Sunyi Lebaran di Jantung Tanah Persia

Di sudut-sudut kota Teheran yang sunyi, aroma air mawar dari makam-makam suci bersatu dengan wangi sisa salju yang mencair. Takbir Idul Fitri berkumandang lembut di antara meja-meja Haft-sin yang sederhana. Di tengah kecamuk yang belum reda.
WWW.JERNIH.CO – Di bawah langit Teheran yang masih menyisakan hawa dingin musim dingin, dua perayaan besar bertemu dalam satu titik waktu: Idulfitri 1447 Hijriah dan Nowruz 1405 (Tahun Baru Persia). Namun, alih-alih kemeriahan yang meluap, suasana di sepanjang Jalan Vali-e-Asr hingga alun-alun Naqsh-e Jahan di Isfahan terasa sunyi, dibalut ketegangan yang nyata.
Realitas di lapangan hari ini tidak bisa menutupi luka yang sedang dialami negeri ini. Iran merayakan kemenangan spiritual setelah 30 hari berpuasa di tengah kecamuk konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel—sebuah periode yang oleh warga lokal kini dijuluki sebagai “Ramadhan Perang.”
Pagi, sekitar pukul 06:30 waktu setempat, ribuan jamaah tetap berkumpul untuk melaksanakan shalat Idul Fitri. Di Mushalla Imam Khomeini, Teheran, saf-saf jamaah tidak hanya diisi oleh mereka yang berbaju baru, tetapi juga oleh wajah-wajah lelah yang membawa doa untuk keselamatan bangsa.

Khotbah yang disampaikan oleh otoritas keagamaan—di bawah kepemimpinan baru Mojtaba Khamenei yang menggantikan ayahnya—berulang kali menekankan ketabahan menghadapi sanksi internasional dan tekanan perang.
Secara faktual, perayaan tahun ini jauh dari kesan mewah. Data ekonomi menunjukkan Iran sedang berjuang melawan inflasi yang mendekati angka 60%. Bagi keluarga rata-rata di Teheran, membeli sekotak sohan (permen tradisional) atau kacang-kacangan untuk menjamu tamu kini menjadi kemewahan yang sulit dijangkau.
Banyak warga yang lebih memilih tinggal di dalam rumah, bukan hanya karena keterbatasan ekonomi, tetapi juga demi keamanan akibat ancaman serangan udara yang masih membayangi wilayah-wilayah strategis.
Uniknya, Idulfitri hari ini bertepatan dengan hari kedua Nowruz, festival musim semi yang telah dirayakan selama ribuan tahun. Di rumah-rumah warga, meja Haft-sin (tujuh benda simbolis awal tahun) bersanding dengan sajian khas Lebaran. Ini adalah momen emosional di mana identitas Islam dan identitas Persia melebur.
Namun, kegembiraan itu tertahan. Jalanan yang biasanya macet oleh warga yang mudik (did-o-bazdid) kini terlihat lengang. Pemerintah telah menetapkan libur nasional hingga beberapa hari ke depan, namun sektor pariwisata lumpuh total.
Banyak keluarga yang kehilangan anggota kerabat dalam setahun terakhir akibat protes domestik maupun konflik regional, menjadikan Idulfitri kali ini lebih banyak diisi dengan ziarah ke makam daripada pesta pora.
Di balik tembok-tembok bata di Shiraz dan Tabriz, Idul Fitri tetaplah Idul Fitri. Ibu-ibu masih berusaha menyajikan Ghormeh Sabzi meskipun dengan porsi daging yang jauh lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya.
Esensi hari ini adalah bertahan hidup. Sebagaimana pepatah Persia yang sering terdengar di kedai teh yang tersisa: “In niz bogozarad”—ini pun akan berlalu.
Meskipun bayang-bayang konflik dan tekanan ekonomi sangat terasa pada Idulfitri 2026 ini, masyarakat Iran dikenal memiliki akar tradisi yang sangat kuat. Bagi warga Iran, menjaga tradisi bukan sekadar perayaan, melainkan bentuk perlawanan terhadap keputusasaan dan upaya mempertahankan identitas bangsa di tengah krisis.
Di tengah suasana perang, tradisi mengunjungi pemakaman menjadi sangat emosional. Pada pagi hari setelah shalat Ied, keluarga-keluarga di Teheran, Isfahan, hingga Tabriz berbondong-bondong menuju pemakaman umum seperti Behesht-e Zahra.

Mereka membawa bunga mawar dan air mawar (Golab) untuk membasuh batu nisan. Di tahun 2026 ini, banyak nisan baru yang dikunjungi—mereka yang gugur dalam konflik regional setahun terakhir. Ini adalah momen di mana kesedihan kolektif berubah menjadi doa bersama untuk kedamaian.
Tradisi Eid-Didani (kunjungan Idul Fitri) tetap berjalan, meski polanya berubah. Jika biasanya warga saling mengunjungi dari rumah ke rumah dalam lingkaran besar, sekarang kunjungan dibatasi hanya pada keluarga inti dan orang tua.
Karena harga kacang-kacangan (Ajeel) dan manisan yang melonjak akibat inflasi 60%, warga beralih menyajikan teh hangat dengan gula batu (Nabat) sederhana.
Di tengah ketidakpastian perang, kunjungan ini menjadi sarana untuk memastikan keselamatan satu sama lain dan saling berbagi kabar tentang anggota keluarga yang sedang bertugas di perbatasan.
Makan siang pertama setelah sebulan berpuasa adalah ritual suci. Hidangan Ghormeh Sabzi (rebusan sayur herba dengan daging) atau Chelo Khoresh tetap diupayakan ada di meja makan.

Di tahun 2026, karena kelangkaan daging sapi dan domba akibat sanksi serta gangguan distribusi logistik perang, banyak keluarga yang memodifikasi resep tradisional dengan lebih banyak kacang-kacangan atau jamur untuk mempertahankan cita rasa yang sama tanpa biaya tinggi.
Orang tua di Iran tetap berusaha memberikan Eidi (hadiah uang) kepada anak-anak. Di tengah krisis ekonomi 2026, nilai uangnya mungkin tidak besar, namun pemberian ini dianggap penting untuk memberikan rasa “normal” dan kegembiraan bagi anak-anak yang tumbuh di bawah suara sirine peringatan serangan udara. Uang biasanya diletakkan di dalam lipatan Al-Qur’an sebelum diberikan.(*)
BACA JUGA: Kilang Minyak Haifa Membara: Serangan Rudal Iran Hantam Jantung Energi Israel, Saham Bazan Anjlok






