Oikos

Inovasi Cerdas Mahasiswa Unhas: “Patch Transdermal 2-in-1” untuk Kanker Payudara

Inovasi ini membuka harapan baru yakni pengobatan kanker payudara yang efektif tidak lagi harus identik dengan rasa sakit, efek samping yang menyiksa, atau biaya yang mencekik.(*)

JERNIH – Dunia riset dan inovasi Indonesia kembali dihebohkan dengan terobosan dari mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas). Sebuah tim mahasiswa Unhas sukses meraih Juara Pertama dalam Lomba Riset Inovasi Produk Obat dan Makanan 2025 yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, berkat inovasi revolusioner mereka dalam penanganan kanker payudara.

Inovasi yang memenangkan kompetisi bergengsi tersebut adalah “Patch Transdermal 2-in-1”, sebuah pendekatan nanotheranostics yang dirancang khusus untuk diagnosis dini sekaligus terapi kanker payudara secara non-invasif.

Nanotheranostics adalah bidang baru yang menggabungkan kemampuan diagnosis (theranostics) dan terapi (therapy) menggunakan teknologi nano. Ketua tim, Andi Sitti Nur Fatimah Madaeng, menjelaskan bahwa patch ini menawarkan solusi yang lebih efektif, aman, dan meminimalkan efek samping berat yang sering dialami pasien kanker.

 “Inovasi kami tentang nano theranostics kanker payudara yang dibuat dalam sediaan non-invasif, yakni transdermal patch 2-in-1,” ujar Andi Sitti Nur Fatimah Madaeng.

Kelebihan utama dari inovasi ini terletak pada komposisinya yang menggabungkan teknologi modern dengan kekayaan alam lokal. Patch ini dikembangkan menggunakan:

Nanopartikel Emas: Berfungsi sebagai agen diagnostik (agen kontras) yang membantu dalam deteksi dini kanker payudara.

Nanopartikel Ekstrak Tumbuhan Lokal: Berperan sebagai agen terapi antikanker yang memanfaatkan tanaman yang belum banyak dieksplorasi namun memiliki potensi besar sebagai antikanker. Salah satu tumbuhan yang digunakan adalah Bauhinia purpurea L.

Penggunaan ekstrak tumbuhan lokal menunjukkan komitmen tim untuk mencari solusi yang tidak hanya inovatif secara teknologi, tetapi juga memanfaatkan sumber daya alam Indonesia, membuka potensi besar bagi penelitian selanjutnya.

Tim yang sukses membawa Unhas meraih penghargaan nasional ini terdiri dari mahasiswa lintas program studi, menunjukkan kolaborasi ilmu pengetahuan yang solid. Tim diketuai Andi Sitti Nur Fatimah Madaeng (Pendidikan Dokter). Sedangkan anggota tim terdiri dari Kirana Angel Tandung (Pendidikan Dokter), Muh. Alif Rayhan Zulkarnain (Pendidikan Dokter), Alvaryo Liandy (Pendidikan Dokter), dan Sander Bunga (Kimia).

Kemenangan ini tidak hanya mengharumkan nama Unhas, tetapi juga memperkuat reputasi kampus dalam menghasilkan talenta muda unggul di bidang riset. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Prof. Drg. Muhammad Ruslin, menyampaikan apresiasinya.

Tim riset berharap inovasi TPNPAu-BPL (Transdermal Patch Nanopartikel Emas dan Bauhinia purpurea L.) ini dapat menjadi langkah awal pengembangan teknologi nanotheranostics lokal, dan yang paling penting, berkontribusi nyata dalam menurunkan angka kematian akibat kanker payudara di Indonesia.

Mengingat kanker payudara merupakan jenis kanker dengan prevalensi tertinggi kedua di Indonesia, inovasi non-invasif yang aman, efisien, dan terjangkau ini diharapkan dapat menjawab tantangan penemuan kasus yang sebagian besar masih ditemukan dalam stadium lanjut.

TPNPAu-BPL VS Pengobatan Kemoterapi

Inovasi TPNPAu-BPL dari mahasiswa Unhas menawarkan solusi yang secara radikal berbeda dan lebih unggul dibandingkan pengobatan kanker payudara konvensional, seperti kemoterapi sistemik. Keunggulan ini terletak pada kemampuannya untuk meminimalkan penderitaan pasien sambil memaksimalkan efektivitas pengobatan.

Berikut adalah perbandingan kunci yang menempatkan patch transdermal ini sebagai solusi cerdas:

1.Metode Pemberian (Invasivitas)

* TPNPAu-BPL (Unhas): Non-invasif. Pasien hanya perlu menempelkan patch pada kulit, tanpa rasa sakit.

* Pengobatan Konvensional: Sangat Invasif. Melibatkan prosedur seperti infus berkepanjangan, suntikan berulang, atau intervensi operasi yang memakan waktu.

2. Fungsi dan Efisiensi

* TPNPAu-BPL (Unhas): Fungsi 2-in-1—berperan sebagai alat Deteksi sekaligus Terapi dalam satu platform. Ini mempercepat penanganan dan diagnosis.

* Pengobatan Konvensional: Fungsi terpisah. Diperlukan Biopsi atau tes lain untuk deteksi, dan Infus (kemoterapi) untuk terapi.

3. Efek Samping dan Kenyamanan

* TPNPAu-BPL (Unhas): Efek samping minimal karena penyaluran obat dilakukan langsung dan bertarget pada area tumor.

* Pengobatan Konvensional: Efek samping parah. Karena zat kimia mengalir sistemik (ke seluruh tubuh), dapat menyebabkan rambut rontok, mual, muntah, hingga kerusakan organ vital.

4. Biaya dan Aksesibilitas

* TPNPAu-BPL (Unhas): Berpotensi lebih terjangkau dan mudah diakses setelah diproduksi massal.

* Pengobatan Konvensional: Sangat mahal dan sering memerlukan proses serta perawatan pendukung yang berulang.

5. Komposisi Zat Aktif

* TPNPAu-BPL (Unhas): Menggabungkan teknologi nano (nanopartikel) dengan potensi ekstrak tumbuhan lokal unik sebagai zat terapi.

* Pengobatan Konvensional: Umumnya menggunakan senyawa kimia sintetis.(*)

Inovasi ini membuka harapan baru yakni pengobatan kanker payudara yang efektif tidak lagi harus identik dengan rasa sakit, efek samping yang menyiksa, atau biaya yang mencekik.(*)

BACA JUGA: Melacak Jejak Kanker: Terobosan Biosensor Bertenaga AI dalam Diagnosis Paru-paru

Back to top button