Moron

Dianggap Judi Berkedok Prediksi, Komdigi Resmi Blokir Polymarket

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi memblokir Polymarket karena dinilai memfasilitasi perjudian online bermodus pasar prediksi. Atau karena sentil Prabowo?

WWW.JERNIH.CO –  Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi memblokir platform pasar prediksi berbasis blockchain global, Polymarket. Langkah tegas pemerintah ini mengejutkan para penggiat kripto dan netizen tanah air karena platform tersebut tengah naik daun secara global.

Alasan utama Komdigi (melalui Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital) melakukan pemblokiran adalah karena Polymarket dikategorikan sebagai situs judi online berkedok platform prediksi.

Pemerintah menegaskan bahwa aktivitas di dalam Polymarket mengandung unsur taruhan uang dan spekulasi atas suatu peristiwa yang hasilnya belum pasti. Di bawah hukum Indonesia, segala bentuk perjudian—termasuk yang menggunakan instrumen aset kripto dan teknologi blockchain—adalah ilegal dan dilarang keras.

Ditambah lagi, platform ini sempat viral di Indonesia karena menyediakan pasar taruhan yang menebak nasib masa depan politik lokal, termasuk prediksi mengenai Presiden Prabowo Subianto.

Indonesia menyusul langkah negara lain seperti Singapura, Brasil, dan India yang telah memblokir penuh platform ini, serta beberapa negara Asia lain yang membatasi aksesnya.

Polymarket adalah platform decentralized prediction market (pasar prediksi terdesentralisasi) terbesar di dunia yang dibangun di atas jaringan blockchain Polygon.

Di sini, pengguna bukan bertaruh melawan “bandar”, melainkan membeli dan menjual “saham” (shares) atas hasil dari peristiwa dunia nyata. Peristiwa tersebut mencakup politik (seperti Pemilu AS), bisnis, budaya pop, hingga sains.

Setiap pertanyaan prediksi memiliki jawaban “Ya” atau “Tidak” dengan harga saham berkisar antara 0.01 dolar hingga 0.99 dolar. Harga ini mencerminkan probabilitas pasar saat itu. Jika prediksi Anda benar, setiap saham akan bernilai 1.00 dolar. Jika salah, nilainya menjadi nol.

Polymarket didirikan pada tahun 2020 oleh Shayne Coplan, seorang pengusaha muda asal Amerika Serikat yang saat itu baru berusia 22 tahun. Proyek ini sukses menarik pendanaan besar dari investor ventura ternama di Silicon Valley, termasuk Founders Fund milik Peter Thiel dan salah satu pendiri Ethereum, Vitalik Buterin.

Polymarket mengalami ledakan popularitas luar biasa, terutama sejak siklus politik global 2024 hingga saat ini. Volume transaksinya telah menembus angka miliaran dolar AS dengan ratusan ribu pengguna aktif bulanan (monthly active users) di seluruh dunia. Sebagian besar pengguna merupakan komunitas berbasis Web3 dan investor ritel global yang mencari keuntungan dari volatilitas spekulasi berita utama.

Secara teknis, bertransaksi di Polymarket memanfaatkan ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi). Pengguna harus menghubungkan dompet Web3 (seperti MetaMask, Coinbase Wallet) atau mendaftar menggunakan email yang nantinya otomatis dibuatkan dompet berbasis smart contract.

Transaksi di platform ini menggunakan mata uang kripto stabil (stablecoin) bernama USDC (USD Coin) yang berjalan di jaringan Polygon.

Selanjutnya pengguna mencari topik yang mereka kuasai (misalnya: “Apakah regulasi kripto X akan disahkan bulan depan?”). Jika ingin membeli saham, pengguna tinggal pilih “Yes” atau “No”. Mereka bisa menahan saham tersebut hingga waktu kejadian terbukti, atau menjualnya di tengah jalan jika harganya naik demi mengamankan keuntungan (take profit).

Di kancah internasional, terdapat beberapa platform pasar prediksi (prediction market) yang menjadi kompetitor langsung Polymarket. Dua nama terbesar di antaranya adalah Kalshi yakni platform prediksi legal dan teregulasi penuh di bawah CFTC (Commodity Futures Trading Commission) di Amerika Serikat. Berbeda dengan Polymarket, Kalshi menggunakan mata uang fiat (Dolar AS) tradisional dan tidak berbasis kripto.

Ada pula Limitless & Worm.wtf. Platform pasar prediksi Web3 alternatif yang masing-masing berjalan di jaringan Base dan Solana.

Meskipun aplikasi alternatif seperti Kalshi atau Limitless mungkin secara teknis masih dapat dibuka (belum tersisir oleh sistem pemblokiran Komdigi), secara substansi hukum aktivitasnya tetap dilarang di Indonesia.

Karena model bisnisnya sama-sama memfasilitasi taruhan berbasis uang atas spekulasi peristiwa yang belum pasti, platform-platform sejenis ini kemungkinan besar akan menyusul masuk dalam daftar blokir jika penggunaannya mulai masif di tanah air. (*)

BACA JUA: Geger Video Amien Rais, Komdigi Beri Peringatan Keras

Back to top button