
Dengan anggaran yang sama untuk membeli satu unit Rafale, Pakistan secara teknis bisa mendapatkan hampir tiga unit JF-17 Block 3. Inilah alasan mengapa pesawat ini sangat menarik bagi negara-negara dengan anggaran pertahanan terbatas namun membutuhkan teknologi radar dan rudal modern.
WWW.JERNIH.CO – Ambisi Pakistan dalam membangun kedaulatan udara melalui JF-17 Thunder bukan sekadar proyek militer, melainkan simbol kemandirian bangsa di tengah himpitan geopolitik yang keras.
Bagi Pakistan, JF-17 Thunder adalah jawaban atas ketergantungan kronis terhadap teknologi Barat yang sering kali disertai sanksi politik. Pentingnya pesawat ini terletak pada tiga pilar: Kemandirian Strategis, Efisiensi Biaya, dan Modernisasi Pertahanan.
Selama puluhan tahun, Pakistan bergantung pada F-16 Amerika Serikat. Namun, embargo yang kerap terjadi membuat Islamabad menyadari bahwa mereka butuh pesawat yang bisa diproduksi, diperbaiki, dan dimodifikasi di dalam negeri tanpa izin pihak asing.
JF-17 hadir sebagai tulang punggung Angkatan Udara Pakistan (PAF) untuk menggantikan armada uzur seperti Mirage III dan F-7P, sekaligus menjadi pengimbang kekuatan udara India di kawasan.

JF-17 (Joint Fighter-17) Thunder adalah jet tempur multi-peran (multi-role) ringan kursi tunggal yang mampu beroperasi dalam segala cuaca. Menggunakan turbofan Klimov RD-93 (turunan dari mesin MiG-29 Rusia) yang menghasilkan daya dorong maksimal sekitar 19.000 lbs dengan afterburner.
Kecepatanya mampu melesat hingga Mach 1,6 (sekitar 1.960 km/jam). JF-17 memiliki 7 hingga 8 hardpoints (titik angkut) yang bisa membawa beban hingga 3.600 kg. Senjatanya mencakup rudal udara-ke-udara jarak pendek (PL-10) dan jarak jauh (PL-15E), rudal anti-kapal, serta bom pintar berpemandu laser.
Varian terbaru (Block 3) adalah versi tercanggih yang sudah menyandang predikat Generasi 4,5. Dilengkapi dengan radar AESA KLJ-7A yang bisa melacak banyak target sekaligus dari jarak jauh, sistem Helmet-Mounted Display (HMD), dan avionik digital mutakhir.
Proyek ini adalah hasil kerja sama strategis antara Pakistan Aeronautical Complex (PAC) dan Chengdu Aircraft Corporation (CAC) dari China.
Pakistan tidak hanya membeli, mereka belajar. Dari proyek ini, Pakistan menyerap teknologi manufaktur jet tempur dari Tiongkok. Porsi manufakturnya terbagi unik: sekitar 58% badan pesawat dibuat di Pakistan (termasuk sayap, ekor vertikal, dan badan depan), sementara 42% sisanya dipasok dari Tiongkok.

Perakitan akhir sepenuhnya dilakukan di fasilitas PAC Kamra, Punjab. Keberhasilan ini membuat Pakistan menjadi sedikit dari negara berkembang yang mampu memproduksi jet tempur supersonik secara mandiri.
Pakistan Aeronautical Complex (PAC), yang berlokasi di Kamra, Provinsi Punjab, adalah jantung dari kedaulatan udara Pakistan. Jika JF-17 adalah “anak” dari hasil perkawinan teknologi, maka PAC adalah “rahim” sekaligus bengkel raksasa yang memastikan Angkatan Udara Pakistan (PAF) tetap terbang tanpa harus mengemis suku cadang ke negara
PAC merupakan sebuah kompleks industri militer yang terdiri dari empat divisi utama (pabrik) dengan spesialisasi yang sangat spesifik. Antara lain Aircraft Manufacturing Factory (AMF), inilah tempat lini produksi JF-17 Thunder berada. Di sini, lempengan logam dan komponen mentah dirakit menjadi struktur pesawat. AMF juga memproduksi pesawat latih ringan seperti Super Mushshak yang telah diekspor ke berbagai negara (Turki, Arab Saudi, Nigeria).
Kemudian Aircraft Rebuild Factory (ARF) yang berfokus pada overhaul (turun mesin) dan pemeliharaan berat pesawat tempur seri F-7 (Tiongkok) dan Mirage III/V (Prancis). Keahlian ARF dalam memperpanjang usia pakai Mirage yang sudah tua sangat diakui secara internasional.
Berikutnya Avionics Production Factory (APF). Inilah “otak” dari PAC. Mereka memproduksi sistem radar, perangkat perang elektronik (Electronic Warfare), dan instrumen kokpit digital. Mereka juga bertanggung jawab atas integrasi sensor canggih pada JF-17 Block 3.
Di sisi perawatan mengandalkan Mirage Rebuild Factory (MRF. Bagian ini khusus menangani perawatan mesin jet, termasuk mesin Klimov RD-93 milik JF-17 dan mesin Atar milik Mirage.
AC saat ini sedang bergerak menuju teknologi Generasi ke-5 melalui program yang disebut Project AZM. Ambisi mereka adalah mengembangkan PF-X, sebuah jet tempur siluman (stealth). Di sini, PAC berfungsi sebagai pusat riset dan pengembangan (R&D) untuk teknologi material komposit dan sistem integrasi senjata siluman agar Pakistan tidak tertinggal oleh proyek AMCA milik India atau KAAN milik Turki.
Salah satu senjata terkuat JF-17 adalah harganya yang sangat kompetitif. JF-17 Block 3 (Pakistan/China) diperkirakan dibanderol sekitar Rp 420 Miliar – Rp 588 Miliar per unit. Bandingkan dengan jet tempur Barat, F-16 Block 70 (Amerika Serikat) harganya bisa mencapai Rp 1,34 Triliun per unit. Lantas Dassault Rafale (Prancis) malah melampaui Rp 1,68 Triliun per unit.

Namun di atas kertas, JF-17 sering disetarakan dengan F-16 Fighting Falcon (versi awal hingga menengah) dan JAS 39 Gripen Swedia dalam hal peran tempur ringan. Pesaing terdekatnya di Asia adalah HAL Tejas buatan India dan FA-50 dari Korea Selatan. Namun, JF-17 unggul dalam hal pengalaman tempur (combat proven) dan kemudahan integrasi senjata non-Barat.
Di kawasan Asia sendiri sedang mengalami perlombaan manufaktur jet tempur yang sangat dinamis. China sebagai pemain dominan dengan J-20 (siluman) dan J-10. India terus mengembangkan HAL Tejas dan proyek AMCA (generasi ke-5).
Korea Selatan sukses dengan FA-50 dan sedang menguji jet tempur masa depan KF-21 Boramae. Turki dan Jepang juga agresif membangun platform generasi ke-5 (KAAN dan Mitsubishi F-X). Sedang Pakistan fokus pada produksi massal JF-17 dan mulai melirik proyek jet tempur siluman (Project AZM).(*)
BACA JUGA: J-35, Sinyal Baru Kekuatan Udara China yang Siap Diproduksi Massal






