Crispy

Resmi Ganti Nama dan Buka Rute Internasional, Bandara Husein Sastranegara Siap “Ngebut” Lagi

Kerugian miliaran rupiah akibat “kebocoran” turis ke Jakarta membuat pemerintah akhirnya melunak. Bandara Husein kini bersiap melayani penerbangan jet komersial dan internasional lagi.

WWW.JERNIH.CO – ​ Pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan resmi menetapkan reaktivasi Bandara Husein Sastranegara untuk kembali melayani penerbangan komersial terjadwal, baik domestik maupun internasional, yang ditargetkan mulai beroperasi penuh pada 17 September 2026. Namun, pergerakan sudah dimulai lebih awal lewat rute-rute pendek pesawat baling-baling (propeller) pada Agustus 2026.

Menariknya, kembalinya bandara di tengah kota ini membawa identitas baru yang lebih tegas di telinga wisatawan mancanegara.

Jika sebelumnya nama bandara ini kerap hanya disebut Husein Sastranegara, kini nama resminya mengalami penyesuaian menjadi Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung.

Menurut Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, penyematan kata “Bandung” di bagian belakang nama resmi tersebut sudah disetujui oleh PT Angkasa Pura Indonesia dan InJourney Airports selaku pengelola BUMN. Langkah ini diambil agar identitas destinasi langsung dikenali di sistem penerbangan global, sekaligus mengukuhkan kembali posisi kota ini sebagai magnet pariwisata dan pendidikan di Asia Tenggara.

Keputusan mengaktifkan kembali jet komersial di Husein Sastranegara bukan tanpa alasan kuat. Sejak seluruh penerbangan sipil bermesin jet dipindahkan ke Bandara Kertajati (BIJB) di Majalengka pada Oktober 2023 lalu, sektor pariwisata dan ekonomi Kota Bandung babak belur.

Sektor perhotelan, restoran, dan UMKM kehilangan pasar turis asing, terutama dari Malaysia dan Singapura yang dulu hobi weekend getaway ke Bandung. Kerugian akibat penutupan akses udara langsung ini ditaksir mencapai lebih dari Rp60 miliar per tahun.

Alih-alih berpindah ke Kertajati, warga Bandung maupun wisatawan luar daerah yang ingin ke Bandung justru lebih memilih terbang via Bandara Soekarno-Hatta atau Halim Perdanakusuma di Jakarta, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan kereta cepat Whoosh atau travel. Akibatnya, perputaran uang dan keuntungan ekonomi dari sektor penerbangan justru dinikmati oleh Jakarta, bukan Jawa Barat.

Banyak masyarakat bertanya, mengapa pemerintah tidak konsisten memaksimalkan Bandara Kertajati yang sudah dibangun megah? Jawabannya terletak pada realitas lapangan dan strategi pembagian peran (dual-hub system).

Sejak tahun 2023, Bandara Kertajati terus menghadapi tantangan berat berupa isu aksesibilitas (jarak tempuh yang dinilai terlalu jauh bagi warga Bandung) dan tingkat okupansi penumpang yang belum optimal. Memaksakan seluruh penerbangan ke Kertajati justru membuat pasar penerbangan di Bandung mati muda.

Kementerian Perhubungan akhirnya melunak dan menerapkan strategi baru.  Husein Sastranegara diposisikan sebagai city airport yang melayani mobilitas cepat jarak pendek hingga menengah menggunakan pesawat jet narrow-body (seperti Boeing 737 atau Airbus A320) serta pesawat baling-baling.

Sementara Bandara Kertajati tetap menjadi prioritas utama untuk dikembangkan sebagai simpul penerbangan internasional jarak jauh menggunakan pesawat berbadan lebar (wide-body seperti Boeing 777), pusat penerbangan haji dan umrah, urat nadi logistik kargo, serta pusat industri dirgantara.

Reaktivasi ini langsung disambut antusias oleh maskapai. Tercatat sudah ada sekitar 6 maskapai domestik dan internasional yang mengantre untuk membuka rute di sini. Fokus utama adalah mengembalikan konektivitas segitiga emas belanja pasca-pandemi, Kuala Lumpur (Malaysia), Johor Bahru (Malaysia) dan Singapura.

Maskapai seperti Wings Air dan kelompok Lion Air (Super Air Jet) telah mengajukan perizinan slot untuk rute-rute strategis. Antara lain Rute Baling-Baling (ATR 72): Bandung – Lampung PP dan Bandung – Palembang PP (mulai beroperasi bertahap per Agustus 2026).

Sementara Rute Jet Komersial masih menunggu izin final, seperti Medan, Padang, Pekanbaru, Batam, Pontianak, Balikpapan, Makassar, dan Denpasar.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menjadi salah satu pihak yang paling gencar mendesak reaktivasi ini. Ia mengaku sangat lega dan antusias menyambut keputusan pemerintah pusat.

Menurutnya, akses langsung lewat udara adalah kunci vital bagi urat nadi perekonomian Kota Bandung. Saat ini Pemkot Bandung tengah sibuk berbenah menyiapkan infrastruktur pendukung di sekitar area Cicendo, mulai dari manajemen rekayasa lalu lintas hingga mempercantik akses jalan agar para pelancong yang baru mendarat bisa langsung merasakan atmosfer ramah dan estetik khas Kota Kembang.

Mengingat bandara ini baru bangkit dari masa “hibernasi” komersialnya, pihak InJourney Airports bersama Ditjen Perhubungan Udara saat ini fokus pada aspek perbaikan teknis seperti patching atau overlay (penebalan) landasan pacu serta kesisteman terminal.

Meski target angka tahunan spesifik pasca-pandemi untuk fase awal reaktivasi 2026 ini masih digodok menyesuaikan izin slot rute dari Dirjen Perhubungan Udara, secara historis sebelum dipindah, Bandara Husein mampu menampung hingga 3,5 sampai 4 juta penumpang per tahun.

Pihak otoritas berharap kembalinya pesawat jet secara bertahap ini bisa mengembalikan keterisian (okupansi) pesawat di angka minimal 80% dari kapasitas per penerbangan demi menjaga bisnis maskapai tetap sehat.(*)

BACA JUGA: Bandung Bakal Miliki Eduwisata Dirgantara, Ada Simulasi Terbangkan Pesawat

Back to top button