Dum SumusVeritas

Melawan Arus Digital, Kaum Muda Arab Saudi Kembali Melirik Ponsel Jadul

Di tengah ambisi teknologi Arab Saudi yang melesat, sebagian warganya—terutama kalangan profesional muda dan kreatif—memilih untuk “mundur” ke era ponsel jadul (dumb phone).

JERNIH – Arab Saudi adalah salah satu negara paling terkoneksi di bumi. Data dari DataReportal menunjukkan tingkat penetrasi media sosial di sana melampaui 90 persen, dengan rata-rata penggunaan harian mencapai lebih dari tiga jam. Namun, di balik angka-angka tersebut, muncul sebuah komunitas niche yang mulai merasa jenuh.

Mereka adalah para mahasiswa, pekerja kreatif, dan profesional muda yang memilih meninggalkan ponsel pintar (smartphone) mereka dan beralih ke ponsel fitur sederhana yang hanya bisa menelepon dan berkirim SMS. Fenomena ini dikenal secara global sebagai Minimalisme Digital.

Bagi Noura Al-Qahtani (26), seorang kreator konten asal Riyadh, keputusan ini lahir dari rasa lelah akibat keterikatan daring yang tanpa henti. “Saya tidak sadar betapa banyak waktu dalam sehari yang hilang hanya untuk scrolling,” ujarnya, mengutip laporan Arab News.

“Saat saya pindah ke ponsel sederhana, hal pertama yang saya rasakan adalah keheningan. Awalnya tidak nyaman, tapi lama-kelamaan pikiran saya jadi lebih jernih. Saya bisa duduk, berpikir, dan menyelesaikan pekerjaan tanpa interupsi,” katanya.

Pengalaman Noura diperkuat oleh studi tahun 2021 di Nature Communications yang menemukan bahwa mengurangi interupsi digital terbukti meningkatkan atensi berkelanjutan dan kontrol kognitif seseorang.

Kendali di Atas Algoritma

Daya tarik “ponsel jadul” bukan terletak pada kemunduran teknologi, melainkan pada kendali. Dengan membuang akses ke aplikasi, notifikasi, dan feed yang digerakkan oleh algoritma, pengguna menciptakan lingkungan di mana distraksi tidak lagi bersifat konstan.

Abdulrahman Al-Harbi, seorang mahasiswa di Dammam, merasakan dampaknya saat masa ujian. “Dulu saya mengecek ponsel setiap beberapa menit tanpa sadar saat belajar. Setelah beralih ke ponsel dasar saat ujian akhir, pikiran saya berhenti ‘melompat-lompat’. Belajar jadi tidak terasa berat karena fokus saya terjaga,” ungkapnya.

Menariknya, kecemasan digital ini tidak hanya terbatas pada media sosial. Penggunaan alat kecerdasan buatan (AI) yang masif juga mulai dievaluasi oleh sebagian warga Saudi. Omar Al-Salem (29), seorang spesialis komunikasi, merasa dirinya mulai kehilangan kemampuan berpikir mendalam karena terlalu sering mengandalkan alat seperti ChatGPT.

“Awalnya untuk hal kecil seperti draf email, tapi lama-lama jadi insting pertama saya untuk segala hal. Saya merasa jadi lebih cepat bekerja, tapi tidak lebih tajam. Setelah membatasi diri, fokus saya kembali jernih. Saya berpikir lebih lambat, tapi jauh lebih dalam,” kata Omar.

Bagi Sara Al-Zahrani (30), seorang konsultan di Jeddah, perubahannya dilakukan secara bertahap. Ia tidak membuang smartphone-nya sepenuhnya, melainkan menerapkan model hybrid.

“Saya meninggalkan ponsel pintar di ruangan lain saat di rumah, dan hanya membawa ponsel dasar saat keluar rumah. Perbedaan terbesarnya adalah pikiran saya terasa lebih tenang karena tidak terus-menerus bereaksi terhadap notifikasi,” tuturnya.

Langkah ini sejalan dengan riset di Computers in Human Behavior yang menunjukkan bahwa membatasi (bukan meninggalkan total) penggunaan ponsel pintar dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan kesejahteraan mental.

Back to top button