[JERNIH PIALA DUNIA 2026] Kontroversi Bentangan Spanduk “Las Malvinas Son Argentinas” Argentina

Skuad Argentina seakan tak peduli apa kata dunia. Menang melawan Inggris dengan membentangkan spanduk yang membuka luka masa lalu. Sebuah selebrasi yang tak perlu lantaran terlalu politis.
WWW.JERNIH.CO – Sepak bola dan politik sering kali berkelindan dalam jalinan yang rumit, dan tak ada negara yang menggambarkan hubungan ini lebih intim daripada Argentina.
Sesaat setelah peluit panjang berbunyi di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, dalam laga semifinal Piala Dunia 2026, para penggawa tim nasional Argentina merayakan kemenangan dramatis 2-1 atas Inggris dengan sebuah aksi yang langsung mencuri perhatian dunia: membentangkan kembali spanduk bertuliskan “Las Malvinas Son Argentinas.”
Aksi ini memicu gelombang diskusi global, membuka kembali luka lama sebuah perang emosional, dan memancing reaksi keras dari otoritas tertinggi sepak bola dunia.
Secara harfiah, kalimat tersebut berarti “Malvinas adalah milik Argentina.” Kepulauan Malvinas adalah sebutan bahasa Spanyol untuk Kepulauan Falkland, sebuah wilayah kepulauan di Samudra Atlantik Selatan. Bagi masyarakat Argentina, klaim atas pulau ini bukan sekadar urusan geopolitik belakangan, melainkan sebuah dogma nasional yang diajarkan sejak bangku sekolah dasar. Membentangkan spanduk tersebut adalah pernyataan kedaulatan yang absolut di mata publik Argentina.
Timnas Argentina membentangkan spanduk ini sebagai bentuk solidaritas nasional, pengingat sejarah, dan penghormatan kepada para veteran perang. Di Argentina, isu Malvinas adalah salah satu dari sedikit hal yang bisa menyatukan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang sekat politik. Dengan membawa spanduk tersebut ke lapangan hijau—panggung terbesar mereka—para pemain bertindak sebagai duta bangsa untuk menegaskan kepada dunia bahwa perjuangan merebut kembali kepulauan tersebut belum berakhir, setidaknya secara diplomatis dan kultural.
Untuk memahami kedalaman emosi di balik spanduk ini, kita harus memutar kembali waktu ke tahun 1982. Pada 2 April 1982, junta militer Argentina yang saat itu dipimpin oleh Jenderal Leopoldo Galtieri menginvasi Kepulauan Falkland yang dikuasai Inggris, dengan harapan bisa membangkitkan rasa patriotisme domestik.
Perdana Menteri Inggris saat itu, Margaret Thatcher, merespons dengan mengirimkan angkatan laut yang kuat. Perang berlangsung sengit selama 74 hari di medan yang dingin dan gersang. Perang berakhir pada 14 Juni 1982 dengan kekalahan Argentina. Konflik singkat namun berdarah ini merenggut nyawa 649 tentara Argentina, 255 personel militer Inggris, dan 3 warga sipil lokal. Kekalahan ini membekas sebagai trauma nasional yang mendalam bagi Argentina.
Luka Perang Falkland langsung merembet ke lapangan hijau, melahirkan salah satu rivalitas paling panas dalam sejarah sepak bola: Argentina vs Inggris. Empat tahun setelah perang, keduanya bertemu di perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Pertandingan ini menjadi legendaris berkat dua gol dari Diego Maradona. Di mana Maradona mencetak gol menggunakan tangannya, sebuah tindakan yang oleh publik Argentina dianggap sebagai “pencurian yang adil” untuk membalas Inggris.
“Itu adalah final bagi kami. Ini bukan tentang memenangkan pertandingan, ini tentang menyingkirkan orang Inggris,” kata Maradona dalam otobiografinya. Bagi Argentina, kemenangan 2-1 saat itu berasa seperti pembalasan moral atas kekalahan perang di Atlantik Selatan.
Rivalitas berlanjut di Piala Dunia 1998, ditandai dengan kartu merah David Beckham setelah dilanggar Diego Simeone, di mana Argentina menang lewat adu penalti. Inggris baru membalas pada Piala Dunia 2002 lewat penalti Beckham yang memastikan kemenangan 1-0.
Bagaimana reaksi FIFA terhadap spanduk “Las Malvinas Son Argentinas” tersebut? Sesuai dugaan, FIFA tidak tinggal diam.
FIFA memiliki aturan yang sangat ketat mengenai netralitas politik, yang tertuang dalam regulasi disiplin mereka. FIFA melarang keras segala bentuk pernyataan, simbol, atau tindakan yang bermuatan politik, agama, atau pribadi di dalam stadion.
Akibat aksi bentang spanduk tersebut, Komite Disiplin FIFA menjatuhkan sanksi denda yang signifikan kepada Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) dan memberikan peringatan keras. Bagi FIFA, lapangan sepak bola adalah tempat untuk persatuan olahraga, bukan arena untuk memperpanjang sengketa wilayah antarnegara. Meskipun didenda, bagi skuad Argentina, pesan mereka telah sukses tersampaikan ke seluruh penjuru dunia.
Kemenangan itu mencadi cacat, mengingat esensi utama dari kompetisi olahraga internasional seperti Piala Dunia adalah menyatukan bangsa-bangsa lewat permainan yang adil (fair play), bukan menjadi tempat untuk pamer ego nasionalisme atau memprovokasi lawan menggunakan trauma masa lalu.
Ketika berjumpa Mesir, penonton Argentina juga melakukan selebrasi yang tak senonoh, Yakni membentangkan bendera Israel demi mengejek pemain dan penonton Mesir.
Lagi pula skuad Inggris yang bertanding di Piala Dunia 2026—seperti Jude Bellingham, Bukayo Saka, atau Phil Foden—bahkan belum lahir ketika perang itu terjadi.(*)






