
Amerika Serikat terlihat mulai kewalahan menghadapi intensitas serangan rudal Iran hingga terpaksa “menguras” pertahanan udara mereka di Korea Selatan. Ini menunjukkan betapa gentingnya stok amunisi pertahanan udara (interseptor) global saat ini.
JERNIH – Sistem pertahanan udara jarak jauh MIM-104 Patriot mulai dipersiapkan untuk penempatan ulang (redeployment) ke Timur Tengah. Langkah ini diambil seiring dengan kesulitan Amerika Serikat membendung gelombang serangan rudal Iran, sebagaimana dikonfirmasi oleh sumber pemerintah Korea Selatan kepada media lokal.
Pesawat angkut militer berat AS, kemungkinan jenis C-17 Strategic Airlifters, dilaporkan telah tiba di Pangkalan Angkatan Udara Osan di Korea Selatan untuk mengangkut sistem tersebut. Langkah darurat ini dilakukan Washington untuk memulihkan kemampuan pertahanan udara di kawasan Timur Tengah setelah berminggu-minggu terlibat dalam baku tembak rudal yang intens.
Laporan menyebutkan bahwa cadangan interseptor Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Timur Tengah telah terkuras habis. Penyusutan stok ini terjadi setelah perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari lalu, yang memicu serangan balasan masif dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terhadap aset militer AS dan target-target di Israel.
Bahkan sebelum perang ini pecah, inventaris pertahanan udara AS sudah berada dalam tekanan besar. Pada Juli 2025, laporan Pentagon menunjukkan bahwa pasokan rudal permukaan-ke-udara Patriot hanya tersisa 25% dari level yang dianggap perlu untuk kebutuhan operasional. Hal ini disebabkan oleh besarnya transfer bantuan militer ke Ukraina dan penggunaan berat dalam bentrokan dengan Iran awal tahun lalu.
Berbeda dengan Korea Selatan, Menteri Pertahanan Taiwan, Wellington Koo, menyatakan bahwa pemerintahnya belum menerima permintaan dari AS untuk menarik kembali peralatan tempur buatan AS yang ada di Taiwan.
Di sisi lain, Angkatan Udara Taiwan mengonfirmasi bahwa pesanan empat unit drone canggih MQ-9B “SkyGuardian” tetap berjalan sesuai jadwal dan tidak terpengaruh oleh konflik di Timur Tengah. Dua unit pertama diharapkan tiba akhir tahun ini untuk memperkuat pertahanan nasional Taiwan.
Gelombang ke-33 Operasi ‘True Promise 4’
Tadi malam, IRGC mengumumkan peluncuran gelombang ke-33 dari Operasi True Promise 4 dengan slogan: “Mengabdi padamu, wahai Khamenei.” Operasi ini menggunakan rudal berbahan bakar padat Khyber Shikan dengan hulu ledak seberat satu ton yang diklaim berhasil mengenai target secara presisi.
IRGC mengeklaim serangan tersebut menghantam Armada Kelima Angkatan Laut AS dan wilayah Tel Aviv—yang ditembus lebih dari sepuluh rudal. Meskipun ada sensor ketat dari militer Israel, rekaman video yang menunjukkan rudal menembus sistem pertahanan Iron Dome mulai beredar luas di media sosial.
Sebelumnya, pada 8 Maret, Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran mengumumkan bahwa pasukan mereka telah menghancurkan empat sistem radar THAAD milik Amerika Serikat. Radar-radar yang berlokasi di Al-Rubba, Al-Ruwais, Al-Kharj, dan Al-Azraq tersebut hancur dalam kurun waktu 24 jam. Radar-radar ini diketahui sebagai penyedia data pelacakan waktu nyata (real-time) bagi jaringan pertahanan rudal AS dan Israel.






