Desportare

Berdua Menjajal Single Track Puntang – Cimeuhmeul

Warung ini dihuni keluarga petani kopi pengolah kebun di situ. Kami istirahat. Aku pesan Vietnam drip, Guska kopi tubruk. Kali ini pakai kopi specialty asli Puntang. Si suami cerita cara mengolah kopi dari menanam, memelihara, memanen, menyangrai, sampai tersaji dalam gelas di tangan kami. Si anak menimpali dengan suka-duka sebagai petani. Mereka merancang sendiri mesin sangrai dari modifikasi dandang.

Oleh  : Anwar Holid

JERNIL– Guska sudah sering mengajak aku gowes ke Gunung Puntang. Dia “kuncen” jalur Puntang, sebab kawasan itu tempat mainnya.

Dari Banjaran, dia tahu semua jalur alternatif menuju Puntang. Mau yang nanjak landai, nanjak ekstrem, banyak belokan, lewat desa, persawahan, atau kebun. Gunung Puntang memang merupakan tujuan favorit wisata alam, termasuk bagi goweser. Biasanya goweser finish di pintu gerbang Gunung Puntang, istirahat, jajan, terus turun kembali.

Meski pernah gowes ke Gunung Puntang, Situ Cimeuhmeul, dan Desa Wisata Mangun, aku belum pernah melintasi hutan Gunung Puntang ke Cimeuhmeul. Kata Guska ada single track yang menghubungkan keduanya. Di tengahnya ialah Mangun dan Tanjakan Langit — tempat pemotor cross berlatih atau uji nyali. Guska pernah gowes bareng ke single track itu, tapi sudah agak lupa. Untuk menyegarkan lagi, dia ajak aku masuk ke sana — siapa tahu bisa jadi marshal bila nanti diperlakukan. Aku antusias atas ajakannya.

“Mau jalan berat atau ringan ke Puntangnya?” tanya Guska waktu kami ketemu di Alun-Alun Banjaran, Sabtu (31/7) sekitar pukul 07.15.

“Ringanlah, kan nanti dari Puntang berat rutenya,”kataku. Tapi seringan-ringannya ke Puntang, ya tetap nanjak. Kami lewat kampung Kaca-Kaca Dua, melalap tanjakan curam pendek. Sebentar lewat kampung itu kami lihat ada mobil pikap kesulitan belok di tengah jalan. Ban belakang persis nempel di bibir tebing sawah, sementara salah satunya menggantung. Tidak bisa bergerak. Gawat. Insiden sedikit saja bisa terjungkal. Sopirnya kesulitan.

“Bentar Tax, kita bantu,”kata Guska bergegas menaruh sepeda. Kami cepat-cepat mendorong mobil, dibantu teman pak sopir. Awalnya gagal. Tapi yang kedua berhasil.

Setelah itu perjalanan menanjak landai, melewati persawahan luas. Ini jalur favoritku tiap kali ke Puntang. Di jalan tengah sawah tampak puncak Gunung Puntang berkabut tebal berarak, mirip gambar perdesaan waktu kami SD. Di persawahan kami lihat sekelompok bocah main rakit-rakitan di sungai yang alirannya cukup deras. Mereka tertawa gembira menikmati pagi dan matahari. Habis melewati persawahan kami istirahat minum kopi susu sasetan, setelah itu lanjut lewat jalan kampung.

Begitu nanjak masuk kampung kami terhalang pawai sisingaan, rupanya ada anak mau disunat. Lolos dari tanjakan single track kampung, kami langsung ketemu belokan jalan utama ke gerbang Puntang. Di sini kami papasan dengan sepasang goweser paro baya bersama dua goweser cewek ABG.

“Anak, Pak?” tanyaku.

“Bukan, keponakan,” jawabnya.

“Hebat, kuatan Si Eneng,”timpal Guska.

Tanpa istirahat kami langsung belok kiri ke jalan setapak berbatu persis sebelum pintu gerbang. Inilah single track yang akan kami lalui. Baru beberapa menit jalan, kami lihat kucing bunting tua kepayahan di kebun. Dia melangkah turun ke jalan. Kucing bunting ini bikin Guska trenyuh. Pasti karena dia memelihara kucing.

“Kasihan Tax, udah mau ngelahirin,” kata dia.

”Ya, dia pasti tahu cari tempat ngelahirinnya,”balasku.

Kayaknya dia kelaparan. Coba kamu beliin makanan,” kata dia sambil ngasih uang. Antara aneh dan ketawa aku bergegas pakai sepedanya balik ke jalan utama menuju warung terdekat. Aku cari ikan atau tongkol, tapi adanya bakso ikan. Benar saja, begitu kami sajikan potongan baso itu ke kucing, dia pelan-pelan menjilati dan memakannya. Baru kali ini kami gowes terhalang insiden kucing mau melahirkan.

Dari awal, tak sepanjang single track enak buat gowes. Sebagian hancur, batu jalanan ambrol, sebagian masih jalan tanah. Untung cuaca cerah dan sudah berhari-hari tidak hujan, jadi jalan kering. Kami santai, tak ada target waktu. Makin masuk, kami tiba di satu-satunya warung di hutan, di antara kebun kopi di tengah pohon pelindung rasamala dan pinus. Namanya Nectar Kopi.

Warung ini dihuni keluarga petani kopi pengolah kebun di situ. Kami istirahat. Aku pesan Vietnam drip, Guska kopi tubruk. Kali ini pakai kopi specialty asli Puntang. Si suami cerita cara mengolah kopi dari menanam, memelihara, memanen, menyangrai, sampai tersaji dalam gelas di tangan kami. Si anak menimpali dengan suka-duka sebagai petani. Mereka merancang sendiri mesin sangrai dari modifikasi dandang. Asyik dengar cerita tentang kopi, tahu-tahu terdengar azan duhur. Berarti sekitar satu jam kami beristirahat.

Bagi goweser jago, medan di tengah hutan sungguh menantang buat uji ketangkasan dan kemampuan. Tapi bagi pemula, lebih baik hati-hati. Jangan ambil risiko celaka di tengah hutan. Jangan sungkan menuntun atau mendorong sepeda.

Setelah membelah jalan hutan, kami melewati parit nan jernih, ada di jalan makadam rusak. Ini sudah di Mangun, kata Guska sambil langsung belok masuk ke jalan tertutup semak di tengah kebun kopi. Tapi dia ragu. Akhirnya kami balik lagi ke jalan makadam, sambil Guska mengingat-ingat.

Dia bilang, ada jalan pintas flowy menuju Tanjakan Langit. Kami ke bawah sebentar untuk mengecek. Dia memastikan, ke bawah menuju Mangun. Apa belokannya ada di atas? Kami gowes lebih naik, tapi tanda jalan setapak lain tak ada. Untung ada pak tani yang bisa ditanyai. Dia bilang kalau terus ke atas lagi berarti menuju Gunung Kolotok. Akhirnya kami turun lagi ke belokan semula.

“Wah, bolak-balik gini pasti bikin bingung Strava,”candaku.

“Kita coba yang tadi saja,”kata Guska.

Rupanya begitu bablas menembus jalan tertutup itu, makin tampak jelas sebagai single track. Naik-turun sepanjang lereng menuju Tanjakan Langit sebenarnya enak, tapi jalan yang parah membuat perjalanan jadi berat. Untung kondisinya lagi mending. Bayangkan kalau semalam hujan. Pasti kami tersiksa banget. Di tempat tertentu dari lereng sini tampak pemandangan Banjaran jauh di bawah sana. Bagi penjelajah dan penikmat single track, panorama seperti ini anugerah tiada terkira — bayaran setara bagi usaha keras. Kami sesekali berpapasan dengan pemotor cross atau pendaki gunung sendirian. Motor cross punya daya rusak besar terhadap jalan setapak di tengah hutan. Selain faktor alamiah, merekalah yang bikin ambrol jalan berbatu menjadi berparit. Akibatnya banyak sekali batu besar amburadul menonjol ke permukaan. Di sejumlah tempat, batu-batu besar dan batang pohon sengaja ditaruh di tengah jalan sebagai isyarat protes agar tak dilintasi motor cross.

Rute single track menuju Tanjakan Langit terbilang berat. Kami sering nuntun, dorong, angkat, dan memindahkan sepeda. Jalan kebanyakan rusak parah, istilahnya ‘ungowesable‘ — tidak bisa buat gowes. Mungkin hanya 20 persen kami bisa gowes di etape ini.

Sambil menikmati alam, akhirnya kami sampai ke jalan turun mulus. Begitu meluncur, kami tiba persis di atas Tanjakan Langit. Aku segera memeriksa sekeliling. Penasaran. Aku lihat ke bawah sana seperti jalur kawah. Memang curam sekali. Lagi tak ada pemotor cross di situ, tapi gerungan knalpot sesekali terdengar dari kejauhan. Aku tidak terkesan dengan kerusakan alam di sekitar sini. Ironis. Tanah pegunungan rusak oleh motor trail, tapi aku lihat ada slogan di spanduk bunyinya: “Mari Lestarikan Hutan Puntang.”

Tanpa lama kami menuju Situ Cimeuhmeul. Sepedaku terasa seret. Ternyata rear derailleur terlilit sulur rumput. Langsung aku bereskan. Belok kanan menurun sebentar dari Tanjakan Langit, kami ketemu tanjakan curam lebih parah. Sepeda kami dorong lagi. Etape ini beneran lebih berat dan nanjak. Mungkin hanya lima persen kami bisa gowes dari Tanjakan Langit ke Situ Cimeuhmeul.

Perut mulai terasa kempes dan bergetar. Aku bayangkan bisa makan di Situ Cimeuhmeul. Obat kesenangan di rute ini ialah kami lewat aliran sungai dangkal nan jernih. Di situ kami istirahat, berfoto, meredakan kelelahan. Ke luar dari sana kami gowes sedikit lagi untuk sampai di gerbang Situ Cimeuhmeul.

Situ Cimeuhmeul tambah cakep dari terakhir kali kami datangi lewat Arjasari. Asri, tertata rapi, air tenang dan jernih. Kami puas, tapi aku rada masygul harus menunda lapar lebih lama. Tak ada warung di sini. Begitu selesai berfoto dan keringat kering, kami segera turun meninggalkan danau kecil ini.

Jalan makadam menurun dari Situ Cimeuhmeul rupanya jauh lebih hancur dari dugaanku. Tampak tak diurus. Padahal menuju tempat indah. Bebatuan berserakan sepanjang medan. Perlu hati-hati, jangan sampai selip dan tergelincir. Di depan Guska ketemu pemotor cross yang ketinggalan teman. Dia tanya jalan ke Tanjakan Langit. Guska menerangkan ancer-ancernya, memberi tahu kesulitan kondisi jalan, termasuk ngasih alternatif balik saja lewat rute Mangun yang lebih mudah. Apalagi hari menjelang ashar. Tapi tampaknya dia berani menjelajah jalan hutan sendirian.

“Kalo ada warung nasi kita berhenti dulu ya,” kataku mendului Guska. Begitu belok ke jalan desa di tengah lahan pertanian yang lagi kosong, kondisinya tidak membaik. Sungguh beda dengan jalan ke Puntang atau Mangun. Kami makin menjauhi bukit. Di tengah kebun, ada kedai terbuka. Namanya Kedai Kopi Cimeuhmeul. Aku buru-buru tanya apa ada nasi. Ternyata tidak. Ya sudah, kami pesan mie rebus telur dan singkong goreng keju. Buat ganjal perut kempes dan sudah merintih.

Sambil menunggu, kami nikmati udara terbuka, angin menerpa, kawasan perbukitan, semburat sinar matahari yang menembus awan — sejuk dan dramatik. Cukup banyak pengunjung kedai ini, termasuk para pendaki gunung. Begitu sampai, makanan cepat ludes. Teh panas manisnya nikmat sekali.

Jalan rusak parah berakhir di mulut lahan pertanian. Setelah itu jalan mulus sepanjang kami menuruni Kampung Kiara Payung, sampai akhirnya menepi di Banjaran.

Gimana Tax, apa kamu siap aku baptis jadi marshal rute ini?”

“Ahhh… syiapp!” jawabku sambil mengadu kepal sebelum berpisah jalan. [ ]

Anwar Holid, goweser amatir. Bekerja sebagai editor dan penulis. Tinggal di Bandung. Blog: halamanganjil.blogspot.com. Twitter: @nwrhld. IG: @anwarholid.

Back to top button