin dalam doktrin “Perang Seluruh Rakyat” (Guerra de Todo el Pueblo). Alih-alih merasa terintimidasi, masyarakat sipil dimobilisasi ke dalam Milisi Pasukan Teritorial (MTT). Di tengah kelangkaan bahan bakar yang parah akibat blokade, rakyat Kuba melakukan persiapan mandiri, mulai dari penguatan pertahanan lingkungan hingga simulasi evakuasi medis. Bagi mayoritas warga Kuba, ancaman AS dilihat sebagai upaya imperialisme yang bertujuan menghancurkan kedaulatan yang telah mereka pertahankan sejak Revolusi 1959.
Meskipun secara teknologi kalah jauh dibandingkan militer AS, Kuba memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan dalam konteks perang asimetris. Angkatan Bersenjata Revolusioner (FAR) Kuba memiliki struktur yang ramping namun sangat disiplin. Jumlah personel sekitar 50.000 tentara aktif yang didukung oleh jutaan cadangan milisi sipil. Meskipun banyak menggunakan peralatan era Uni Soviet (seperti tank T-62 dan jet MiG-21/23), Kuba telah melakukan modifikasi lokal agar tetap fungsional untuk pertahanan pesisir dan antiserangan udara.

Kuba memiliki jaringan terowongan dan bunker yang sangat luas di seluruh pulau untuk melindungi personel dan peralatan dari serangan udara besar-besaran.
Strategi utama perang bagi Kuba adalah atrisi (pengikisan). Presiden Díaz-Canel menegaskan bahwa cara terbaik mencegah agresi adalah dengan membuat lawan menghitung “harga tinggi” yang harus dibayar. Strategi mereka meliputi perang gerilya kota dan hutan. Kuba tidak akan bertempur secara terbuka di padang luas. Mereka akan memaksa pasukan AS masuk ke dalam pertempuran jarak dekat di kota-kota dan pegunungan, di mana keunggulan udara AS menjadi kurang efektif.
Kuba menggunakan sistem rudal darat-ke-udara (SAM) dan artileri pertahanan udara untuk mempersulit supremasi udara lawan sejak hari pertama.
Jika AS memilih opsi invasi militer, risiko yang dihadapi melampaui sekadar kerugian personel di medan tempur. Serangan ke Kuba dapat memicu gelombang migrasi massal pengungsi ke Florida, yang justru akan menciptakan krisis domestik di AS.
Rusia telah memperingatkan akan memberikan “respons keras” dan terus memasok minyak ke Kuba. Serangan terhadap Kuba berisiko menyeret Moskow atau Beijing ke dalam konflik langsung, mengubah krisis regional menjadi perang global.

Ketegangan di Karibia, ditambah konflik Iran, akan memicu lonjakan harga minyak dunia secara drastis, yang pada gilirannya akan meledakkan inflasi global dan mengguncang pasar saham.
Di sisi lain seranan AS akan memicu sentimen anti-AS. Agresi militer akan merusak citra AS di mata Amerika Latin, memicu kebangkitan gerakan kiri dan anti-imperialis di seluruh kawasan.
Kuba mungkin sebuah pulau kecil, namun sejarah menunjukkan bahwa mereka adalah “benteng” yang sangat sulit ditembus. Washington harus mempertimbangkan apakah harga politik, ekonomi, dan kemanusiaan dari sebuah serangan sebanding dengan hasil yang ingin dicapai.
“Kami sedang mempersiapkan diri, jika sewaktu-waktu perlu untuk beralih ke keadaan perang,” tantang sang presiden. (*)
BACA JUGA: Mampukah Kuba Bertahan dari “Friendly Takeover” Donald Trump?






