Dunia Mengamuk! Video Menteri Israel Ejek Aktivis Gaza yang Terikat Picu Kecaman Global, 9 WNI Ikut Ditawan

- Aksi arogan Ben-Gvir langsung memicu reaksi berantai dari para petinggi dunia yang menilai tindakan tersebut telah melanggar hukum humaniter internasional.
- Koalisi Global Sumud Flotilla melaporkan bahwa sedikitnya 87 aktivis yang diculik langsung menggelar aksi mogok makan massal di dalam tahanan.
JERNIH – Gelombang kemarahan internasional meledak setelah Menteri Keamanan Nasional Israel dari sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, mengunggah video kontroversial di media sosial. Video tersebut memperlihatkan dirinya tengah mengejek dan mengintimidasi para aktivis kemanusiaan Kapal Flotilla Gaza yang diculik militer Israel, dalam kondisi berlutut dengan tangan terikat ke belakang.
Merespons tindakan yang dinilai menginjak-injak martabat manusia tersebut, sejumlah negara besar—termasuk Italia, Prancis, Belanda, dan Kanada—langsung mengambil tindakan diplomatik keras dengan memanggil paksa para Duta Besar Israel di ibu kota mereka untuk mengekspresikan “kemarahan dan kemuakan” atas perlakuan brutal tersebut.
Aksi arogan Ben-Gvir langsung memicu reaksi berantai dari para petinggi dunia yang menilai tindakan tersebut telah melanggar hukum humaniter internasional. Giorgia Meloni PM Italia menyebutkan, foto dan video dari Menteri Israel Ben-Gvir sama sekali tidak bisa diterima. “Sangat tidak dapat ditoleransi bahwa para demonstran ini, termasuk banyak warga negara Italia, diperlakukan dengan cara yang melanggar martabat manusia mereka,” katanya.
Menlu Prancis Jean-Noel Barrot juga mengecam aksi tersebut sebagai tindakan yang “tidak dapat diterima” dan menuntut pembebasan warga negara Prancis secepatnya. Sedangkan Menlu Kanada Anita Anand menyebut insiden ini “sangat mengganggu” dan menegaskan Ottawa memanggil Dubes Israel dengan urgensi tinggi demi keselamatan warga sipil.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung juga empertanyakan legalitas hukum aksi penyerangan Israel di perairan internasional. “Apa dasar hukumnya? Apakah itu laut teritorial Israel? Jika ada konflik, apakah mereka berhak menyita dan menahan kapal negara ketiga? Tindakan ini sudah sangat kelewat batas!”
Sementara Menlu Spanyol Jose Manuel Albares menyebut perlakuan itu “sangat biadab (monstruous)” sedangkan Menlu Irlandia Helen McEntee mengaku “syok” dan menuntut pembebasan segera. Bahkan, Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, turut mengkritik dengan menyebut Ben-Gvir telah “mengkhianati martabat bangsanya sendiri” karena mempublikasikan video penyiksaan tersebut.
Aksi boikot dan bantuan kemanusiaan global ini awalnya bergerak damai sebelum akhirnya dihentikan secara paksa oleh militer Israel. Lebih dari 50 kapal bertolak dari kota pelabuhan Marmaris, Turkiye, pekan lalu dengan misi kemanusiaan menembus blokade ilegal Israel di Jalur Gaza. Kapal terakhir yang disergap adalah kapal Lina al-Nabulsi yang membawa enam aktivis.
Penyelenggara menyatakan bahwa Pasukan Angkatan Laut Israel mulai mengepung dan membajak kapal-kapal tersebut sejak hari Senin di perairan internasional lepas pantai Siprus. Militer Israel dilaporkan melakukan penyerbuan secara brutal, menembakkan peluru karet, dan menculik para peserta.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) mengonfirmasi bahwa sembilan warga negara Indonesia (WNI) berada di antara ratusan aktivis yang diculik. Pemerintah Indonesia mengutuk keras pencegatan ini dan menegaskan bahwa “seluruh jalur diplomasi dan langkah konsuler akan terus dikerahkan sepenuhnya” untuk membebaskan para WNI.
Selain delegasi Indonesia, sekitar 15 warga negara Irlandia ikut ditahan, termasuk Margaret Connolly, seorang dokter yang merupakan saudara kandung dari Presiden Irlandia, Catherine Connolly.
Kementerian Luar Negeri Israel berdalih bahwa operasi militer ini sukses menggagalkan apa yang mereka sebut sebagai “aksi cari panggung (PR stunt)” dan mengonfirmasi telah membawa total 430 aktivis secara paksa ke daratan Israel.
Namun, para aktivis menolak tunduk. Koalisi Global Sumud Flotilla melaporkan bahwa sedikitnya 87 aktivis yang diculik langsung menggelar aksi mogok makan massal di dalam tahanan. Langkah ekstrem ini diambil sebagai bentuk protes atas penculikan ilegal mereka sekaligus sebagai aksi solidaritas bagi lebih dari 9.500 warga Palestina yang saat ini disekap di dalam penjara-penjara bawah tanah Israel.
Hingga berita ini diturunkan, puluhan negara termasuk Turkiye, Spanyol, Yordania, Pakistan, Bangladesh, Brasil, Kolombia, Libya, hingga Maladewa terus menyuarakan kecaman dan menyebut aksi pencegatan oleh Israel sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional”.






