Emas Tak Lagi Terjangkau Bagi Pengantin di Asia Selatan, Perhiasan Imitasi Jadi Alternatif

JERNIH – Uzma Bashir (29) jarang bisa tidur nyenyak belakangan ini. Hampir setiap malam, ia terbangun bukan karena notifikasi pesan, melainkan untuk memeriksa grafik harga emas di ponselnya. Sebagai seorang akuntan di Srinagar, Kashmir, yang berpenghasilan kurang dari 100 dolar AS per bulan, Uzma sedang berkejaran dengan waktu menuju hari pernikahannya di musim panas mendatang.
Di Kashmir, emas bukan sekadar perhiasan. Ia adalah “paspor” martabat. “Emas menentukan bagaimana Anda akan diperlakukan di rumah mertua,” bisik Uzma pedih, mengutip laporan Al Jazeera. Namun, dengan harga emas yang melambung hingga rekor tertinggi tahun ini, impian untuk memiliki satu cincin asli pun terasa seperti pungguk merindukan bulan. Harga satu cincin kini setara dengan gajinya selama tiga bulan.
Fenomena ini bukan hanya milik Uzma. Di seantero Asia Selatan—mulai dari India, Pakistan, hingga Bangladesh—meroketnya harga logam mulia telah melahirkan tren baru yang ironis: Perhiasan Emas Satu Gram.
Emas telah lama menjadi perlindungan bagi pengantin wanita di Asia Selatan dari potensi pelecehan atau kekerasan oleh keluarga mertua yang menuntut mahar besar. Namun, ketika harga emas menyentuh angka $5.595 per ons pada awal tahun 2026, tradisi ini mulai retak.
Laporan World Gold Council mencatat penurunan permintaan emas di India sebesar 24 persen. Sebagai gantinya, pasar kini dibanjiri oleh perhiasan imitasi atau perhiasan berbahan logam biasa yang dilapisi lapisan tipis emas 24 karat—yang populer disebut “emas satu gram”.
“Bagi saya, ini adalah penyelamat,” kata Uzma. “Saya bisa memakainya di hari pernikahan, dan tidak akan ada orang yang menunjuk jari ke arah saya (karena miskin).”
Di New Delhi, Fatima Begum menyisir Pasar Karol Bagh yang riuh. Ibu lima anak ini sedang mencari perhiasan satu gram untuk putri bungsunya. Fatima mengenang saat ia menikah pada 1996, ayahnya mampu memberinya 60 gram emas murni. Kini, ia bahkan tak sanggup memberikan setengahnya.
“Saya berikan beberapa perhiasan lama saya dicampur dengan emas satu gram, agar putri saya tidak merasa malu di hari pernikahannya,” ujar Fatima.
Pemandangan serupa terlihat di Chawkbazar, Dhaka, Bangladesh. Sadia Islam, seorang calon pengantin, memilih imitasi bukan hanya karena harga, tapi juga keamanan. “Bagaimana jika emas asli saya dicuri saat pesta? Saya tidak bisa mengambil risiko itu,” katanya sambil memilih anting seharga 500 taka ($4).
Di Pakistan, situasinya bahkan lebih ekstrem. Harga emas mencapai 540.000 rupee per tola. Ayesha Khan, seorang pembeli di sana, menyebut bahwa perhiasan berlapis emas memungkinkan keluarga melestarikan penampilan tradisional tanpa harus bangkrut. Satu set perhiasan pengantin berlapis emas hanya berkisar $143, jauh dibanding emas asli yang bisa mencapai ribuan dolar.
Namun, bagi sebagian orang, “emas satu gram” bukanlah solusi. Rihanna Ashraf (40), seorang pengrajin sulam di Kashmir, masih melajang hingga kini. Banyak lamaran pernikahan untuknya gagal hanya karena ibunya yang janda tak mampu memenuhi tuntutan mahar emas dari pihak lelaki.
Bagi Rihanna, emas satu gram terasa palsu. “Apa manfaatnya? Itu tidak murni. Rasanya tidak otentik,” ujarnya ketir. Ia adalah satu dari 50.000 wanita di Srinagar yang dianggap “melewati usia menikah” karena hambatan finansial mahar emas.
Nisar Ahmad Bhat, seorang pemilik toko perhiasan di Srinagar, melihat adanya perubahan perilaku konsumen. Masyarakat mulai melihat emas murni murni sebagai instrumen investasi yang disimpan di brankas, sementara untuk urusan pamer di pesta pernikahan, perhiasan imitasi kini menjadi raja. Dunia mungkin melihat Asia Selatan tetap berkilau dalam pesta-pesta pernikahan megahnya. Namun, di balik kerlap-kerlip kalung berat yang melingkar di leher para pengantin, tersimpan rahasia kecil: lapisan tipis emas yang menutupi logam murah, sebuah siasat demi bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi dan tuntutan tradisi yang tak kenal ampun.






