Oikos

Rusia Buka Sekolah Drone untuk Anak-Anak

Di Rusia, anak-anak kini belajar merakit dan menerbangkan drone sejak bangku sekolah. Apa yang disebut sebagai “masa depan teknologi” seakan menyiapkan generasi muda Rusia untuk bersiap menghadapi perang masa depan.

JERNIH – Ketika Rusia mengumumkan pembukaan sekolah drone baru bernama Dobro i Nebo — yang berarti “Kebaikan dan Langit” — dunia melihat lebih dari sekadar inisiatif pendidikan teknologi. Di balik nama yang puitis, sekolah ini sejatinya merefleksikan bagaimana konflik modern merembes masuk ke ruang kelas, menata ulang makna pendidikan, dan menimbulkan pertanyaan moral yang tak mudah dijawab.

Menurut wali kota Krasnodar, Evgeny Naumov, sekolah ini akan mengajarkan murid-murid merakit serta menerbangkan drone, melatih mereka dengan printer 3D, simulator, hingga pesawat sungguhan. Instruksi pun diberikan langsung oleh personel militer. Seolah sejak dini anak-anak diposisikan bukan sekadar pelajar, melainkan calon operator sistem tempur masa depan.

Fenomena ini bukan insiden tunggal. Sejak 2024, ratusan sekolah dan puluhan perguruan tinggi di Rusia telah membuka program pelatihan UAV. Kementerian Pendidikan bahkan menyusun rencana ambisius: menyiapkan hingga satu juta spesialis drone pada 2030.

Buku teks resmi mengenai operasi UAV mulai diedarkan, guru-guru dilatih, dan pusat-pusat praktikum diperlengkapi dengan peralatan modern. Pendidikan yang dahulu dipersepsikan sebagai jalan menuju masa depan sipil, kini diarahkan untuk menopang infrastruktur militer.

Bagi pemerintah Rusia, narasi yang dibangun cukup meyakinkan: ini adalah investasi di bidang teknologi, sains, dan keterampilan kerja. Drone diposisikan sebagai simbol kemajuan, bukan semata instrumen perang.

Namun, bagi dunia luar, garis pemisah antara pendidikan sipil dan militer semakin kabur. Apalagi ketika laporan investigatif menunjukkan bahwa anak-anak tak hanya diajar teori, tetapi juga kadang dilibatkan dalam kompetisi, permainan edukatif, bahkan perakitan drone yang disebut-sebut digunakan di medan tempur.

Di titik inilah dilema etis menyeruak. Apakah benar “keterampilan masa depan” bisa diajarkan tanpa beban moral jika aplikasinya langsung berhubungan dengan konflik nyata? Bagaimana memastikan perlindungan anak ketika kurikulum sekolah justru dirancang agar menyuplai tenaga terampil ke industri pertahanan? Amnesty International dan berbagai pengamat HAM mengingatkan, praktik semacam ini berpotensi melanggar prinsip konvensi internasional tentang hak anak dalam situasi perang.

Namun juga tak bisa menutup mata terhadap realitas geopolitik. Perang Rusia–Ukraina telah menjadi perang drone. Produksi dan penggunaan UAV meningkat tajam, dengan efek langsung terhadap strategi militer di lapangan.

Dalam kacamata pemerintah Rusia, menyiapkan generasi muda dengan keterampilan UAV sama pentingnya dengan menyiapkan insinyur atau dokter. Teknologi ini dipandang bukan hanya alat perang, melainkan sektor pekerjaan baru yang menjanjikan.

Dobro i Nebo menunjukkan paradoks itu dengan jelas: nama “Kebaikan dan Langit” membawa citra positif, tetapi substansinya terkait erat dengan strategi perang.

Di masa depan, mungkin generasi muda Rusia akan tumbuh dengan keterampilan teknologi yang mumpuni. Tetapi di balik itu, mereka juga membawa beban moral: keterampilan yang lahir dari kelas-kelas sekolah, pada akhirnya, bisa berarti memperpanjang perang.(*)

BACA JUGA: Rusia Meluncurkan Cincin Pintar Pertama yang Didukung Kecerdasan Buatan

Back to top button